Jakarta — Alwi Farhan Sedih Ronaldo Tersingkir, Tetap Sebut GOAT

Hening menyergap sebuah sudut Pelatnas PBSI, Cipayung. Rabu petang itu (8/7/2026), seorang pebulutangkis tunggal putra Indonesia duduk termenung. Di layar

Jul 08, 2026 - 22:34
0 0
Jakarta — Alwi Farhan Sedih Ronaldo Tersingkir, Tetap Sebut GOAT

Hening menyergap sebuah sudut Pelatnas PBSI, Cipayung. Rabu petang itu (8/7/2026), seorang pebulutangkis tunggal putra Indonesia duduk termenung. Di layar ponselnya, rekaman pertandingan baru saja usai. Cristiano Ronaldo berjalan keluar lapangan dengan air mata yang ia coba bendung. Malam itu di Piala Dunia 2026, Portugal takluk pada babak 16 besar. Ronaldo, sang kapten, tak akan pernah mengangkat trofi paling didambakan dalam kariernya yang gemilang. Dan di Jakarta, Alwi Farhan ikut merasakan perih yang sama.

Kekecewaan yang Terasa Pribadi

Alwi tak menyembunyikan kesedihannya. Di sela-sela latihan berat, ia mengaku mengikuti perjalanan Portugal sejak laga pertama fase grup. Dan kekalahan itu baginya bukan sekadar statistik. “Sedih banget sih saya. Jujur saya sedih banget kayak kasihan lah,” ujar Alwi lirih, suaranya hampir tertutup suara lompatan shuttlecock di lapangan sebelah. Raut wajahnya menunjukkan rasa kehilangan yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata.

Alwi, yang kini berusia 20 tahun, tumbuh menyaksikan Ronaldo sejak masih anak-anak di bangku sekolah dasar. Ia hafal bagaimana pemain asal Madeira itu membangun legasi dari nol: dari pemuda kurus yang mudah terjatuh, menjadi mesin gol yang ditakuti seluruh Eropa. Maka, menyaksikan idola yang ia kagumi seumur hidup itu menutup kisah Piala Dunia dengan kekalahan terasa seperti patah hati yang sebenarnya.

Beban yang Tak Tertanggungkan

Portugal tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Hasil ini memastikan bahwa Ronaldo, di usianya yang ke-41, tidak akan pernah bisa memasukkan trofi Piala Dunia ke dalam lemari prestasinya. Sebuah fakta yang, bagi banyak penggemar dan netral, menambah narasi pahit dalam karier seorang pemain yang telah memenangi nyaris semua gelar di level klub dan individu.

Alwi membaca tekanan itu sejak jauh-jauh hari. “Dari kemarin mungkin ya banyak pressure yang especially Ronaldo hadapi,” katanya. Ekspektasi publik Portugal begitu tinggi, media menyorot tiap sentuhannya, dan sejarah mencatat ia selalu gagal membawa tim nasionalnya melampaui semifinal di edisi-edisi sebelumnya. Beban itu akhirnya tak mampu lagi ia pikul sendirian. Di laga terakhir, Ronaldo bukan sekadar pemain—ia adalah harapan yang digantungkan terlalu tinggi oleh sebuah bangsa.

“Tapi ya mungkin dia juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Dia tetap akan menjadi Cristiano yang sama sih. Mungkin dia enggak bawa Piala Dunia tapi nggak menjadikannya dia nggak hebat juga gitu.”

GOAT Tidak Ditentukan Trofi Tunggal

Bagi Alwi, warisan Ronaldo tidak akan luntur oleh kekalahan tunggal. Julukan Greatest of All Time (GOAT) yang selama ini ia sematkan pada pemain bernomor punggung 7 itu tidak bergeser sedikit pun. Dalam kalkulasi Alwi, kehebatan seorang atlet bukan hanya akumulasi trofi, melainkan ketahanan mental, konsistensi, dan dampaknya bagi generasi muda. Ronaldo, dalam pandangannya, memenuhi semua itu—bahkan melampaui sebagian besar legenda sepak bola yang pernah ada.

Pernyataan Alwi ini menjadi penting bukan karena ia seorang komentator olahraga, melainkan karena ia sendiri adalah atlet profesional yang memahami arti tekanan, cedera, dan kegagalan. Saat seorang pebulutangkis muda yang sedang merintis karier internasional mengatakan “dia tetap GOAT,” itu bukan sekadar fanatisme. Itu pengakuan terhadap etos kerja seorang figur yang telah menginspirasi latihannya sendiri di lapangan.

Ronaldo belum pernah memenangi trofi Piala Dunia sepanjang kariernya. Meski begitu, ia meninggalkan catatan: lima edisi Piala Dunia, gol-gol krusial, dan ketangguhan yang membuat rekan setimnya berkali-kali menyebutnya sebagai pemimpin sejati. Bagi Alwi, itulah definisi keabadian yang tak bisa dihapus oleh satu kekalahan dramatis.

Saat malam menyelimuti Cipayung, Alwi beranjak dari tempatnya duduk. Besok ia harus kembali ke rutinitasnya: latihan fisik, drilling teknis, recovery. Namun ia tahu, ada satu hal yang tidak berubah dalam pikirannya. Di dinding kamar asramanya, poster Cristiano Ronaldo masih akan terpajang di tempat yang sama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User