Helikopter Water Bombing Dikerahkan BNPB untuk Padamkan Karhutla Kotim
Asap kelabu yang membubung dari lahan-lahan gambut di Kabupaten Kotawaringin Timur perlahan menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Kebakaran hutan dan
Asap kelabu yang membubung dari lahan-lahan gambut di Kabupaten Kotawaringin Timur perlahan menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sejak awal pekan ini terus meluas, mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk segera mengerahkan armada pemadaman udara. Kondisi cuaca yang kering serta tiupan angin timur membikin titik-titik api cepat merembet ke area yang sulit dijangkau oleh tim darat. Hingga Selasa malam (7/7), tercatat 27 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi oleh satelit Terra/Aqua, sebagian besar berada di lahan mineral dan gambut di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Teluk Sampit.
Eskalasi Karhutla dan Respon Cepat BNPB
Pemerintah daerah sebelumnya telah menetapkan status siaga darurat bencana karhutla sejak pertengahan Juni, namun intensitas kebakaran yang meningkat membuat langkah konvensional tidak lagi memadai. Tim gabungan dari Manggala Agni, BPBD, dan TNI-Polri yang bertugas di darat menemui hambatan serius: banyak titik api berada di wilayah terisolasi tanpa akses jalan. BNPB lalu merespons dengan mengerahkan satu unit helikopter Sikorsky UH-60 Black Hawk yang dilengkapi sistem water bombing berkapasitas 4.000 liter. Pesawat ini sudah beroperasi sejak pukul 06.30 WIB, melakukan puluhan siklus pengambilan air dari Sungai Sampit untuk dijatuhkan ke titik-titik api utama.
“Kami memutuskan menggeser satu helikopter dari armada yang sudah siaga di Kalimantan Tengah untuk membantu Kotim. Fokus utama kami adalah pemadaman di area gambut yang rawan menjalar ke pemukiman. Water bombing menjadi solusi paling efektif saat darat tidak bisa menjangkau,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan resminya, Rabu (8/7).
Strategi Serangan Udara dan Kolaborasi Multi-Pihak
Operasi water bombing bukanlah langkah tunggal. BNPB juga berkoordinasi dengan BMKG untuk memonitor arah angin dan potensi hujan buatan. Data dari stasiun meteorologi setempat menunjukkan kelembaban udara di bawah 50 persen, yang memperparah laju penjalaran api. Setiap tetes air yang dijatuhkan dari ketinggian 100 kaki menjadi garis pertahanan terakhir sebelum api menyentuh perkebunan kelapa sawit milik warga. Selain helikopter, dua pesawat air tractor juga disiagakan di Bandara H. Asan untuk melakukan patroli dan penyemprotan pada titik-titik kecil yang baru muncul.
Di sisi darat, personel gabungan terus membangun sekat bakar untuk melokalisir lahan yang belum terbakar. Data sementara dari BPBD Kotim mencatat setidaknya 120 hektare lahan telah hangus, sebagian besar merupakan semak belukar dan lahan gambut dangkal. Tidak ada korban jiwa, namun kualitas udara di Sampit menunjukkan tren menurun dengan indeks PM2.5 yang sempat menyentuh angka 167 – kategori tidak sehat – pada Selasa malam.
Penyebab dan Potensi Perluasan
Investigasi awal mengarah pada aktivitas pembukaan lahan secara ilegal yang diperparah oleh kemarau panjang. Meski patroli terpadu terus melakukan penegakan hukum, praktik pembakaran lahan masih terjadi. Kepolisian Resor Kotawaringin Timur telah memeriksa enam orang saksi terkait dugaan pembakaran di tiga lokasi berbeda, namun belum menetapkan tersangka. Kejadian ini mengingatkan publik pada krisis karhutla tahun 2023 yang melumpuhkan aktivitas penerbangan lokal dan memaksa ribuan anak sekolah untuk belajar dari rumah.
Pemprov Kalimantan Tengah memperpanjang status darurat hingga Agustus dan menjanjikan tambahan armada darat berupa pompa apung dan selang spiral untuk pembasahan gambut. Sementara itu, BNPB memastikan bahwa helikopter water bombing akan dioperasikan selama titik api masih di atas ambang kendali.
Comments (0)