Rulinawaty Kasmad, Akademisi yang Pimpin Bidang HAM KemenHAM Jakarta

Seorang perempuan dengan dua peran strategis kini menjadi sorotan. Rulinawaty Kasmad bukan hanya dikenal sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), tetapi juga menjabat sebagai Kepala Bi...

Jul 12, 2026 - 12:37
0 0
Rulinawaty Kasmad, Akademisi yang Pimpin Bidang HAM KemenHAM Jakarta

Seorang perempuan dengan dua peran strategis kini menjadi sorotan. Rulinawaty Kasmad bukan hanya dikenal sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), tetapi juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pelayanan dan Kepatuhan Hak Asasi Manusia (HAM) di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (KemenHAM) DKI Jakarta. Dualisme peran ini menempatkannya pada posisi unik, menjadi jembatan antara dunia akademik dan praktik birokrasi yang semakin krusial dalam upaya penegakan HAM di ibu kota.

Kiprah Akademis di Universitas Muhammadiyah Jakarta

Sebagai dosen, Rulinawaty telah lama berkecimpung dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya yang berkaitan dengan hukum, tata kelola pemerintahan, atau ilmu administrasi. Di UMJ, ia berperan dalam mencetak generasi mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap isu-isu HAM. Pengalamannya mengajar memberinya dasar teoritis yang kuat tentang bagaimana seharusnya negara melindungi hak-hak dasar warga, mulai dari hak sipil, politik, hingga hak ekonomi dan sosial. Keterlibatannya dalam berbagai penelitian dan pengabdian masyarakat di universitas turut memperkaya perspektifnya tentang kompleksitas masalah HAM di lapangan.

Mengemban Tugas di KemenHAM DKI Jakarta

Di sisi lain, jabatannya sebagai Kepala Bidang Pelayanan dan Kepatuhan HAM di Kanwil KemenHAM Jakarta membawanya langsung ke garda depan pelayanan publik. Tanggung jawabnya meliputi pengawasan pemenuhan HAM oleh pemerintah daerah, penanganan pengaduan masyarakat, serta pendampingan terhadap kelompok rentan. Bidang ini juga memantau kepatuhan instansi terhadap standar pelayanan publik yang berperspektif HAM. Dalam praktiknya, Rulinawaty harus memastikan bahwa setiap kebijakan di Jakarta tidak mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi, terutama bagi warga yang sering termarginalkan seperti penyandang disabilitas, anak-anak, atau kaum miskin kota. Posisinya mengharuskannya memiliki pemahaman mendalam tentang regulasi sekaligus kemampuan negosiasi yang tinggi.

Sinergi Teori dan Praktik

Keunikan sosok Rulinawaty terletak pada kemampuannya mentransformasikan pengetahuan akademik menjadi tindakan nyata. Di ruang kuliah, ia tak jarang mengangkat kasus-kasus riil yang ia tangani sebagai contoh studi. Sebaliknya, pendekatan ilmiah yang ia terapkan di kampus membantunya merumuskan kebijakan yang lebih berbasis data dan analisis. Hal ini membuat pelayanan HAM di Jakarta terasa lebih progresif, karena tidak hanya bersandar pada prosedur administratif semata, melainkan juga pada pemahaman holistik tentang hak asasi sebagaimana diajarkan di universitas. Keterpaduan ini menjadi contoh ideal tentang bagaimana seorang birokrat seharusnya bekerja: tidak terpaku pada aturan, tetapi juga memahami filosofi di baliknya.

Dampak Terhadap Pelayanan Publik

Di bawah kepemimpinan Rulinawaty, Bidang Pelayanan dan Kepatuhan HAM Kanwil KemenHAM Jakarta terus mendorong inovasi. Misalnya, pelibatan aktif masyarakat sipil dalam pengawasan HAM menjadi salah satu prioritas. Ia juga gencar melakukan sosialisasi tentang standar pelayanan minimal yang harus diterima warga. Pendekatan partisipatif ini semakin diperkuat oleh jejaring akademisinya, di mana mahasiswa UMJ kerap dilibatkan dalam program magang atau riset lapangan yang berhubungan dengan kepatuhan HAM. Hasilnya, kesadaran warga Jakarta akan hak-hak mereka meningkat, dan aparat pemerintah pun lebih tertib dalam memenuhi kewajiban HAM.

Tantangan Dua Peran

Tentu mengemban dua amanah besar bukanlah tanpa hambatan. Waktu dan energi menjadi komoditas paling berharga. Namun, Rulinawaty tampaknya tahu cara membagi fokus. Banyak pihak menilainya sebagai sosok yang disiplin dan terstruktur. Kedisiplinan inilah yang memungkinkannya tetap produktif menulis jurnal ilmiah sambil menangani aduan masyarakat setiap hari. Keteguhannya menjalankan kedua peran juga memberikan pesan kuat bahwa pegawai negeri sipil tidak boleh berhenti belajar, dan sebaliknya, akademisi tidak boleh hanya berkutat di menara gading. Profesionalisme ganda seperti ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda yang bercita-cita menjadi abdi negara sekaligus pendidik.

Latar Belakang dan Kiprah Lain

Meski detail perjalanan kariernya masih jarang terekspos media secara luas, rekam jejak Rulinawaty sebagai dosen dan pejabat mencerminkan konsistensinya di jalur hukum dan administrasi. Kesehariannya yang terbagi antara mengajar di kampus dan memimpin rapat koordinasi di kantor wilayah membentuk karakter kepemimpinan yang adaptif. Ia paham betul bahasa akademik maupun birokrasi, sehingga mampu menjadi komunikator ulung antara pemerintah dan masyarakat. Hal ini semakin relevan di era keterbukaan informasi, di mana setiap kebijakan harus dijelaskan secara transparan kepada publik.

Harapan ke Depan

Ke depan, lewat tangan dingin Rulinawaty, diharapkan sinergi antara KemenHAM Jakarta dan dunia pendidikan tinggi bisa semakin solid. Program-program yang lahir dari kolaborasi kedua institusi ini diyakini akan lebih tajam dan membumi. Bukan tidak mungkin, UMJ dan KemenHAM akan sering menggelar seminar, pelatihan, atau klinik HAM bersama, yang tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga bagi warga Jakarta secara keseluruhan. Rulinawaty Kasmad adalah bukti nyata bahwa profesionalisme tidak dibatasi oleh sekat kelembagaan; justru ketika dua dunia itu bertemu, di sanalah lahir pelayanan publik yang berkeadilan dan beradab.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User