Houthi: Serangan Saudi Tandai Akhir Gencatan Senjata dan Perang Baru

Ketegangan di Yaman kembali memuncak setelah gerakan Houthi yang menguasai ibu kota Sanaa dengan keras mengutuk serangan udara Arab Saudi yang menghantam B

Jul 14, 2026 - 03:36
0 0
Houthi: Serangan Saudi Tandai Akhir Gencatan Senjata dan Perang Baru

Ketegangan di Yaman kembali memuncak setelah gerakan Houthi yang menguasai ibu kota Sanaa dengan keras mengutuk serangan udara Arab Saudi yang menghantam Bandara Internasional Sanaa. Serangan yang berlangsung pada Senin dini hari itu tidak hanya meluluhlantakkan fasilitas vital, tetapi juga menewaskan setidaknya 14 warga sipil dan melukai 30 lainnya. Dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi, Houthi menegaskan bahwa insiden ini merupakan "akhir dari gencatan senjata yang rapuh" dan menjadi penanda dimulainya fase perang baru. "Kami tidak akan tinggal diam. Ini adalah deklarasi perang terbuka terhadap rakyat Yaman," ujar jubir militer Houthi, Yahya Saree, dengan nada marah.

Kronologi Serangan yang Hancurkan Simbol Harapan

Bandara Internasional Sanaa merupakan jalur napas utama bantuan kemanusiaan dan transportasi bagi jutaan penduduk Yaman yang terkepung konflik lebih dari sembilan tahun. Sejak gencatan senjata yang ditengahi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai berlaku pada April 2022, bandara itu menjadi simbol pulihnya secercah normalitas. Namun, serangan rudal dan drone yang dilancarkan koalisi pimpinan Saudi telah menghancurkan sebagian landasan pacu dan gedung terminal, memaksa penghentian total seluruh operasi penerbangan. Menurut sumber medis di Sanaa, korban tewas termasuk dua anak-anak dan tiga petugas bandara, sementara puluhan lainnya menderita luka serius akibat ledakan dan reruntuhan.

Gencatan senjata yang sempat diperpanjang beberapa kali sebenarnya berhasil menekan intensitas pertempuran, meski diwarnai pelanggaran-pelanggaran sporadis. Pada pekan lalu, kedua kubu saling melontarkan tuduhan terkait serangan lintas perbatasan. Akan tetapi, skala kerusakan dan jatuhnya korban jiwa di bandara menjadikan insiden ini sebagai eskalasi paling brutal dalam dua tahun terakhir. Saksi mata menuturkan, dentuman keras terdengar hingga radius lima kilometer, diikuti kepulan asap hitam yang membubung tinggi di langit Sanaa.

Reaksi Houthi: Ancaman Balasan dan Mobilisasi Massal

Tak butuh waktu lama bagi Houthi untuk merespons. Pemimpin de facto mereka, Abdul-Malik al-Houthi, muncul dalam pidato televisi dengan nada berapi-api.

"Arab Saudi harus menanggung konsekuensi penuh atas agresi biadab ini. Kami akan membalas dengan kekuatan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Tahap baru perlawanan telah dimulai,"
tegasnya. Selain retorika, Houthi dikabarkan segera memobilisasi unit-unit rudal balistik dan drone tempur mereka—senjata yang selama ini menjadi andalan untuk menargetkan instalasi minyak dan bandara di wilayah Saudi.

Gelombang kepanikan langsung melanda Sanaa. Instruksi dari komando Houthi agar warga bersiap menghadapi kemungkinan serangan balasan membuat pasar-pasar mendadak sepi. Warga mulai menimbun bahan makanan dan bahan bakar, sementara sekolah-sekolah ditutup tanpa kepastian. "Kami baru saja merasa sedikit tenang setelah dua tahun tanpa pertempuran besar, sekarang semua runtuh lagi," keluh Amina, seorang ibu tiga anak di distrik utara Sanaa.

Dampak Kemanusiaan: Rantai Pasokan di Ambang Putus

Bagi rakyat Yaman yang sudah lama menderita akibat blokade, kelaparan, dan wabah penyakit, eskalasi ini adalah mimpi buruk yang menjadi nyata. Bandara Sanaa adalah pintu masuk bagi sekitar 80 persen bantuan medis dan pangan dari lembaga-lembaga internasional. Penutupannya mengancam putusnya rantai pasokan yang sudah sangat rapuh. Data terbaru PBB mencatat bahwa lebih dari 21 juta orang—atau dua pertiga populasi Yaman—kini bergantung penuh pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.

Organisasi kemanusiaan pun bereaksi keras. "Setiap jam bandara tak berfungsi, nyawa ribuan pasien yang memerlukan evakuasi medis berada dalam bahaya," ujar perwakilan UNICEF di Yaman. Sementara itu, harga bahan makanan dan bahan bakar di pasar gelap meroket hingga tiga kali lipat dalam waktu 24 jam, memicu kekhawatiran PBB akan terjadinya kelaparan massal di provinsi-provinsi utara seperti Hajjah dan Saada.

Analisis: Babak Baru Perang Abadi yang Gagal Didamaikan

Serangan ini menjadi bukti nyata kegagalan diplomasi internasional dalam menuntaskan perang Yaman yang telah merenggut lebih dari 377.000 nyawa, menurut estimasi PBB. Mayoritas korban adalah warga sipil yang tewas akibat serangan udara, kelaparan, dan penyakit yang seharusnya bisa dicegah.

Pengamat konflik Timur Tengah, Dr. Farea al-Muslimi dari Chatham House, menilai insiden ini sebagai titik balik yang berbahaya. "Gencatan senjata sejatinya sudah dalam kondisi mati suri sejak tahun lalu. Serangan ini adalah paku terakhir di peti matinya," ujarnya. Di sisi lain, Riyadh belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun sumber militer Saudi menyebut serangan itu sebagai respons terhadap dugaan penyelundupan senjata dan drone melalui bandara yang dikuasai Houthi.

TanggalPeristiwa Penting
Maret 2015Koalisi pimpinan Arab Saudi memulai intervensi militer di Yaman
April 2022Gencatan senjata dua bulan yang ditengahi PBB mulai berlaku
Oktober 2022Perpanjangan gencatan senjata berakhir tanpa kesepakatan baru, namun kekerasan tetap rendah
Senin (pekan ini)Serangan Saudi di Bandara Sanaa memicu deklarasi perang baru oleh Houthi

Sekretaris Jenderal PBB dan Amerika Serikat telah mendesak kedua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Namun, dengan mengerasnya posisi Houthi dan absennya komunikasi langsung antara Riyadh dan Sanaa, harapan untuk kembali ke jeda kemanusiaan tampak semakin tipis. Yaman, sekali lagi, berada di ambang perang terbuka yang seolah tak berkesudahan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User