Seperti Ini Rasanya Naik 'Ojek Laut' yang Ongkosnya Rp 5.000

Donggala – Warga Desa Pulau Pangalasiang, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, menjalani kehidupan yang unik dengan ketergantungan tinggi pada transportasi laut. Setiap hari, mere

Jul 06, 2026 - 07:00
0 0
Seperti Ini Rasanya Naik 'Ojek Laut' yang Ongkosnya Rp 5.000

Donggala – Warga Desa Pulau Pangalasiang, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, menjalani kehidupan yang unik dengan ketergantungan tinggi pada transportasi laut. Setiap hari, mereka mengandalkan perahu motor sederhana untuk menyeberang ke daratan utama, baik untuk bekerja, bersekolah, maupun berbelanja. Moda transportasi ini ibarat "ojek laut" yang selalu siap mengantar penumpang menyeberangi perairan tenang yang memisahkan pulau kecil itu dari daratan Sulawesi.

Perahu-perahu kayu bercat cerah itu hilir mudik dari pagi hingga petang, mengangkut siapa pun yang membutuhkan penyeberangan. Bukan hanya nelayan atau pedagang, penumpangnya adalah warga biasa—ibu-ibu dengan keranjang belanjaan, anak-anak berseragam sekolah, hingga pekerja yang pulang dari aktivitas di kota. Semua terlayani dengan tarif yang sangat ramah di kantong.

Tarif Terjangkau yang Menjadi Andalan

Yang membuat moda transportasi ini begitu istimewa adalah ongkosnya yang tidak pernah berubah: hanya Rp5.000 untuk perjalanan pulang pergi. Dengan biaya segitu, warga bisa menyeberang ke daratan utama dan kembali lagi ke pulau tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam. Jika dihitung per orang, tarif tersebut bisa dibilang gratis dibandingkan biaya transportasi di kota-kota besar.

"Ongkosnya murah, Rp5.000 pulang balik. Sudah dari dulu segitu, tidak pernah naik," ujar Rahman (45), seorang warga yang tengah bersantai di tepi dermaga, Sabtu (4/7/2026), saat ditemui tim Lurusin.com.

Bahkan, dalam satu perahu, penumpang bisa berdua tanpa dikenakan biaya tambahan. Artinya, Rp5.000 bisa untuk dua orang dalam sekali perjalanan penyeberangan. Ini tentu meringankan beban ekonomi keluarga di pulau yang sebagian besar bergantung pada hasil laut dan kebun.

Saat tim Lurusin.com menyambangi dermaga kecil yang terletak tak jauh dari Kantor Desa Pangalasiang, suasana sore begitu hidup. Para penumpang turun-naik perahu sambil membawa barang bawaan, sementara juru mudi dengan sigap membantu. Momen matahari terbenam menjadi latar indah yang mewarnai aktivitas harian ini, seolah menegaskan betapa harmonisnya kehidupan masyarakat pesisir yang sederhana namun penuh keakraban.

“Ojek laut” di Desa Pulau Pangalasiang ini tidak hanya menjadi alat transportasi, melainkan juga simbol konektivitas dan ketahanan masyarakat lokal. Di tengah minimnya akses jalan darat, perahu motor menjadi urat nadi yang menghubungkan pulau dengan dunia luar, menjaga agar denyut kehidupan tetap berjalan tanpa terputus.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User