Israel Robohkan Sekolah Dasar di Tepi Barat Pascausiran Warga
Pasukan pendudukan Israel kembali memicu kecaman internasional setelah meruntuhkan Sekolah Dasar Campuran Yanon di dusun Khirbet Yanon, timur Nablus, pada
Pasukan pendudukan Israel kembali memicu kecaman internasional setelah meruntuhkan Sekolah Dasar Campuran Yanon di dusun Khirbet Yanon, timur Nablus, pada Rabu pagi. Aksi ini dilakukan beberapa jam setelah keluarga-keluarga Palestina diusir paksa dari tempat mereka berteduh. Pejabat Palestina langsung menyebutnya sebagai bagian dari kejahatan terhadap hak anak-anak untuk belajar.
Detik-Detik Perobohan dan Pengusiran
Menurut saksi mata, buldoser militer Israel mulai merangsek ke area sekolah pukul 06.30 waktu setempat. Sebelumnya, pasukan telah mengepung dusun dan memerintahkan 12 keluarga yang rumahnya bersebelahan dengan sekolah agar segera meninggalkan lokasi. Setelah area dikosongkan, dalam waktu kurang dari satu jam bangunan utama sekolah dan dua ruang kelas tambahan rata dengan tanah.
"Kami menyaksikan masa depan anak-anak kami hancur begitu saja. Mereka merampas hak paling dasar: pendidikan," ujar Salwa Hamdan, koordinator pendidikan setempat, dengan suara bergetar.
Sekolah tersebut melayani lebih dari 70 murid dari tiga dusun di sekitarnya. Kini, para siswa terpaksa harus berjalan lebih dari lima kilometer menuju sekolah terdekat yang kondisinya penuh sesak. Proses belajar-mengajar di Tepi Barat yang telah terfragmentasi oleh pos pemeriksaan dan tembok pemisah semakin diperburuk oleh perobohan ini.
Respons Palestina dan Lembaga HAM
Kementerian Pendidikan Otoritas Palestina mengecam keras tindakan Israel dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Mereka menekankan bahwa fasilitas pendidikan dilindungi oleh Konvensi Jenewa. Sementara itu, berbagai organisasi hak asasi manusia termasuk Al-Haq dan B'Tselem menyatakan bahwa perobohan ini merupakan bentuk hukuman kolektif yang dilarang.
PBB melalui Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) mencatat bahwa sepanjang tahun ini saja, sedikitnya 27 sekolah di Tepi Barat terancam dirobohkan oleh pendudukan Israel. Data ini menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan, terutama di Zona C yang berada di bawah kontrol penuh Israel.
Konteks Penjajahan dan Hilangnya Ruang Belajar
Dusun Khirbet Yanon terletak di Area C Tepi Barat, tempat Israel memiliki kuasa penuh atas pembangunan dan perencanaan. Izin membangun untuk warga Palestina sangat sulit diperoleh, sehingga banyak bangunan dianggap "ilegal" oleh pendudukan lalu dirobohkan. Aktivis menuduh kebijakan ini sengaja dirancang untuk mempersempit ruang hidup warga Palestina dan mendorong mereka pergi.
- Sekolah yang dirobohkan: Sekolah Dasar Campuran Yanon.
- Jumlah siswa terdampak: 70 anak.
- Waktu kejadian: Rabu pagi, pascapengusiran warga.
- Status lokasi: Area C Tepi Barat yang dikuasai penuh Israel.
Perobohan ini bukan hanya kehilangan tembok dan atap, melainkan menghapus mimpi anak-anak yang kini harus belajar di bawah pohon atau di reruntuhan. Lembaga donor pendidikan internasional pun mendesak agar rekonstruksi segera dilakukan, meskipun pengalaman sebelumnya menunjukkan bangunan baru kerap kembali dihancurkan.
Seruan Internasional dan Langkah Ke Depan
Uni Eropa, melalui kantor perwakilannya di Yerusalem, menyatakan prihatin mendalam dan meminta Israel menghentikan perobohan yang merugikan anak-anak. Sementara itu, aktivis di media sosial ramai menggaungkan tagar #JusticeForYanon. Pemerintah Palestina berencana membawa kasus ini ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sebagai bagian dari kejahatan perang. Namun, di lapangan, warga dusun hanya bisa pasrah dan berharap solidaritas global mampu menghentikan siklus pengusiran.
[SOCIAL_TWEET]: Israel kembali hancurkan SD Yanon di Tepi Barat setelah usir warga. 70 anak kehilangan ruang belajar. Dunia tidak boleh diam! #JusticeForYanon #FreePalestine #RightToEducation[SOCIAL_TG]: 😡 Tragis! Israel robohkan SD Yanon di timur Nablus. 70 anak kehilangan kelas, pendidikan terampas. Pembantaian masa depan generasi muda Palestina.
Comments (0)