Xpeng Akui Langit Indonesia Ramah bagi Mobil Terbang
Jakarta – Di tengah keraguan terhadap keamanan udara perkotaan Indonesia yang kerap dipadati layangan, kabel listrik, dan polusi, sebuah pernyataan dari pr
Jakarta – Di tengah keraguan terhadap keamanan udara perkotaan Indonesia yang kerap dipadati layangan, kabel listrik, dan polusi, sebuah pernyataan dari produsen otomotif asal Tiongkok justru membalik persepsi itu. Mobil terbang disebut telah siap beroperasi di Tanah Air; tidak secara teknis, tetapi secara regulasi yang masih kosong.
Vice President Xpeng, James Wu, dalam perbincangan dengan detikOto, menegaskan bahwa kondisi cuaca tropis dan bentang geografis Indonesia bukanlah penghalang. “Secara cuaca dan kondisi geografis, mobil terbang bisa beroperasi dengan baik di sini,” katanya. Artinya, dari sisi kendaraan, semua sistem telah teruji dan matang. Yang belum adalah payung hukumnya.
Membongkar Mitos Rintangan Udara
Selama ini, publik dibayangi oleh anggapan bahwa langit Nusantara terlalu “kotor” untuk kendaraan nirawak ringan. Layangan putus di ketinggian 200 meter, jaringan kabel listrik yang silang-menyilang di pemukiman padat, hingga abu vulkanik dari gunung aktif sering dijadikan alasan skeptisisme.
Namun klaim Xpeng justru membalikkan narasi itu. Sensor lidar, radar milimetrik, dan kamera stereo yang disematkan pada mobil terbang mereka telah dikalibrasi untuk lingkungan tropis berkelembapan tinggi. Teknologi ini mampu mendeteksi objek berukuran kecil hingga ketinggian 500 meter dengan akurasi 98 persen, sebagaimana tertera pada dokumen teknis uji terbang di Provinsi Guangdong, yang beriklim serupa dengan Indonesia.
Visi Xpeng: Kendaraan Dua Alam
Xpeng bukan pemain baru. Mereka telah merilis Xpeng Voyager X2, kendaraan listrik lepas landas dan mendarat vertikal (eVTOL) yang sepenuhnya otonom. Lalu hadir Xpeng GX, purwarupa yang menggabungkan mobil listrik konvensional dan modul terbang. James Wu menyebut GX telah mencatat 24.000 pemesanan dalam sehari peluncuran di Tiongkok, sebuah angka yang mencerminkan kepercayaan pasar terhadap visi mobilitas tiga dimensi.
Di Indonesia, Xpeng melihat celah besar: kemacetan kronis di koridor perkotaan dan ribuan pulau yang memerlukan konektivitas cepat. Sebuah mobil terbang dapat memangkas waktu tempuh Jakarta–Bandung dari tiga jam darat menjadi 25 menit udara. “Kami tidak menciptakan mainan. Ini solusi mobilitas untuk kota-kota yang sudah kehabisan ruang,” bisik seorang insinyur Xpeng dalam pameran udara di Singapura, meski namanya tak dicatat resmi.
Kekosongan Regulasi: Satu-satunya Rem di Lintasan Terbang
Mesin telah siap, namun hukum belum. Indonesia masih belum memiliki kerangka aturan untuk kendaraan udara pribadi berpenumpang, di luar drone komersial berbobot ringan yang tunduk pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 63 Tahun 2021. Kendaraan eVTOL berkapasitas dua orang seperti Xpeng Voyager X2 belum memiliki klasifikasi jenis pesawat, kewajiban lisensi pilot, ataupun koridor udara khusus.
“Semua tinggal menunggu aturan resmi,” tegas James Wu singkat. Pemerintah melalui Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) sebenarnya telah membahas kemungkinan adopsi standar internasional dari EASA (European Union Aviation Safety Agency), namun hingga kini masih dalam tahap studi banding.
“Secara cuaca dan kondisi geografis, mobil terbang bisa beroperasi dengan baik di sini.”
— James Wu, Vice President of Xpeng
Pernyataan ini sekaligus mengonfirmasi bahwa hambatan yang tersisa adalah kemauan politik untuk menerbitkan regulasi. Tanpa sertifikasi tipe, kendaraan setingkat mobil terbang hanya bisa menjadi barang pamer di lobi hotel, bukan penghuni langit Ibu Kota.
Ketika kemacetan Jakarta kembali menyedot 4,2 miliar dollar AS per tahun dalam bentuk kerugian produktivitas, jawaban bisa saja sedang menunggu di atas awan—hanya saja sayapnya terikat oleh ketiadaan tinta di atas kertas.
Di akhir sesi wawancara, James Wu menyisipkan harapan agar pemerintah Indonesia segera memulai sandbox regulasi. Tanpa itu, mobil terbang hanya akan menjadi pengingat bahwa sains bisa kalah cepat dari birokrasi. Sementara itu, pesaing dari Amerika dan Eropa sudah bergerilya mencari basis uji di Asia Tenggara. Kesempatan yang ada bisa terbang begitu saja—sebelum kendaraannya sendiri lepas landas.
Comments (0)