Pemkot Tangsel Gagas Pelatihan AI dan Coding untuk Remaja Masjid
Transformasi digital tidak boleh berhenti di ruang rapat pemerintahan. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dalam meluncurkan program literasi teknologi
Transformasi digital tidak boleh berhenti di ruang rapat pemerintahan. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dalam meluncurkan program literasi teknologi yang menyasar langsung generasi muda melalui simpul sosial keagamaan, yaitu masjid. Program ini menjadi terobosan untuk memastikan bahwa anak-anak muda, khususnya remaja masjid, tidak tertinggal dalam arus kecerdasan buatan (AI) dan pemrograman yang kian masif.
Lewat inisiatif bertajuk GPS Digital Academy & Innovation Center, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Tangsel berkolaborasi dengan Gerakan Pejuang Shubuh (GPS) Tangsel. Keduanya menyatukan visi untuk menciptakan wadah pelatihan digital gratis yang inklusif, memanfaatkan jaringan masjid yang selama ini sudah akrab dengan keseharian remaja Muslim di wilayah tersebut.
"Kami menyambut baik inisiatif dari GPS Tangsel. Bagi kami di Diskominfo, masjid adalah simpul sosial yang sangat strategis. Melalui GPS Digital Academy, kita tidak hanya bicara soal literasi digital dasar, tetapi bagaimana fasilitas publik dan komunitas bisa sinkron dengan arah pembangunan transformasi digital kota," ujar Kepala Diskominfo Tangsel, TB Asep Nurdin, dalam keterangan yang diterima media kami, Selasa (7/7/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa masjid tidak lagi dipandang semata sebagai tempat ibadah. Fungsi sosialnya diperluas menjadi pusat pemberdayaan komunitas, sejalan dengan cetak biru pembangunan digital yang tengah digenjot oleh pemerintah daerah. Langkah ini juga sekaligus mematahkan asumsi bahwa literasi teknologi canggih hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu melalui lembaga formal.
Menurut laporan yang dihimpun, GPS Digital Academy & Innovation Center akan fokus membekali peserta dengan keterampilan yang langsung relevan dengan kebutuhan industri masa kini—mulai dari pengenalan dasar kecerdasan buatan, logika pemrograman, hingga implementasi keterampilan coding untuk pemecahan masalah nyata. Semua materi disusun agar mudah dicerna oleh remaja yang mungkin belum memiliki latar belakang teknis sebelumnya.
Pemilihan masjid sebagai lokus pelatihan dinilai cerdas secara sosial. Remaja masjid biasanya sudah memiliki ikatan komunitas yang kuat, sehingga proses belajar bisa berlangsung dalam lingkungan yang suportif dan tidak mengintimidasi. Hal ini diyakini akan meningkatkan partisipasi dan menekan angka putus belajar yang sering terjadi pada program serupa yang diselenggarakan di tempat-tempat yang kurang akrab bagi peserta muda.
Kolaborasi dengan GPS Tangsel yang selama ini dikenal aktif dalam menghidupkan kegiatan positif di kalangan remaja Islam menjadi nilai tambah. Jaringan dan kredibilitas yang sudah terbangun diharapkan mampu mempercepat difusi program ke berbagai masjid di penjuru Tangsel. Pelatihan ini gratis, sehingga tidak ada hambatan finansial yang menghalangi semangat anak-anak muda untuk mengasah talenta digital mereka.
Ke depan, program ini diharapkan tidak hanya mencetak konsumen teknologi, tetapi juga kreator dan inovator yang lahir dari akar rumput. Dengan membangun fondasi talenta digital sejak usia remaja, Tangsel sedang menanam benih untuk ekosistem ekonomi digital yang lebih tangguh dan berkeadilan. Masjid, yang biasanya sunyi di antara waktu salat, kini perlahan bertransformasi menjadi laboratorium inovasi bagi masa depan kota.
Comments (0)