Dunia Hari Ini: Setidaknya 18 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Eropa
Jakarta – Laporan Lurusin.com pada Rabu, 24 Juni 2026 mencatat, gelombang panas dahsyat yang melanda kawasan Eropa telah merenggut sedikitnya 18 nyawa di Prancis. Suhu ekstrem yang memecahkan rekor
Jakarta – Laporan Lurusin.com pada Rabu, 24 Juni 2026 mencatat, gelombang panas dahsyat yang melanda kawasan Eropa telah merenggut sedikitnya 18 nyawa di Prancis. Suhu ekstrem yang memecahkan rekor historis di sejumlah kota ini memicu status darurat dan kekhawatiran akan terulangnya tragedi panas mematikan seperti yang pernah terjadi dua dekade lalu.
Prancis di Bawah Terik Mematikan
Otoritas kesehatan Prancis mengonfirmasi bahwa seluruh korban jiwa berasal dari kelompok rentan, terutama warga lanjut usia yang tinggal di wilayah selatan negara itu. Termometer di kota Bordeaux dan Toulouse sempat menyentuh angka 41,2 derajat Celcius, memecahkan rekor yang telah bertahan sejak 1947. Pemerintah daerah langsung mengaktifkan pusat-pusat pendingin darurat dan menambah tenaga medis di rumah sakit untuk mengantisipasi lonjakan pasien heatstroke.
“Situasi ini sangat serius. Kami mengimbau semua orang, terutama mereka yang memiliki anggota keluarga atau tetangga lanjut usia, untuk saling memeriksa dan memastikan kondisi mereka tetap aman,” ujar Menteri Kesehatan Prancis dalam pernyataan resmi yang dikutip Lurusin.com.
Inggris Bersiap Pecahkan Rekor Juni
Ancaman serupa juga membayangi Inggris. Kantor Meteorologi Inggris (Met Office) merilis peringatan bahwa suhu di London dan kawasan tenggara berpotensi menembus 38 derajat Celcius pada akhir pekan ini. Jika benar terjadi, suhu tersebut akan memecahkan rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni yang sebelumnya dipegang oleh Southampton pada 1976 dengan angka 35,6 derajat Celcius. Operator kereta api nasional telah memberlakukan pembatasan kecepatan di sejumlah rute karena rel dikhawatirkan melengkung akibat pemuaian panas.
Perubahan Iklim dan Dampaknya yang Kian Nyata
Para ahli iklim dari berbagai lembaga riset Eropa menekankan bahwa gelombang panas ini bukan sekadar anomali cuaca biasa. Studi yang dirilis awal Juni 2026 oleh panel ilmuwan lintas negara menunjukkan bahwa frekuensi kejadian suhu ekstrem di benua Eropa meningkat tiga kali lipat dalam 40 tahun terakhir, sejalan dengan laju pemanasan global. Dampak turunan juga kian terasa: kebakaran hutan di Catalonia, Spanyol, telah menghanguskan lebih dari 4.000 hektare lahan sejak awal pekan, sementara Italia dan Portugal memperpanjang status siaga kekeringan di lembah sungai utama mereka.
“Apa yang kita alami sekarang bukanlah peristiwa langka lagi. Ini adalah wajah baru musim panas di Eropa akibat perubahan iklim yang tidak terkendali,” kata Dr. Amélie Laurent, klimatolog dari Université Grenoble Alpes, kepada media kami.
Dengan puncak musim panas masih beberapa pekan ke depan, kekhawatiran meluas bahwa jumlah korban dan kerusakan lingkungan dapat bertambah. Lurusin.com akan terus memantau perkembangan situasi ini dan menyajikan informasi terkini bagi pembaca.
Comments (0)