Gajah Liar di Pelalawan Dipasangi Kalung GPS Peringatan Dini
PELALAWAN, RIAU – Seekor gajah betina liar Sumatra berhasil dipasangi kalung Global Positioning System (GPS) oleh tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Al
PELALAWAN, RIAU – Seekor gajah betina liar Sumatra berhasil dipasangi kalung Global Positioning System (GPS) oleh tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau di kawasan konservasi Tesso Tenggara, Kabupaten Pelalawan, pada 6 November 2025. Langkah ini menjadi terobosan pertama di Riau untuk membangun sistem peringatan dini yang diharapkan mampu meredam interaksi negatif antara manusia dan gajah liar.
Operasi yang Menegangkan: Membius Gajah Betina dan Anaknya
Operasi yang berlangsung sejak pukul 05.30 WIB itu melibatkan 18 personel gabungan dari BBKSDA Riau, mahasiswa konservasi, dan dokter hewan. Target utama adalah seekor gajah betina dewasa yang diberi nama “Tesso”, berusia sekitar 25 tahun dengan berat lebih dari 2,5 ton. Tim terpaksa membius induk gajah menggunakan senapan bius dari jarak 30 meter setelah memastikan anaknya yang berusia tiga tahun berada di dekatnya agar keduanya tidak terpisah pascabius.
“Prosesnya cukup dramatis karena anak gajah terus mengelilingi induknya yang terbius. Kami harus sigap memasang kalung dalam waktu singkat sambil tetap memantau kondisi induknya,” ujar drh. Rifki Rahman, koordinator medis operasi tersebut.
Kalung GPS seberat 8 kilogram berhasil dipasang dalam 45 menit. Saat Tesso sadar, ia sempat kebingungan, lalu berangsur tenang dan meninggalkan lokasi bersama anaknya menuju semak belukar. Citra AFP yang diambil pascaoperasi memperlihatkan momen haru tersebut.
Mengapa Kalung GPS Jadi Solusi Penting?
Konflik gajah-manusia di Pelalawan meningkat tajam dalam tiga tahun terakhir. Data BBKSDA Riau mencatat 24 insiden pada 2024, mulai dari perusakan kebun sawit hingga penyerangan terhadap pemukiman yang mengakibatkan dua korban jiwa dan kerugian materi miliaran rupiah. Gajah sering keluar dari koridor jelajah akibat alih fungsi hutan.
Dengan kalung GPS, pergerakan Tesso dapat dipantau secara real-time. Data lokasi diperbarui setiap dua jam ke pusat kendali BBKSDA. Apabila sinyal menunjukkan gajah mendekati radius tiga kilometer dari permukiman, sistem otomatis mengirimkan notifikasi ke ponsel petugas desa dan Bhabinkamtibmas setempat. Mereka lalu mengaktifkan prosedur: menghalau gajah menggunakan meriam karbit, atau mengevakuasi warga jika situasi membahayakan.
Kepala BBKSDA Riau, Hadi Sofyan, menjelaskan:
“Ini adalah sistem peringatan dini pertama di Provinsi Riau. Kami tidak bisa terus menyalahkan gajah. Mereka hanya mencari makan karena habitatnya terdesak. Kalung ini membantu kami memahami pola jelajah dan mencegah pertemuan yang berakibat fatal bagi kedua pihak.”
Tahapan Pemasangan Kalung: Dari Survei hingga Pelepasliaran
- Survei dan Identifikasi: Tim melacak kawanan Tesso selama dua pekan menggunakan drone untuk memilih individu dominan yang menjadi pemimpin kelompok.
- Pembiusan: Senapan bius dengan dosis anestesi khusus ditembakkan pada pukul 06.00 WIB. Gajah pingsan total dalam 12 menit.
- Pemasangan dan Pemeriksaan Medis: Kalung dipasang di leher, sampel darah dan morfometri diambil, serta microchip identitas ditanam.
- Pemulihan dan Pelepasliaran: Obat anti-bius disuntikkan. Tesso sadar dalam dua menit, lalu berjalan menjauh bersama anaknya.
- Monitoring: Selama tiga bulan ke depan, tim akan memantau data setiap hari dan mengkalibrasi geofence.
Harapan Baru bagi Warga Pelalawan
Warga Desa Lubuk Kembang Bunga, salah satu titik rawan, menyambut baik inisiatif ini. “Dulu kami cuma bisa panik kalau lihat jejak gajah di belakang rumah. Sekarang ada peringatan, kami bisa siap-siap,” kata Ruslan, kepala dusun setempat. Pemerintah daerah telah menyiapkan posko respons cepat bersenjatakan petasan besar dan truk untuk menggiring gajah kembali ke hutan.
Kalung GPS ini merupakan hibah dari organisasi konservasi internasional dan bernilai sekitar Rp210 juta per unit. Masa pakainya mencapai tiga tahun dengan baterai yang dapat diisi ulang melalui panel surya mini. BBKSDA menargetkan pemasangan kalung serupa pada tiga gajah lain di Tesso Tenggara guna menciptakan sistem peringatan yang lebih akurat berbasis kawanan.
Jika proyek percontohan ini berhasil, model mitigasi berbasis teknologi akan direplikasi di kantong-kantong konflik gajah lain di Sumatera, seperti Aceh, Lampung, dan Jambi. Antara teknologi dan harmoni, harapan melangkah bersama gajah betina bernama Tesso.
[SOCIAL_TWEET]: Teknologi untuk selamatkan gajah Sumatra! BBKSDA Riau pasang kalung GPS pada gajah liar di Pelalawan. Sistem peringatan dini ini akan beri tahu warga jika gajah mendekat, cegah konflik maut. #Konservasi #GajahSumatra #Riau[SOCIAL_TG]: 🐘 Gajah betina 'Tesso' di Pelalawan kini pakai kalung GPS. Setiap 2 jam posisinya update ke pusat kendali. Kalau mendekat 3 km dari desa, warga dapat notifikasi. Langkah maju konservasi di Riau!
Comments (0)