SBY Bicara Masa Depan Demokrasi dan Politik Indonesia di Cikeas
Di tengah dinamika politik nasional yang kian kompleks, Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, membuka ruang dialog eksklusif dari kediaman pribadinya di Puri Cikeas, Bogor. Pada ...
Di tengah dinamika politik nasional yang kian kompleks, Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, membuka ruang dialog eksklusif dari kediaman pribadinya di Puri Cikeas, Bogor. Pada Jumat, 21 Februari 2025, sosok yang akrab disapa SBY itu menerima tim media untuk berbincang secara mendalam tentang berbagai isu strategis yang sedang dihadapi bangsa. Pertemuan tersebut bukan sekadar wawancara biasa, melainkan sebuah refleksi seorang negarawan yang mengamati perjalanan republik dari perspektif panjang pengalamannya.
SBY hadir dengan ketenangan khasnya—busana batik sederhana dan sorot mata yang tetap tajam di usia senja. Lebih dari satu jam, ia memaparkan pandangan tanpa tedeng aling-aling, mulai dari kualitas demokrasi, tantangan regenerasi kepemimpinan, hingga ancaman polarisasi yang terus menghantui masyarakat. Semua disampaikan dengan nada datar namun sarat makna, menunjukkan bahwa meski tak lagi menjabat, perhatiannya pada negeri ini tak pernah luntur.
Demokrasi Harus Dirawat dengan Keteladanan
Ketika ditanya tentang kondisi demokrasi Indonesia saat ini, SBY tak segan mengingatkan bahwa sistem tersebut bukanlah mesin otomatis yang bisa berjalan sendiri. "Demokrasi membutuhkan perawatan konstan, seperti taman yang harus disiram setiap hari," ujarnya. Ia menyoroti fenomena di mana kebebasan berekspresi kadang disalahgunakan untuk menyebar kebencian dan hoaks, yang justru menggerus esensi demokrasi itu sendiri. Menurutnya, partisipasi publik yang sehat harus dibarengi dengan literasi digital yang memadai agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.
SBY mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali menghidupkan budaya dialog yang santun. Ia menekankan bahwa di era keterbukaan ini, musuh terbesar demokrasi bukanlah otoritarianisme, melainkan ketidakmampuan kita mengelola perbedaan. "Perbedaan pilihan politik adalah keniscayaan, tetapi permusuhan adalah pilihan—dan kita harus tegas menolaknya," tegasnya. Pesan ini terasa relevan mengingat masih hangatnya suhu politik pasca-Pemilu 2024 yang sempat memecah belah banyak kalangan.
Tantangan Regenerasi dan Kualitas Pemimpin
Pembicaraan beralih pada isu kepemimpinan nasional ke depan. SBY mengamati bahwa meski regenerasi telah berjalan secara prosedural, kualitas pemimpin yang lahir dari proses demokrasi belum sepenuhnya memenuhi harapan. Ia tidak menyebut nama atau pihak tertentu, namun menyentil pentingnya rekam jejak dan integritas. "Kita memerlukan pemimpin yang tidak hanya populer, tetapi juga memiliki kompetensi, visi kenegarawanan, dan keberanian mengambil keputusan sulit demi kepentingan rakyat," katanya.
Ia juga menyayangkan tren politik transaksional yang dinilai makin mengakar. Menurutnya, biaya politik yang tinggi telah membuka celah bagi praktik korupsi serta menyempitkan peluang bagi figur-figur potensial yang bersih. SBY mendorong partai politik untuk menjadi mesin kaderisasi yang efektif, bukan sekadar kendaraan kekuasaan. "Partai harus kembali ke khittah sebagai sekolah politik, tempat mencetak pemimpin yang berintegritas," imbuhnya.
Menimbang Ancaman Polarisation dan Kesenjangan Sosial
SBY turut menyoroti polarisasi yang masih menjadi luka menganga dalam kehidupan berbangsa. Ia mengakui bahwa kemajuan teknologi informasi, meski membawa banyak manfaat, juga mempercepat penyebaran narasi yang memecah belah. "Kita tidak boleh membiarkan algoritma menentukan nasib persatuan kita," ujarnya, merujuk pada cara media sosial kerap memperkuat bias dan menciptakan ruang gema yang berbahaya.
Di luar politik, mantan Presiden itu juga menyentuh soal ketimpangan ekonomi. Ia mengingatkan bahwa stabilitas nasional tidak hanya ditentukan oleh demokrasi prosedural, tetapi juga oleh keadilan sosial yang nyata. Program-program pengentasan kemiskinan dan pemerataan pembangunan, menurutnya, harus tetap menjadi prioritas utama pemerintah. "Jika kesenjangan dibiarkan melebar, maka demokrasi hanya akan menjadi panggung sandiwara bagi rakyat kecil," tuturnya.
Pesan untuk Generasi Muda: Ambil Peran, Jangan Diam
Di penghujung perbincangan, SBY menyempatkan diri menyampaikan pesan khusus kepada kaum muda. Ia melihat generasi sekarang memiliki keunggulan dalam hal akses informasi dan jaringan global yang belum pernah dimiliki generasi sebelumnya. Namun, ia mengingatkan agar kemudahan itu tidak membuat mereka terlena. "Jangan hanya menjadi penonton perubahan; jadilah pelaku," katanya dengan intonasi penuh semangat. Ia mendorong anak-anak muda untuk berani memasuki ruang-ruang publik, bukan hanya sebagai aktivis media sosial, tapi juga sebagai pengambil kebijakan di masa depan.
SBY menutup wawancara dengan secercah optimisme. Ia mengaku masih percaya bahwa Indonesia akan menemukan jalannya, sebagaimana bangsa ini berulang kali lolos dari ujian berat sepanjang sejarah. "Kita ini bangsa besar; tantangan selalu ada, tetapi ketangguhan kita selalu teruji," pungkasnya sambil tersenyum. Wawancara tersebut meninggalkan kesan mendalam tentang seorang pemimpin yang telah selesai dengan jabatan, namun belum selesai dengan panggilan hati untuk terus menjaga republik.
Baca juga:
Comments (0)