Menkes Tegaskan Peran Dokter Tak Tergantikan Meski AI Diusulkan untuk Atasi Krisis Tenaga Medis

Jakarta – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memberikan tanggapan resmi terkait usulan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR RI,

Jul 06, 2026 - 13:48
0 0
Menkes Tegaskan Peran Dokter Tak Tergantikan Meski AI Diusulkan untuk Atasi Krisis Tenaga Medis

Jakarta – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memberikan tanggapan resmi terkait usulan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh. Usulan tersebut bertujuan untuk membantu proses analisis penyakit di wilayah-wilayah yang masih mengalami kekurangan tenaga dokter. Meski mengapresiasi inovasi digital, Menkes Budi menekankan bahwa interaksi langsung antara dokter dan pasien masih menjadi fondasi utama yang tidak bisa dihilangkan dalam sistem pelayanan kesehatan nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Budi Gunadi Sadikin di sela-sela rapat kerja dengan Komisi IX DPR yang berlangsung di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Kamis (25/6). Dalam forum tersebut, Menkes mengakui adanya kesenjangan distribusi dokter spesialis dan umum yang cukup lebar antara daerah perkotaan dan pelosok. Namun, ia mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak serta-merta menghapus esensi humanisme dalam dunia medis.

Telemedicine Didahulukan Sebagai Jembatan Digital

Alih-alih langsung melompat pada penggunaan AI secara penuh untuk diagnosis, Budi menyarankan agar pemerintah dan parlemen fokus terlebih dahulu pada optimalisasi telemedicine. Menurutnya, perangkat telekonsultasi lebih siap diimplementasikan secara luas untuk menjawab tantangan jarak, sambil tetap menjaga interaksi visual dan komunikasi personal antara tenaga kesehatan dan pasien. "Mungkin kita mulai dulu dengan telemedicine. Yang secara fundamental harus dijawab adalah kekurangan dokter itu terjadi terutama di daerah-daerah terpencil. Itu yang harus dijawab, ya," ujar Budi menanggapi pertanyaan dari anggota dewan.

Media kami mencatat, teknologi telemedicine dinilai lebih aman karena keputusan klinis tetap berada di tangan dokter manusia, sementara AI pada tahap akut baru akan berfungsi sebagai alat bantu penunjang keputusan, bukan pengganti utama. Langkah ini dianggap sebagai jembatan sebelum infrastruktur kesehatan lain yang lebih kompleks, seperti alat diagnosis berbasis AI, benar-benar matang dan teruji validitasnya di Indonesia.

Krisis Distribusi, Bukan Sekadar Kurang Alat

Lebih lanjut, Budi menegaskan bahwa akar permasalahan di daerah dengan krisis layanan kesehatan bukanlah semata-mata ketiadaan alat canggih, melainkan distribusi sumber daya manusia (SDM) yang tidak merata. Ia menyoroti bahwa penambahan kuota fakultas kedokteran serta skema insentif bagi dokter yang bersedia ditempatkan di daerah tertinggal, tertinggal, dan terpencil (3T) harus tetap menjadi prioritas.

"Yang secara fundamental harus dijawab adalah kekurangan dokter itu terjadi terutama di daerah-daerah terpencil." – Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Menanggapi usulan spesifik terkait AI, Budi menyiratkan bahwa kehadiran dokter secara fisik untuk melihat dan memeriksa pasien secara langsung adalah standar emas pelayanan yang tidak bisa dikompromikan. Meskipun algoritma AI dapat membaca hasil lab atau citra medis dengan akurat, penilaian holistik terhadap kondisi psikologis dan sosial pasien masih memerlukan sentuhan manusia. Dengan demikian, usulan dari Komisi IX DPR akan dikaji lebih dalam, namun arah kebijakan Kementerian Kesehatan saat ini lebih condong pada penguatan kapasitas SDM dan infrastruktur digital telemedicine sebagai solusi jangka pendek yang paling realistis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
oky-pratista

Editor Edukasi Media. Editor konten literasi media bagi pembaca.

Comments (0)

User