Kejar Pertumbuhan 8%, INA Sebut RI Butuh Suntikan Investasi Rp 14.369 Triliun
Lurusin.com, Jakarta — Indonesian Investment Authority (INA) mengungkapkan bahwa ambisi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2029 memerlukan gelontoran investasi yang sangat b
Lurusin.com, Jakarta — Indonesian Investment Authority (INA) mengungkapkan bahwa ambisi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2029 memerlukan gelontoran investasi yang sangat besar. Lembaga pengelola investasi negara itu memperkirakan kebutuhan pendanaan mencapai US$ 800 miliar atau setara dengan Rp 14.369 triliun, dengan asumsi kurs rupiah berada di level Rp 17.962 per dolar AS.
Angka yang fantastis ini tidak mungkin dipenuhi hanya dengan mengandalkan kekuatan investor dalam negeri. Chief Executive Officer INA, Oki Ramadhana, secara blak-blakan menyatakan bahwa dana lokal saja tidak akan cukup untuk mendorong mesin ekonomi nasional menuju target ambisius tersebut. Menurutnya, peran investor global menjadi mutlak dan harus menjadi penggerak utama arus investasi ke Tanah Air.
Investasi Lokal Tidak Memadai
Dalam sebuah acara media briefing yang berlangsung di Jakarta, Rabu (1/7/2026), Oki memaparkan kondisi fundamental kebutuhan pendanaan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa selama ini pertumbuhan investasi lebih banyak ditopang oleh sumber-sumber tradisional, namun untuk melompat ke level pertumbuhan yang lebih tinggi, komposisi itu harus berubah secara drastis.
"You can see as a basic, tapi ini fundamental juga. Jadi target kita, yang tadi saya mention up to 8% by 2029, and it needs US$ 800 billion untuk kita bisa tumbuh at that level. Namely, penggeraknya obviously global investment. Jadi tradisional local fund saja, itu tidak cukup," ungkap Oki di hadapan awak media.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pemerintah dan otoritas terkait tidak bisa lagi sekadar berharap pada ekspansi portofolio investasi domestik yang ada saat ini. Transformasi sumber pendanaan menjadi keharusan jika Indonesia ingin keluar dari jebakan pertumbuhan menengah dan mengejar status negara berpendapatan tinggi.
Mengundang Dana Global dengan Daya Saing
INA sendiri dibentuk sebagai sovereign wealth fund yang bertugas menjembatani kesenjangan pendanaan dengan menggalang modal asing dan mendorongnya ke proyek-proyek strategis nasional. Tantangan ke depan adalah bagaimana menciptakan iklim investasi yang kompetitif di tengah ketatnya persaingan global dalam memperebutkan dana segar. Stabilitas regulasi, kemudahan perizinan, dan kepastian hukum akan menjadi faktor penentu untuk meyakinkan investor global agar menanamkan modalnya di Indonesia.
Laporan media kami mencatat, hingga saat ini aliran investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia masih didominasi oleh sektor ekstraktif dan manufaktur tertentu, sementara sektor-sektor berdaya ungkit tinggi seperti ekonomi digital, energi terbarukan, dan infrastruktur berkelanjutan membutuhkan lebih banyak eksposur internasional. Dengan kebutuhan US$ 800 miliar hingga 2029, beban kerja yang dihadapi INA dan pemerintah bukan sekadar promosi investasi, melainkan reformasi struktural yang menyeluruh.
Jika target 8% ingin menjadi kenyataan, maka semua pemangku kepentingan—dari birokrasi hingga pelaku usaha—harus bergerak dalam ritme yang sama untuk menyambut gelombang modal global yang diharapkan menjadi penopang utama lompatan ekonomi Indonesia.
Comments (0)