Balap Manol Gabah di Banyuwangi, Tradisi Unik Adu Cepat Buruh Angkut yang Penuh Gelak Tawa
Banyuwangi - Pagi itu, tepian sawah di salah satu desa di Banyuwangi berubah menjadi arena pacuan yang meriah. Ratusan warga berkumpul, bersorak-sorai, menyaksikan para buruh angkut berlari sambil me
Banyuwangi - Pagi itu, tepian sawah di salah satu desa di Banyuwangi berubah menjadi arena pacuan yang meriah. Ratusan warga berkumpul, bersorak-sorai, menyaksikan para buruh angkut berlari sambil menjinjing manol, keranjang anyaman bambu berisi puluhan kilogram gabah hasil panen. Inilah Balap Manol Gabah, sebuah tradisi rakyat yang tak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga menjadi perekat kebersamaan komunitas petani di ujung timur Pulau Jawa.
Perlombaan ini bukan sekadar adu kecepatan. Setiap peserta harus mengangkat manol yang telah diisi penuh gabah kering dengan berat mencapai 25 hingga 30 kilogram. Mereka berlari menempuh jarak sekitar 100 meter, melintasi pematang sawah yang sempit dan kadang sedikit licin. Jatuh bangun menjadi tontonan tersendiri; sorak-sorai penonton justru kian membahana saat ada peserta yang oleng namun tetap gigih mempertahankan beban di pundaknya. Bagi warga, semakin banyak tingkah kocak, semakin seru acaranya.
Dari Pengangkut Hasil Panen Menjadi Atlet Dadakan
Para peserta Balap Manol Gabah adalah buruh angkut yang sehari-hari memang bertugas membawa hasil panen dari sawah ke tempat penjemuran. Mereka biasa menggotong manol berisi dua karung gabah sekaligus, menyeimbangkannya di pundak dengan keahlian yang terasah sejak lama. Lomba ini menjadi ajang unjuk kecepatan dan ketangkasan yang sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Menurut Samin (45), salah satu peserta yang telah mengikuti tradisi ini sejak muda, selain menyenangkan, lomba ini juga membuat para buruh tani merasa dihargai. "Kami yang biasanya cuma bekerja di balik layar, di sini bisa jadi pusat perhatian. Keringat kami jadi tontonan, tapi rasanya bangga," ujarnya seperti dilaporkan oleh media kami.
"Kami yang biasanya cuma bekerja di balik layar, di sini bisa jadi pusat perhatian. Keringat kami jadi tontonan, tapi rasanya bangga."
Lebih dari Sekadar Adu Cepat
Balap Manol Gabah biasanya digelar setelah musim panen raya. Bagi warga, tradisi ini adalah bentuk syukur atas hasil bumi yang melimpah. Panitia yang berasal dari kelompok tani setempat menyiapkan hadiah sederhana, mulai dari peralatan tani hingga uang tunai hasil swadaya. Namun, para peserta tidak terlalu memusingkan hadiah. Yang lebih penting adalah menjaga tali persaudaraan dan menciptakan kenangan yang akan diceritakan hingga musim tanam berikutnya.
Menurut Sutrisno, Ketua Kelompok Tani Mulyo, tradisi ini sudah berlangsung selama puluhan tahun. "Kami ingin menegaskan bahwa profesi buruh angkut itu mulia. Mereka adalah otot dari panen kami. Lewat balapan ini, kami tunjukkan bahwa pekerjaan mereka bisa membanggakan," katanya kepada laporan Lurusin.com. Ia juga berharap, melalui pemberitaan seperti yang dilakukan media kami, generasi muda tidak malu untuk meneruskan tradisi yang dikemas dengan sederhana namun penuh makna ini.
Hingga kini, Balap Manol Gabah masih terus dilestarikan tanpa kehilangan roh aslinya: tawa, teriakan penyemangat, dan suara kaki-kaki kekar yang bersinggungan dengan lumpur sawah. Dari Banyuwangi, tradisi ini membuktikan bahwa kebersamaan bisa tumbuh dari sebuah perlombaan yang lahir dari keringat dan canda.
Comments (0)