Buku Puisi Esai Indonesia Menangi BRICS Award, Kini dalam 35 Bahasa

Moskow, 22 Juni 2026 — Prestasi gemilang kembali ditorehkan dunia sastra Indonesia di kancah global. Sebuah buku puisi esai berjudul Yang Menggigil dalam Arus Sejarah berhasil meraih penghargaan ber...

Jul 14, 2026 - 14:30
0 0

Moskow, 22 Juni 2026 — Prestasi gemilang kembali ditorehkan dunia sastra Indonesia di kancah global. Sebuah buku puisi esai berjudul Yang Menggigil dalam Arus Sejarah berhasil meraih penghargaan bergengsi BRICS Literary Award 2026. Kemenangan ini tidak hanya mengukuhkan posisi sastra Indonesia di mata internasional, tetapi juga menjadi bukti bahwa karya sastra yang mengangkat isu kemanusiaan mampu menembus sekat-sekat budaya dan bahasa.

Kemanusiaan Universal Sebagai Kunci

Proses seleksi BRICS Literary Award tahun ini berlangsung sangat ketat. Lebih dari 1.200 naskah dari negara-negara anggota BRICS—Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, dan kini termasuk Indonesia—ikut berpartisipasi. Dewan juri yang beranggotakan sembilan sastrawan dan akademisi terkemuka dari berbagai negara akhirnya menetapkan buku ini sebagai pemenang utama. Ketua dewan juri, Prof. Dmitri Volkov dari Institut Sastra Dunia Moskow, menyatakan bahwa buku ini menghadirkan narasi yang menyentuh tanpa kehilangan ketajaman analisis sosial.

Menurutnya, puisi-puisi esai dalam buku ini merekonstruksi kembali berbagai peristiwa sejarah yang penuh gejolak, namun tetap meletakkan manusia sebagai pusat cerita. Tidak hanya menarasikan penderitaan dan harapan dari sudut pandang tertentu, tetapi juga menawarkan empati lintas identitas. Itulah yang menjadikan karya ini mampu berbicara kepada pembaca dari latar belakang mana pun, termasuk di Brasil, Rusia, India, dan negara-negara lainnya.

Menjelajahi Luka dan Asa Sejarah

Yang Menggigil dalam Arus Sejarah bukan sekadar kumpulan teks puitis. Buku ini menyajikan perpaduan unik antara esai dan puisi yang membedah peristiwa-peristiwa penting dalam lembar sejarah kemanusiaan. Mulai dari tragedi perang, krisis pangan, hingga migrasi besar-besaran akibat bencana, semuanya dirajut dengan bahasa yang indah namun kritis. Genre puisi esai sendiri merupakan bentuk sastra yang mulai dikenal luas di Indonesia beberapa tahun terakhir, menggabungkan fakta dokumenter, refleksi pribadi, dan kekuatan imaji puisi.

Tema kemanusiaan memang sengaja diangkat oleh sang penulis sebagai respons terhadap gelombang dehumanisasi yang kerap muncul dalam narasi politik global. Buku ini menjadi ruang kontemplasi yang mengajak pembaca untuk tidak hanya mengingat sejarah, tetapi juga merasakan kembali denyut kemanusiaan yang kerap tenggelam dalam statistik dan jargon. Para kritikus menilai keberhasilan buku ini terletak pada kemampuannya mengubah arsip kering menjadi puisi yang membangunkan nurani.

Terjemahan 35 Bahasa, Misi Diplomasi Sastra

Salah satu dampak paling signifikan dari peraihan BRICS Award adalah program penerjemahan ambisius yang digerakkan oleh panitia penghargaan bersama pemerintah Indonesia. Buku ini akan diterjemahkan ke dalam 35 bahasa, termasuk bahasa-bahasa utama dunia seperti Inggris, Mandarin, Arab, Rusia, Hindi, dan Swahili, serta bahasa-bahasa minoritas yang jarang terjamah arus utama sastra global. Program ini bukan hanya memperluas jangkauan pembaca, tetapi juga membangun jembatan dialog antarbangsa melalui medium sastra.

Kementerian Luar Negeri Indonesia melalui Dubes RI untuk Rusia dan Belarusia menyambut baik inisiatif ini. Diplomasi sastra dianggap sebagai soft power yang efektif untuk memperkenalkan kekayaan intelektual dan humanisme yang tumbuh di Indonesia. Dalam sebuah kesempatan, pihak kedutaan menyatakan bahwa karya ini menjadi duta bangsa yang tidak terlihat, menyampaikan nilai-nilai toleransi dan solidaritas global tanpa perlu atribut negara yang mencolok.

Proses penerjemahan melibatkan puluhan penerjemah profesional yang bekerja sama dengan institusi pendidikan dan penerbitan di berbagai negara. Beberapa bahasa Asia Tenggara juga masuk dalam daftar, seperti Thai, Tagalog, dan Vietnam, yang diharapkan mampu menciptakan resonansi kuat di kawasan. Penerbit lokal di beberapa negara bahkan sudah menyatakan minat untuk menerbitkan edisi cetak dalam bahasa mereka.

Kebanggaan dan Harapan Baru

Komunitas sastra Indonesia menyambut capaian ini dengan suka cita sekaligus harapan baru. Sejumlah pegiat literasi menilai pengakuan internasional ini dapat menjadi katalisator bagi penulis-penulis muda untuk lebih serius mengeksplorasi genre puisi esai dan tema-tema berbobot. Di sisi lain, pemerintah pusat melalui Badan Bahasa dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai merancang program pendampingan dan beasiswa riset sastra agar tradisi puisi esai dapat terus berkembang.

Kemenangan ini sekaligus menjadi jawaban atas keraguan bahwa sastra Indonesia masih berada dalam lingkaran lokal yang sempit. Dengan menempatkan kemanusiaan sebagai tema inti, sastra Indonesia mampu bersanding dengan karya-karya besar dunia tanpa kehilangan identitasnya.

Ke depan, diharapkan proyek penerjemahan ini akan disertai pula dengan program residensi dan diskusi publik di berbagai kota di dunia, sehingga dialog antarbudaya tidak hanya terjadi di atas kertas, tetapi juga di ruang-ruang nyata yang mempertemukan penulis, pembaca, dan penerjemah.

Penghargaan BRICS Literary Award dan terjemahan 35 bahasa ini bukan sekadar pencapaian administratif. Ini adalah pengakuan bahwa suara seorang penulis dari Nusantara yang menggigil dalam arus sejarah, nyatanya mampu menyalakan api peradaban yang hangat dan menjangkau hati banyak manusia di berbagai belahan bumi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User