Profil KH Abdussalam Shohib, Pengasuh PP Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang

JOMBANG — Nama KH Abdussalam Shohib atau yang lebih akrab disapa Gus Salam kembali menjadi sorotan publik setelah dirinya dipastikan masih memegang tampuk

Jul 14, 2026 - 14:26
0 0
Profil KH Abdussalam Shohib, Pengasuh PP Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang

JOMBANG — Nama KH Abdussalam Shohib atau yang lebih akrab disapa Gus Salam kembali menjadi sorotan publik setelah dirinya dipastikan masih memegang tampuk kepemimpinan sebagai salah satu pengasuh di Pondok Pesantren (PP) Mamba'ul Ma'arif, Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sosok kiai yang dikenal sederhana ini merupakan bagian dari generasi penerus trah ulama besar NU di Jombang, kota yang identik dengan julukan Kota Santri.

Keberadaan Gus Salam di lingkungan pesantren bukan sekadar simbolik. Ia dikenal aktif memberikan bimbingan langsung kepada ribuan santrinya setiap hari, mulai dari pengajian kitab kuning klasik hingga diskusi persoalan kekinian yang dihadapi generasi muda Muslim. Dalam tradisi pesantren salaf, peran pengasuh menjadi ujung tombak transmisi ilmu, akhlak, dan spiritualitas yang tidak bisa digantikan oleh struktur organisasi modern mana pun.

Latar Belakang dan Silsilah Keilmuan

KH Abdussalam Shohib lahir dan besar di lingkungan keluarga pesantren. Ia merupakan putra dari tokoh ulama Jombang yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan Islam. Sejak kecil, Gus Salam sudah ditempa dengan disiplin belajar kitab kuning di berbagai pesantren tua di Jawa Timur, termasuk menimba ilmu langsung kepada kiai-kiai sepuh yang menjadi rujukan umat.

Jejak keilmuannya kemudian melebar ke berbagai disiplin ilmu keislaman, mulai dari tafsir, hadits, fiqih, tasawuf, hingga ilmu alat seperti nahwu dan sharaf. Ketajaman analisisnya dalam membaca teks-teks klasik membuat dirinya kerap dipercaya menjadi rujukan bagi kiai lain ketika muncul persoalan ijtihad kontemporer.

"Pengasuh pesantren bukan hanya jabatan, melainkan amanah panjang yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat," ujar salah seorang alumni PP Mamba'ul Ma'arif kepada Lurusin.com, Kamis (13/2).

Peran Strategis di PP Mamba'ul Ma'arif Denanyar

PP Mamba'ul Ma'arif Denanyar merupakan salah satu pesantren tua di Jombang yang telah melahirkan banyak tokoh agama, politisi, hingga akademisi. Dalam struktur pengasuhan, KH Abdussalam Shohib memegang peran sentral bersama kiai-kiai senior lainnya. Ia bertanggung jawab atas pembinaan akhlak, kurikulum pengajian, hingga pengembangan karakter para santri.

Setiap harinya, Gus Salam memimpin pengajian kitab kuning secara bergiliran di masjid utama pesantren. Pola pengajiannya yang sistematis dan terstruktur menjadi salah satu ciri khas yang membedakan Mamba'ul Ma'arif dengan pesantren lain di kawasan Jombang. Tidak jarang, pengajiannya dihadiri pula oleh masyarakat umum dari luar pesantren yang ingin menimba ilmu langsung kepadanya.

Kiprah dan Pengaruh di Tingkat Jawa Timur

Di luar aktivitas internal pesantren, Gus Salam juga aktif dalam berbagai forum ulama Jawa Timur. Ia kerap diundang dalam bahtsul masail (diskusi hukum) yang digelar Nahdlatul Ulama (NU) tingkat wilayah hingga kabupaten. Dalam forum-forum tersebut, pendapatnya sering menjadi rujukan karena dianggap mewakili keseimbangan antara tradisi salaf dan kebutuhan zaman.

Pengaruhnya juga terasa dalam jaringan alumni yang tersebar di berbagai daerah. Banyak alumni PP Mamba'ul Ma'arif yang kini menjadi pengasuh pesantren di daerah asalnya masing-masing, sehingga jejaring keilmuan Gus Salam memiliki dampak yang jauh melampaui batas geografis Jombang.

Tantangan dan Dinamika Kekinian

Di era digital dan disrupsi informasi, pesantren tradisional menghadapi tantangan besar. Generasi muda Muslim kini memiliki banyak pilihan sumber belajar, mulai dari aplikasi fiqih daring, video ceramah, hingga platform diskusi internasional. Gus Salam menyadari hal ini dan mendorong para santrinya untuk tetap menjadikan pesantren sebagai basis utama ilmu, sembari memanfaatkan teknologi secara proporsional.

Menurut pengamat pendidikan Islam dari Universitas Negeri Surabaya, Dr. Ahmad Fauzi, M.Pd., peran pengasuh seperti Gus Salam tetap krusial di tengah gempuran informasi digital. "Pesantren butuh figur yang bisa menjadi filter sekaligus kurator pengetahuan. Tanpa figur ini, generasi muda bisa terjebak pada pemahaman tekstual yang dangkal," jelasnya saat dimintai keterangan terpisah.

Analisis: Figur Pengasuh di Era Modern

AspekPengasuh TradisionalPengasuh Era Modern
Media bimbinganPengajian lisan, soroganPengajian + platform digital
Basis legitimasiSilsilah keilmuanSilsilah + kapasitas publik
Jangkauan pengaruhLokal hingga regionalNasional hingga global

Dari tabel perbandingan di atas, terlihat bahwa figur seperti KH Abdussalam Shohib berada di persimpangan antara tradisi dan modernitas. Ia tetap mempertahankan pola pengajian klasik yang menjadi identitas pesantren, namun terbuka terhadap pemanfaatan teknologi untuk memperluas jangkauan dakwah.

Penutup

Keberadaan KH Abdussalam Shohib sebagai pengasuh PP Mamba'ul Ma'arif Denanyar menjadi pengingat bahwa warisan keilmuan pesantren salaf masih hidup dan relevan di tengah dinamika zaman. Dengan kombinasi antara ketegasan tradisi keluwesan menghadapi perubahan, sosoknya diharapkan terus menjadi rujukan moral dan intelektual bagi generasi Muslim Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User