Laksamana Sukardi Ungkap Kunci Keberhasilan BUMN Era Digital

Jakarta - Sosok Laksamana Sukardi kembali menarik perhatian publik melalui pemaparan pandangannya tentang masa depan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di tengah arus transformasi digital. Dalam sebuah f...

Jul 12, 2026 - 12:47
0 0
Laksamana Sukardi Ungkap Kunci Keberhasilan BUMN Era Digital

Jakarta - Sosok Laksamana Sukardi kembali menarik perhatian publik melalui pemaparan pandangannya tentang masa depan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di tengah arus transformasi digital. Dalam sebuah forum ekonomi nasional yang digelar di Jakarta, Rabu (15/10/2025), mantan Menteri BUMN era Kabinet Gotong Royong ini secara lugas mengupas strategi fundamental yang dinilainya krusial bagi keberlanjutan perusahaan pelat merah di era disrupsi teknologi.

Karier Panjang di Politik dan Pemerintahan

Laksamana Sukardi bukanlah nama asing di dunia politik Indonesia. Mengawali kiprahnya sebagai aktivis dan politisi, ia telah mencatatkan jejak yang panjang di legislatif dan eksekutif. Pria kelahiran 1 Oktober 1956 ini pernah menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sekaligus Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari fraksi PDI Perjuangan. Puncak karier eksekutifnya terjadi ketika ia dipercaya memimpin Kementerian BUMN pada periode 2001 hingga 2004 di bawah kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Sebelum menduduki posisi menteri, Laksamana telah aktif dalam berbagai komisi di DPR yang membidangi ekonomi dan keuangan. Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya yang mendalam tentang seluk-beluk tata kelola perusahaan negara. Semasa menjabat, ia dikenal sebagai figur yang vokal dalam mendorong restrukturisasi dan privatisasi sejumlah BUMN strategis, sebuah langkah yang menuai pro dan kontra, namun tetap menjadi bagian penting dari sejarah reformasi BUMN di Indonesia.

Pandangan tentang BUMN Modern

Dalam paparannya, Laksamana menekankan bahwa keberhasilan BUMN di era digital tidak lagi semata-mata bergantung pada suntikan modal dari negara, melainkan pada kualitas tata kelola dan kecepatan adaptasi terhadap teknologi. "Korporasi milik negara harus berani keluar dari zona nyaman birokrasi. Digitalisasi bukan hanya tentang membeli perangkat lunak, melainkan merombak total pola pikir dan budaya kerja," ucapnya dengan nada tegas.

Ia menyoroti sejumlah BUMN yang telah berhasil melakukan lompatan kinerja setelah mengadopsi sistem digital secara menyeluruh. Menurutnya, transformasi digital harus mencakup tiga pilar utama: efisiensi proses internal, transparansi data yang dapat diakses publik, dan pendekatan layanan yang berpusat pada pelanggan. Tanpa ketiga elemen ini, BUMN dinilainya hanya akan menjadi beban fiskal yang semakin berat di masa depan.

Lebih jauh, Laksamana yang kini lebih banyak berkiprah sebagai pengamat dan penasihat di sejumlah lembaga riset, mengkritisi kecenderungan sebagian BUMN yang masih terjebak dalam sistem rekrutmen berbasis koneksi politik. Ia menegaskan bahwa profesionalisme harus menjadi syarat mutlak. "Tanpa meritokrasi, tidak akan ada inovasi. Tanpa inovasi, BUMN akan mati dan dilindas oleh kompetitor swasta yang jauh lebih lincah," katanya.

Tantangan dan Peluang di Depan Mata

Forum yang juga dihadiri oleh sejumlah direktur BUMN itu menjadi ajang diskusi interaktif. Laksamana memaparkan data bahwa kontribusi BUMN terhadap produk domestik bruto masih fluktuatif, dan perlu ditingkatkan melalui sektor-sektor berbasis teknologi seperti telekomunikasi, energi terbarukan, dan logistik pintar. Ia mengapresiasi langkah Kementerian BUMN saat ini yang mulai membentuk holding-holding perusahaan berdasarkan klaster industri. Namun, ia mengingatkan bahwa pembentukan holding tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan harmonisasi sistem teknologi informasi antar anak perusahaan.

Salah satu tantangan terbesar yang disebutkan Laksamana adalah resistensi internal terhadap perubahan. Ia mencontohkan pengalamannya kala memimpin kementerian, di mana upaya penggabungan beberapa perusahaan seringkali terhambat oleh ego sektoral dan kekhawatiran pegawai akan kehilangan status quo. "Hal ini masih relevan hingga kini. Pemimpin yang ditunjuk harus memiliki nyali untuk melakukan restrukturisasi total, meski risikonya sangat tinggi," imbuhnya.

Di sisi lain, peluang bagi BUMN untuk menjadi juara di kancah regional sangat besar. Dengan populasi muda yang melek digital dan pasar domestik yang kokoh, BUMN memiliki basis konsumen yang tidak dimiliki oleh negara lain. Laksamana berpesan agar perusahaan-perusahaan negara segera membangun kapabilitas analitik data (big data analytics) dan membuka ruang kolaborasi dengan perusahaan rintisan (startup) untuk menciptakan solusi-solusi inovatif.

Pada penghujung sesi, Laksamana Sukardi kembali menekankan bahwa masa depan BUMN ditentukan oleh keberanian melakukan perubahan sekarang, bukan oleh warisan kejayaan masa lalu. Pesan ini menjadi penutup yang mengundang tepuk tangan panjang dari hadirin. Kehadiran dan pemikiran mantan menteri tersebut menegaskan bahwa suara para tokoh senior tetap relevan dan dibutuhkan dalam merumuskan arah kebijakan ekonomi nasional.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User