Hamish Daud dan Maxime Bouttier — Pose Jempol Gen X Saat Selfie Bareng Gen Milenial

Di tengah maraknya budaya selfie yang berkembang pesat dalam satu dekade terakhir, muncul sebuah momen ringan yang menyita perhatian publik di Jakarta. Akt

Jul 09, 2026 - 00:17
0 0
Hamish Daud dan Maxime Bouttier — Pose Jempol Gen X Saat Selfie Bareng Gen Milenial

Di tengah maraknya budaya selfie yang berkembang pesat dalam satu dekade terakhir, muncul sebuah momen ringan yang menyita perhatian publik di Jakarta. Aktor Maxime Bouttier, kelahiran 1993 yang secara demografis masuk dalam kategori Generasi Milenial, mengajak rekan sesama aktor, Hamish Daud, yang lahir pada 1980 dan dikategorikan sebagai Generasi X, untuk berfoto selfie bersama. Momen yang tampak sederhana ini berubah menjadi perbincangan di media sosial setelah publik memperhatikan gestur khas yang ditampilkan Hamish. Sang aktor Generasi X itu secara spontan mengangkat jari jempol dan telunjuknya — pose yang kerap diasosiasikan sebagai "pose bapak-bapak" dalam budaya digital Indonesia — menciptakan kontras visual yang menggemaskan ketika berdampingan dengan ekspresi santai Maxime yang sudah terbiasa dengan estetika selfie kontemporer.

Insiden kecil ini membuka jendela analisis yang lebih luas tentang bagaimana perbedaan generasi membentuk bahasa tubuh digital yang berbeda secara fundamental. Maxime Bouttier, sebagai representasi Generasi Milenial yang tumbuh bersama transisi teknologi analog ke digital, menunjukkan gestur yang lebih natural dan terlatih di hadapan kamera depan ponsel. Sementara itu, Hamish Daud merepresentasikan Generasi X yang masa remajanya tidak dihabiskan dengan kamera depan smartphone dan media sosial, sehingga gestur fotografisnya mengadopsi pola yang terbentuk di era kamera analog dan foto keluarga — era di mana mengangkat jari atau memberikan gestur ramah adalah norma yang lazim.

Kesenjangan Generasi dalam Budaya Selfie

Fenomena "pose bapak-bapak" yang ditunjukkan Hamish Daud bukanlah anomali, melainkan manifestasi dari perbedaan fundamental dalam cara setiap generasi berinteraksi dengan teknologi fotografi. Generasi X, yang lahir antara 1965 hingga 1980, mengalami fotografi sebagai aktivitas sesekali — kamera digunakan pada momen-momen khusus seperti liburan keluarga, acara resmi, atau perayaan. Kamera adalah benda terpisah, bukan perpanjangan tangan. Akibatnya, gestur fotografi mereka terbentuk di sekitar konsep "berpose untuk dikenang," yang menghasilkan gestur-gestur ramah dan lugas. "Generasi X melihat kamera sebagai alat dokumentasi, bukan alat presentasi diri yang berkelanjutan," demikian diungkapkan oleh para peneliti komunikasi digital dari berbagai kajian literasi media.

Sebaliknya, Generasi Milenial dan Generasi Z tumbuh dalam ekosistem kamera yang selalu tersedia. Kamera depan smartphone menjadi cermin digital yang menyatu dengan keseharian. Selfie bukan lagi dokumentasi momen khusus, melainkan praktik komunikasi visual sehari-hari. Hasil penelitian Pew Research Center menunjukkan bahwa 86% pengguna internet berusia 18 hingga 29 tahun secara rutin membagikan foto selfie di platform digital, sementara hanya 52% pada kelompok usia 50 tahun ke atas yang melakukannya. Konsekuensinya, gestur fotografi generasi muda menjadi lebih terkurasi, lebih sadar estetika, dan lebih eksperimental — jauh dari gestur "jempol terangkat" yang lugas dari generasi sebelumnya.

Perbandingan Perilaku Selfie Antargenerasi

Aspek Generasi X (1965-1980) Generasi Milenial (1981-1996)
Frekuensi selfie Rendah (momen khusus) Tinggi (aktivitas harian)
Gaya gestur dominan Jempol ke atas, V-sign, senyum standar Duck face, candid, mirror selfie, pose artistik
Tujuan fotografi Dokumentasi dan kenangan Presentasi diri dan validasi sosial
Keterampilan teknis Dasar (angle frontal) Mahir (pencahayaan, angle, editing)
Platform distribusi Album pribadi, WhatsApp keluarga Instagram, TikTok, media sosial publik

Data dari studi yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior mengonfirmasi temuan ini. Orang dewasa yang lebih tua cenderung menggunakan selfie untuk tujuan yang lebih pragmatis — berbagi momen dengan keluarga atau teman dekat — sementara orang yang lebih muda cenderung menggunakan selfie sebagai alat untuk konstruksi identitas digital dan navigasi hierarki sosial. Inilah sebabnya pose Hamish terasa janggal dalam bingkai selfie bersama Maxime: karena orientasi fotografis mereka berasal dari dua era yang secara fundamental berbeda.

Evolusi Gestur Digital dan Implikasi Sosialnya

Fenomena ini juga mencerminkan bagaimana bahasa tubuh digital berevolusi lebih cepat daripada kemampuan adaptasi generasi yang lebih tua. Di era 1990-an dan awal 2000-an, mengangkat jempol dalam foto adalah gestur universal yang melambangkan persetujuan dan keramahan. Namun, estetika media sosial telah menggeser gestur ini menjadi penanda generasi — atau bahkan bahan candaan — yang secara informal diberi label "pose bapak-bapak" oleh warganet Indonesia. Label ini tidak sepenuhnya negatif; dalam banyak kasus, pose tersebut justru membangkitkan rasa gemas dan nostalgia, persis seperti reaksi publik terhadap foto Hamish dan Maxime.

"Apa yang kita saksikan adalah stratifikasi gestur digital," para pengamat budaya digital mencatat. "Generasi tertentu menggunakan repertoar gestur tertentu, dan ketika repertoar itu bertemu dalam satu bingkai, kontrasnya menjadi bahan analisis yang menarik secara antropologis." Kasus Hamish Daud dan Maxime Bouttier menjadi contoh sempurna bagaimana pertemuan dua generasi dalam satu bingkai selfie bisa menceritakan lebih banyak daripada yang tampak di permukaan: ia menceritakan kisah tentang waktu, teknologi, dan bagaimana keduanya membentuk cara kita menampilkan diri.