36 Kapal Lintasi Selat Hormuz dalam Sehari, Tertinggi Sejak Perang AS-Iran
Laporan terbaru menunjukkan peningkatan signifikan lalu lintas maritim di salah satu jalur perairan paling strategis di dunia. Sebanyak 36 kapal pengangkut komoditas tercatat melintasi Selat Hormuz p
Laporan terbaru menunjukkan peningkatan signifikan lalu lintas maritim di salah satu jalur perairan paling strategis di dunia. Sebanyak 36 kapal pengangkut komoditas tercatat melintasi Selat Hormuz pada Senin (22/6), menandai volume tertinggi sejak konflik bersenjata meletus antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu.
Angka tersebut dihimpun dari data perusahaan pelacak maritim Kpler yang dirilis pada Selasa (23/6/2026). Meskipun terlihat menggembirakan, jumlah 36 pelayaran dalam satu hari ini sejatinya masih jauh dari kondisi normal sebelum perang. Berdasarkan catatan, lalu lintas harian di Selat Hormuz pada masa damai bisa mencapai sekitar 120 pelayaran. Artinya, aktivitas yang terjadi saat ini baru mewakili hampir sepertiga dari kapasitas normal jalur tersebut.
36 pelayaran dalam sehari itu mewakili hampir sepertiga dari lalu lintas normal di Selat Hormuz pada masa damai sebelum perang, yaitu sekitar 120 pelayaran per hari.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global. Sebelum ketegangan meningkat menjadi konflik terbuka, sekitar seperlima dari total ekspor minyak dan gas dunia melewati perairan sempit yang memisahkan Iran dengan Semenanjung Arab ini. Setiap gangguan di kawasan tersebut langsung berdampak pada stabilitas harga dan pasokan energi di pasar internasional.
Selama berbulan-bulan pasca pecahnya perang, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz anjlok drastis. Banyak perusahaan pelayaran dan operator kapal tanker memilih rute alternatif atau menunda pengiriman demi menghindari risiko serangan di zona konflik. Kenaikan jumlah kapal menjadi 36 unit dalam sehari ini mengindikasikan mulai adanya kepercayaan diri dari sektor maritim, meskipun situasi keamanan di lapangan masih belum sepenuhnya pulih.
Peningkatan lalu lintas ini tidak terlepas dari upaya diplomasi dan pengamanan jalur perairan yang dilakukan berbagai pihak. Namun, pengamat mengingatkan agar tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan. Lintasan tetap berbahaya, dan diperlukan konsistensi selama beberapa pekan ke depan untuk benar-benar menilai tren pemulihan ini. Volatilitas geopolitik di Timur Tengah masih sangat tinggi dan sewaktu-waktu bisa membalikkan keadaan.
Data yang dikumpulkan Lurusin.com dari berbagai sumber juga mencatat bahwa jenis komoditas yang diangkut kapal-kapal tersebut mayoritas adalah minyak mentah dan produk turunannya. Kembali bergeraknya kapal tanker minyak di Selat Hormuz menjadi sinyal positif bagi pasar energi global yang selama ini dibayangi kekhawatiran akan kelangkaan pasokan.
Comments (0)