Airlangga Tinjau Bendungan Meninting, Dorong Ketahanan Air Nasional
Di tengah upaya pemerintah memacu percepatan infrastruktur strategis, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambangi salah satu pro
Di tengah upaya pemerintah memacu percepatan infrastruktur strategis, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambangi salah satu proyek vital nasional di Pulau Lombok. Pada Selasa (9/6/2026), Airlangga melakukan kunjungan langsung ke Bendungan Meninting yang berlokasi di Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kunjungan ini tidak sekadar inspeksi rutin, tetapi juga menegaskan bahwa pemerintah menempatkan ketahanan air dan pangan sebagai salah satu pilar utama transformasi ekonomi daerah.
Mentari pagi baru saja naik ketika rombongan Menko tiba di area konstruksi bendungan. Debu tipis masih beterbangan, suara alat berat meraung-raung membongkar tanah perbukitan. Di belakangnya, bentang alam perbukitan hijau menjadi saksi bisu bagaimana proyek yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini perlahan mengubah wajah Lombok Barat. Dengan kapasitas tampung mencapai 12,8 juta meter kubik air, Bendungan Meninting dirancang tidak hanya untuk mengairi area irigasi seluas 1.560 hektare, tetapi juga menjadi sumber air baku, pengendali banjir, dan bahkan berpotensi sebagai destinasi wisata serta pembangkit listrik mikrohidro.
Proyek Strategis dengan Dampak Multisektor
Dalam keterangannya, Airlangga menekankan bahwa keberadaan bendungan ini merupakan bagian integral dari program Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digenjot sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo. “Bendungan Meninting menjadi jawaban konkret atas tantangan ketersediaan air di NTB yang kerap dilanda kekeringan saat musim kemarau. Ini bukan sekadar beton dan air, tapi fondasi ekonomi kerakyatan,” ujar Airlangga dengan nada penuh keyakinan. Pernyataan ini menggema di antara para pejabat daerah dan kontraktor yang hadir, menciptakan aura optimisme di tengah keterbatasan infrastruktur kawasan timur Indonesia.
“Dengan tambahan suplai air yang stabil, kami perkirakan indeks pertanaman padi di Lombok Barat bisa naik dari 1,5 menjadi 2,5 kali dalam setahun. Artinya, pendapatan petani punya potensi melonjak signifikan.” — Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian
Data dari Kementerian PUPR menunjukkan bahwa konstruksi bendungan ini menelan biaya sekitar Rp1,4 triliun dan ditargetkan selesai pada akhir 2026. Saat ini progres fisik telah mencapai 82 persen, dengan pengerjaan akhir pada tubuh bendungan utama serta jaringan irigasi primer. Begitu impounding (pengisian air) dilakukan, bendungan ini akan melayani sedikitnya 5.000 rumah tangga petani dan menyediakan air baku untuk wilayah Lombok Barat hingga Kota Mataram dengan debit 350 liter per detik.
Dampak Ekonomi dan Lapangan Kerja
Tak hanya irigasi, Airlangga menyoroti efek domino dari proyek ini terhadap penciptaan lapangan kerja. Sejak groundbreaking, Bendungan Meninting telah menyerap 1.200 tenaga kerja lokal pada masa konstruksi. Ke depan, operasional dan pemeliharaan bendungan diproyeksikan membuka 150 lapangan kerja tetap, ditambah potensi ekonomi dari sektor wisata bahari buatan dan perikanan darat yang bisa dikembangkan warga sekitar waduk. “Ini adalah wujud pembangunan yang inklusif. Rakyat sekitar bukan sekadar penonton, tapi aktor utama yang menikmati hasilnya,” tambah Airlangga.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) NTB, I Gusti Putu Darsana, yang mendampingi Menko, memaparkan bahwa bendungan ini menggunakan teknologi inti tanah zonal dengan sistem pengelolaan air berbasis digital. “Sistem SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) memungkinkan pintu air beroperasi otomatis menyesuaikan debit dan kebutuhan irigasi. Ini langkah modernisasi yang akan menjadi percontohan untuk bendungan-bendungan kecil lain di NTB,” jelasnya.
Kehadiran bendungan ini juga disambut gembira oleh masyarakat setempat. Martono, Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki Desa Bukit Tinggi, mengaku sudah tidak sabar menikmati air limpahan. “Selama ini kami andalkan sumur pompa dan tadah hujan. Kalau kemarau panjang, sawah kering kerontang, terpaksa jadi buruh di kota. Bendungan ini seperti mimpi yang jadi nyata,” ungkapnya penuh haru.
Tantangan dan Langkah Antisipasi
Airlangga juga mengingatkan bahwa pembangunan bendungan bukan tanpa risiko. Pembebasan lahan yang sempat terhambat, dinamika sosial warga, hingga potensi sedimentasi tinggi menjadi catatan penting. Kementerian PUPR telah menyiapkan green belt di daerah tangkapan air seluas 1.200 hektare dengan menanam pohon kaliandra, sengon, dan jati emas untuk mengurangi erosi. Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup turut mengawal AMDAL secara ketat agar ekosistem hulu tetap terjaga.
Dari sisi fiskal, pemerintah menggandeng skema pembiayaan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) untuk beberapa paket pekerjaan irigasi tersier. Hal ini menunjukkan fleksibilitas pendanaan di tengah ruang fiskal yang sempit pascapemulihan ekonomi global. “Kita perlu berinovasi dalam pendanaan. Sinergi APBN, APBD, dan swasta akan kita dorong di proyek-proyek sejenis,” tegas Airlangga.
Kunjungan ini ditutup dengan peninjauan ke lokasi calon area wisata waduk dan peresmian prasasti di pintu utama bendungan. Rencananya, pada triwulan pertama 2027, Bendungan Meninting akan diresmikan langsung oleh Presiden. Hingga saat itu tiba, masyarakat Lombok menaruh harapan besar pada genangan air biru yang akan membawa kesejahteraan baru bagi tanah kelahiran mereka.
[SOCIAL_TWEET]: Menko @airlanggahartarto tinjau Bendungan Meninting di Lombok Barat. Kapasitas 12,8 juta m³, irigasi 1.560 ha, serap 1.200 tenaga kerja lokal. Proyek strategis pacu ekonomi NTB! #InfrastrukturIndonesia #LombokBangkit[SOCIAL_TG]: 🏗️ Menko Airlangga tinjau langsung konstruksi Bendungan Meninting di Lombok Barat. Progres 82%, kapasitas 12,8 juta m³, biaya Rp1,4 triliun. Siap jadi lumbung air dan harapan baru petani NTB! 🚜💧
Comments (0)