IHSG Menguat di Awal Ramadan dan Perdagangan 10 September
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan kinerja positif dengan penguatan yang terjadi pada dua momentum berbeda, yaitu pada awal Ramadan 144
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan kinerja positif dengan penguatan yang terjadi pada dua momentum berbeda, yaitu pada awal Ramadan 1445 H yang jatuh pada Rabu, 13 Maret 2024 dan pada Rabu, 10 September 2025. Kedua momen ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih memiliki daya tahan di tengah berbagai dinamika global dan domestik, serta memberikan sinyal optimisme bagi para investor.
Kronologi Penguatan IHSG
Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, IHSG mengalami fluktuasi yang cukup dinamis. Namun, dalam dua peristiwa yang menjadi sorotan, indeks berhasil ditutup di zona hijau, menandakan adanya sentimen positif yang mendorong aksi beli pelaku pasar.
Rabu, 13 Maret 2024 – Awal Ramadan 1445 H
Pada hari pertama bulan suci Ramadan tahun 2024, IHSG berhasil ditutup menguat. Berdasarkan data historis Bursa Efek Indonesia, indeks tercatat naik 27,57 poin atau setara dengan 0,37% ke level 7.381,91 dari posisi sebelumnya di 7.354,34. Aktivitas di lantai bursa terpantau ramai, seperti yang terekam dalam foto para karyawan PT Bursa Efek Indonesia yang tetap produktif meski menjalankan ibadah puasa.
“Awal Ramadan seringkali membawa sentimen positif karena meningkatnya konsumsi domestik dan ekspektasi perbaikan ekonomi, sehingga mendorong investor untuk masuk ke pasar,” ujar seorang analis dari salah satu sekuritas terkemuka di Jakarta.
Beberapa sektor yang menjadi motor penguatan saat itu antara lain sektor konsumsi, perbankan, dan infrastruktur. Sentimen Ramadan yang identik dengan peningkatan belanja masyarakat diyakini menjadi katalis utama yang mendorong kenaikan indeks.
Rabu, 10 September 2025 – Perdagangan Tengah Pekan
Lebih dari satu tahun berselang, tepatnya pada 10 September 2025, IHSG kembali menutup perdagangan dengan penguatan yang lebih signifikan. Indeks naik 70,402 poin atau 0,92% ke posisi 7.699,007 dari penutupan hari sebelumnya di level 7.626,605. Kenaikan ini merupakan salah satu yang tertinggi dalam beberapa pekan terakhir dan didukung oleh volume transaksi yang besar.
Data perdagangan menunjukkan bahwa investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) yang cukup besar, menandakan kembalinya kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia. Selain itu, penguatan rupiah terhadap dolar AS turut memberikan angin segar bagi indeks.
Perbandingan Data Penguatan IHSG
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut perbandingan data penguatan IHSG pada dua momen tersebut:
| Tanggal | Penutupan | Perubahan Poin | Persentase |
|---|---|---|---|
| Rabu, 13 Maret 2024 | 7.381,91 | +27,57 | +0,37% |
| Rabu, 10 September 2025 | 7.699,007 | +70,402 | +0,92% |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa penguatan pada September 2025 lebih besar secara poin maupun persentase, menunjukkan adanya akselerasi momentum positif yang lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya.
Faktor-Faktor Pendorong Penguatan
Beberapa faktor yang mendorong IHSG mengalami penguatan pada kedua momen tersebut antara lain:
- Sentimen Ramadan: Bulan Ramadan selalu dikaitkan dengan peningkatan konsumsi dan aktivitas ekonomi, yang berdampak positif pada kinerja emiten sektor ritel, makanan-minuman, dan perbankan.
- Stabilitas Ekonomi Domestik: Data inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan neraca perdagangan Indonesia yang relatif stabil memberikan kepercayaan kepada investor.
- Kebijakan Moneter: Bank Indonesia yang cenderung mempertahankan suku bunga atau memberikan sinyal dovish membantu menjaga likuiditas pasar.
- Arus Modal Asing: Masuknya dana asing, terutama pada September 2025, menjadi katalis penting yang mendorong indeks ke level yang lebih tinggi.
- Penguatan Rupiah: Mata uang yang stabil atau menguat membuat aset rupiah lebih menarik bagi investor asing.
Proyeksi ke Depan
Dengan pola penguatan yang terjadi di dua periode berbeda, analis memperkirakan IHSG masih memiliki potensi untuk melanjutkan tren positif, terutama jika didukung oleh fundamental ekonomi yang solid dan sentimen global yang kondusif. Sejumlah target ambisius pun dipasang, dengan level 7.800—8.000 diyakini bisa tercapai pada akhir tahun 2025.
Namun, investor tetap diimbau untuk waspada terhadap potensi koreksi, terutama yang dipicu oleh faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik, atau perubahan harga komoditas global. Diversifikasi portofolio tetap menjadi kunci dalam menghadapi volatilitas pasar yang mungkin terjadi sewaktu-waktu.
Dengan demikian, dua momen penguatan IHSG—awal Ramadan 2024 dan perdagangan 10 September 2025—menjadi cerminan bahwa pasar saham Indonesia memiliki fondasi yang cukup kuat untuk terus melaju di tengah tantangan, memberikan harapan bagi para pelaku pasar dan masyarakat pada umumnya.
[SOCIAL_TWEET]: IHSG kembali membukukan penguatan, kali ini pada perdagangan Rabu (10/9) melonjak 0,92% ke 7.699. Tren positif serupa juga terjadi saat awal Ramadan 2024. Pasar modal Indonesia terus optimis! #IHSG #Saham #PasarModal #EkonomiRI[SOCIAL_TG]: 📈 IHSG menguat! Hari ini (10/9) naik 0,92% ke 7.699, mengulang momen positif awal Ramadan 2024. Baca selengkapnya.
Comments (0)