Mubasyier Fatah, Ahli Siber yang Kini Pimpin Keuangan PP ISNU
Transformasi digital di tubuh Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) memasuki babak baru. Organisasi yang mewadahi kaum intelektual nahdliyin itu kini menempatkan sosok dengan latar belakang teknologi tinggi ...
Transformasi digital di tubuh Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) memasuki babak baru. Organisasi yang mewadahi kaum intelektual nahdliyin itu kini menempatkan sosok dengan latar belakang teknologi tinggi di posisi strategis pengelolaan keuangan. Mubasyier Fatah, seorang praktisi keamanan siber berpengalaman, resmi mengemban amanah sebagai Bendahara Umum Pimpinan Pusat ISNU. Kehadirannya diharapkan tidak hanya memodernisasi sistem administrasi, tetapi juga membentengi aset organisasi dari ancaman era digital.
Profil Singkat dan Latar Belakang
Mubasyier Fatah bukan nama asing di dunia keamanan informasi. Kariernya di bidang siber mencakup pendampingan berbagai lembaga pemerintah dan swasta dalam merancang sistem perlindungan data. Keahliannya meliputi analisis kerentanan, penanganan insiden, hingga strategi mitigasi risiko digital. Sebelum bergabung dalam struktur PP ISNU, ia aktif memberikan pelatihan literasi siber bagi komunitas pesantren dan kampus-kampus NU. Perpaduan antara kompetensi teknis tinggi dan pemahaman mendalam tentang kultur nahdliyin menjadi modal berharga dalam peran barunya.
Sebagai bendahara umum, Fatah tidak akan bekerja dalam paradigma lama yang hanya bertumpu pada pencatatan manual. Visinya adalah menghadirkan transparansi dan akuntabilitas keuangan melalui pemanfaatan aplikasi terintegrasi. “Keuangan organisasi harus bisa diaudit secara real-time oleh siapa saja yang berhak. Teknologi memungkinkan itu,” ujarnya dalam sebuah diskusi internal. Langkah itu sejalan dengan tuntutan zaman di mana donasi dan zakat semakin banyak mengalir lewat platform digital, sehingga pengelolaan harus berstandar profesional.
Ancaman Siber Mengintai Organisasi Keagamaan
Penunjukan Mubasyier Fatah juga merupakan respons atas meningkatnya serangan siber yang menyasar lembaga keagamaan. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat, sepanjang 2022–2023 terjadi kenaikan signifikan percobaan peretasan terhadap situs-situs ormas Islam. Motifnya bervariasi, mulai dari pencurian data donatur, penyebaran propaganda, hingga penguasaan akun media sosial resmi. Kasus pembobolan dompet digital milik sejumlah yayasan menjadi alarm keras bahwa entitas sosial-keagamaan tidak kebal terhadap kejahatan dunia maya.
Fatah menilai, banyak organisasi masih menganggap enteng aspek keamanan digital. “Mereka lebih fokus pada program aksi, lupa bahwa data donatur dan laporan keuangan adalah aset yang harus dilindungi,” katanya. Ia menekankan pentingnya pelatihan rutin bagi para pengurus, terutama yang mengelola akses masuk ke sistem. Tanpa kesadaran kolektif, secanggih apa pun teknologi yang diadopsi akan sia-sia. Oleh karena itu, di bawah arahannya PP ISNU berencana meluncurkan modul keamanan siber sederhana yang bisa diterapkan oleh cabang hingga ke tingkat wilayah.
Sinergi Teknologi dan Keuangan Organisasi
Salah satu terobosan yang digagas adalah penggunaan blockchain untuk pencatatan transaksi donasi. Teknologi buku besar terdistribusi itu menawarkan tingkat transparansi tinggi karena setiap aliran dana tercatat permanen dan tidak bisa dimanipulasi sepihak. Meski terdengar ambisius, Fatah yakin ISNU bisa menjadi pelopor tata kelola keuangan modern di kalangan organisasi kemasyarakatan. “Kita tidak perlu menunggu menjadi besar untuk menerapkan standar tinggi. Justru dari sejak awal kita biasakan, agar kepercayaan publik tumbuh,” tambahnya.
Selain blockchain, pengembangan portal keanggotaan yang terhubung dengan database terpusat juga menjadi prioritas. Selama ini, pendataan anggota ISNU masih terkotak-kotak dan sering menyebabkan perbedaan angka. Dengan sistem yang diintegrasikan, perhitungan iuran dan hak suara dalam setiap musyawarah bisa berjalan lebih objektif. Fatah meyakini digitalisasi administrasi akan memangkas potensi sengketa internal sekaligus mempercepat proses pengambilan keputusan.
Tentu saja, semua rencana itu membutuhkan investasi sumber daya manusia. Fatah menyiapkan kurikulum singkat bagi pengurus inti dan mengundang para pakar teknologi informasi untuk berbagi praktik terbaik. Ia tidak ingin perubahan ini hanya bergantung pada dirinya. “Target saya adalah dalam dua tahun, setidaknya 60 persen pengurus di wilayah sudah mampu mengoperasikan sistem dengan baik dan paham risiko siber,” ungkapnya.
Respon dan Harapan
Internal PP ISNU menyambut positif penempatan Fatah. Ketua Umum PP ISNU menyebut kombinasi kemampuan teknis dan pemahaman nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang dimiliki Fatah adalah jawaban atas kebutuhan zaman. Dukungan juga datang dari kalangan profesional NU yang bergerak di bidang teknologi. Mereka siap berkontribusi sebagai relawan pembangunan infrastruktur digital organisasi.
Dari sisi eksternal, langkah ini dinilai akan memperkuat kredibilitas ISNU di mata mitra global. Organisasi non-pemerintah internasional sering menjadikan transparansi keuangan sebagai syarat kerja sama. Dengan track record Fatah di dunia siber, diharapkan tidak ada lagi celah yang bisa dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk menggerogoti kepercayaan tersebut.
Perjalanan Mubasyier Fatah sebagai bendahara umum yang juga seorang praktisi keamanan siber menjadi eksperimen sosial yang menarik. Jika berhasil, model kepemimpinan hibrida ini bisa direplikasi oleh organisasi nahdliyin lainnya, mulai dari Muslimat, Ansor, hingga lembaga pendidikan ma'arif. Dunia berubah dengan cepat, dan ISNU memilih untuk tidak hanya mengikuti, tetapi menyalakan kompasnya sendiri menuju tata kelola yang aman, transparan, dan akuntabel.
Baca juga:
Comments (0)