Ahli Gizi Ingatkan Risiko Dehidrasi Anak Saat Gelombang Panas
Kenaikan suhu ekstrem yang melanda sejumlah wilayah dalam sepekan terakhir membuat anak-anak menjadi kelompok paling rentan mengalami dehidrasi. Kepala Din
Kenaikan suhu ekstrem yang melanda sejumlah wilayah dalam sepekan terakhir membuat anak-anak menjadi kelompok paling rentan mengalami dehidrasi. Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr. Putri Wulandari, dalam keterangan pers, Senin (12/6), menegaskan bahwa kasus anak yang dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit akibat gangguan keseimbangan cairan tubuh meningkat drastis. “Orang tua perlu lebih waspada. Anak, terutama balita, belum bisa mengenali rasa haus dengan baik dan cepat kehilangan cairan tubuh saat bermain di luar ruangan,” ujarnya.
Gelombang Panas Picu Lonjakan Kunjungan ke Fasilitas Kesehatan
Berdasarkan data rekapitulasi Dinas Kesehatan, tercatat peningkatan kunjungan anak dengan gejala dehidrasi sebesar 42 persen dalam sepuluh hari terakhir. Suhu maksimum harian di Surabaya menembus 37 derajat Celsius, sementara di Bekasi dan Semarang bahkan mencapai 38 derajat Celsius. Kondisi ini menyebabkan banyak anak mengeluh pusing, bibir kering, dan tubuh lemas setelah beraktivitas di siang hari. dr. Riko Andrianto, spesialis anak dari RSUD Dr. Soetomo, mengungkapkan bahwa dari 40 pasien anak yang dirujuk dalam satu minggu terakhir, 15 di antaranya menunjukkan tanda-tanda dehidrasi sedang hingga berat. “Ini lonjakan yang signifikan. Bila tidak segera ditangani, bisa berujung pada gangguan fungsi ginjal dan syok hipovolemik,” jelasnya.
Kronologi Kejadian yang Menjadi Alarm Darurat
Rangkaian peristiwa yang memicu kewaspadaan otoritas kesehatan setempat terangkum dalam urutan berikut:
- Jumat, 9 Juni 2026 — Posko kesehatan di kawasan Jalan Diponegoro menerima 12 anak dengan keluhan bibir biru dan kelelahan setelah lomba mewarnai siang hari; tiga anak segera dirujuk ke IGD.
- Sabtu, 10 Juni 2026 — Puskesmas Pucang Sewu mencatatkan 25 kasus baru muntaber ringan yang berujung dehidrasi pada anak usia 3–7 tahun; seluruhnya memiliki riwayat bermain di taman tanpa botol minum.
- Minggu, 11 Juni 2026 — Tim medis RSUD Dr. Soetomo melakukan pemasangan infus darurat pada delapan anak yang tidak sadarkan diri akibat heat exhaustion. Salah satu pasien, balita berusia 4 tahun, sempat mengalami kejang akibat kekurangan elektrolit.
- Senin, 12 Juni 2026 — Dinas Kesehatan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 443.2/1123/DINKES yang mewajibkan seluruh sekolah dasar menunda aktivitas luar ruangan hingga pukul 15.00 serta menginstruksikan distribusi oralit gratis ke setiap kelurahan.
Mengapa Anak Jadi Sasaran Utama?
Dokter spesialis anak, Dr. Sari Lestari, Sp.A(K), menjelaskan bahwa proporsi luas permukaan tubuh anak terhadap berat badannya lebih besar dibandingkan orang dewasa. Akibatnya, mereka lebih cepat menyerap panas dan kehilangan cairan melalui keringat.
“Anak di bawah lima tahun memiliki mekanisme pengaturan suhu yang belum sempurna. Jika terpapar suhu di atas 35 derajat lebih dari 20 menit, risiko dehidrasi bisa naik hingga tiga kali lipat. Perhatikan bila anak tiba-tiba rewel, lemas, atau tidak pipis selama enam jam,”ujarnya dalam seminar kesehatan daring, Selasa (13/6).
Langkah Konkret Melindungi Buah Hati
Orang tua dan pengasuh dapat menerapkan empat jurus pencegahan yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI):
- Perbanyak tawaran minum setiap 30 menit. Jangan tunggu anak berkata haus. Gunakan waktu pengingat di ponsel agar anak menerima asupan air putih, infused water, atau jus buah tanpa gula tambahan secara terjadwal.
- Kenali warna urin sebagai indikator hidrasi. Urin anak yang sehat berwarna jernih kekuningan. Jika mulai pekat seperti teh, segera berikan cairan elektrolit dan kurangi aktivitasnya.
- Pilih pakaian katun longgar berwarna terang. Bahan yang menyerap keringat dan model longgar mampu menurunkan suhu tubuh permukaan hingga 2 derajat, menghambat penguapan cairan berlebih.
- Siapkan perlengkapan darurat sederhana. Setiap tas berisi botol air 600 ml, oralit kemasan, kipas lipat, dan semprotan air. Bila anak muntah atau diare, oralit langsung diberikan sebelum ke fasilitas kesehatan.
Respons Masyarakat dan Gerakan “Anak Sehat Tanpa Dehidrasi”
Merespons instruksi Dinas Kesehatan, Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kota Surabaya meluncurkan gerakan kolektif bertajuk “Anak Sehat Tanpa Dehidrasi”. Sebanyak 127 TK dan PAUD kini menyediakan water station di area indoor dan menerapkan jeda minum setiap mata pelajaran. Wali Murid TK Mentari, Rina Puspita (32), mengaku kebijakan itu membantu anaknya yang tadinya susah minum. “Sekarang guru ikut mengawasi, anak saya justru senang karena seperti games — berlomba menghabiskan sebotol air sebelum istirahat,” katanya.
Di tingkat provinsi, Dinas Kesehatan Jawa Timur turun tangan dengan menyebarkan 100.000 paket oralit dan alat peraga deteksi dehidrasi di 38 puskesmas. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Agus Supriyanto, menyatakan bahwa kerjasama dengan BPBD juga dijalin guna menyediakan posko pendingin dan naungan tambahan di area bermain publik. Pihaknya menargetkan penurunan angka kejadian dehidrasi berat pada anak hingga 60 persen dalam dua bulan mendatang.
Dengan sinergi lintas sektor dan kesadaran orang tua yang terus dibangun, para pakar optimis gelombang panas musim ini dapat dilalui tanpa peningkatan kasus serius lebih lanjut. Namun, pesan tegas tetap disampaikan: jangan remehkan haus kecil anak. Satu gelas air setiap setengah jam bisa menjadi pagar terbaik melawan ancaman dehidrasi yang mengintai di tengah cuaca ekstrem.
[SOCIAL_TWEET]: Gelombang panas picu lonjakan dehidrasi anak hingga 42%. IDAI bagikan 4 langkah mudah cegah si kecil kehilangan cairan. Satu gelas tiap 30 menit bisa selamatkan nyawa! #DehidrasiAnak #GelombangPanas #KesehatanAnak[SOCIAL_TG]: 🥵 Gelombang panas sedang tinggi, pantau terus minum si kecil ya, Bun! Jangan tunggu dia bilang haus. Cek urin teratur, bawa bekal air, dan jaga waktu main di luar. #DehidrasiAnak
Comments (0)