Lonjakan 70% Penumpang KRL di Manggarai Saat Nyepi
Suasana Stasiun Manggarai, Jakarta, pada Selasa (28/3) berubah drastis. Ribuan orang memadati peron dan area tunggu, menciptakan pemandangan yang jauh dari
Suasana Stasiun Manggarai, Jakarta, pada Selasa (28/3) berubah drastis. Ribuan orang memadati peron dan area tunggu, menciptakan pemandangan yang jauh dari keseharian. Mereka bukanlah komuter kantoran, melainkan warga yang memanfaatkan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 untuk berlibur. Sejak pagi, arus penumpang terus mengalir tanpa henti, menjadikan salah satu stasiun transit terbesar di Indonesia itu bak pusat keramaian musiman. Laporan Liputan6.com dengan gamblang merekam betapa perayaan suci umat Hindu yang identik dengan kesunyian justru memicu “riak” mobilitas massal di sektor transportasi publik.
Angka Kejut di Tengah Libur Suci
Data PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengonfirmasi lonjakan tersebut: volume penumpang di Stasiun Manggarai pada hari H Nyepi melesat hingga 70% di atas rata-rata harian. Normalnya, sekitar 120.000 orang melintasi stasiun ini setiap hari, namun pada 28 Maret angka tersebut menembus 204.000 penumpang. Ini bukan sekadar peningkatan, melainkan rekor kepadatan untuk periode libur keagamaan tahun ini. Tak hanya Manggarai, stasiun-stasiun vital lainnya turut mengalami imbas serupa. Berikut perbandingan volume penumpang di sejumlah stasiun utama:
| Stasiun | Rata-rata Harian | Hari Nyepi | Kenaikan |
|---|---|---|---|
| Manggarai | 120.000 | 204.000 | 70% |
| Tanah Abang | 85.000 | 136.000 | 60% |
| Sudirman | 65.000 | 104.000 | 60% |
| Duri | 55.000 | 88.000 | 60% |
Secara keseluruhan, total pengguna KRL di lintas Jabodetabek pada hari itu mencapai 1,87 juta orang, naik sekitar 65% dari rerata 1,13 juta per hari. Angka ini mendekati volume puncak yang biasanya hanya terjadi saat mudik Lebaran atau libur akhir tahun.
Kesiagaan Operator dan Rekayasa Layanan
Eva Chairunisa, VP Corporate Communications KCI, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mempersiapkan skenario khusus jauh-jauh hari. “Kami memahami antusiasme masyarakat untuk memanfaatkan libur panjang ini, baik untuk wisata maupun pulang kampung,” ujarnya. Untuk mengantisipasi gelombang penumpang, KCI mengoperasikan 1.098 perjalanan kereta per hari, termasuk kereta feeder tambahan yang disiagakan di titik-titik rawan kepadatan. Jam operasional juga diperpanjang di beberapa lintas untuk mengakomodasi penumpang yang baru tiba di malam hari.
“Lonjakan ini sudah kami prediksi sejak sepekan sebelumnya. Oleh karena itu, kami menambah petugas keamanan, petugas layanan informasi, serta melakukan rekayasa pola operasi secara dinamis untuk mengurai kerumunan,” jelas Eva.
Lebih dari 250 personel tambahan dikerahkan di Stasiun Manggarai saja, terdiri dari petugas pengamanan, Customer Service Mobile, dan tim medis. Mereka bertugas mengatur antrean di pintu masuk, mengarahkan penumpang ke peron yang tepat, serta memberikan pertolongan pertama jika ada yang pingsan akibat berdesakan. Di beberapa titik, batas maksimal penumpang di peron diterapkan secara ketat, sehingga kereta hanya bisa diberangkatkan setelah kepadatan berkurang.
Tren Musiman dan Perilaku Warga
Fenomena ini bukanlah anomali. Pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi (Instran), Darmaningtyas, mengatakan bahwa setiap kali libur panjang keagamaan tiba, lonjakan mobilitas adalah keniscayaan. “KRL menjadi pilihan utama karena efisien, murah, dan bebas macet. Apalagi harga tiketnya tidak berubah meskipun permintaan naik,” katanya. Menurutnya, rute favorit penumpang saat Nyepi umumnya menuju Bogor, Bekasi, dan Rangkasbitung, yang merupakan gerbang wisata dan daerah asal perantau.
“Masyarakat kita sangat adaptif. Ketika harga BBM naik atau jalan tol macet, mereka langsung beralih ke kereta. Libur Nyepi kali ini berbarengan dengan akhir pekan sehingga banyak yang nekat berangkat meski harus berdiri berdesakan,” imbuh Darmaningtyas.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas penumpang membawa barang bawaan berukuran sedang—ransel dan tas jinjing—yang menandakan perjalanan singkat untuk liburan atau silaturahmi. Sebagian di antaranya adalah keluarga muda dengan anak kecil yang rela berdesakan demi menghemat ongkos perjalanan. “Dari pada naik mobil kena macet di Puncak, mending naik KRL sampai Bogor terus lanjut angkot,” ujar Rina, seorang penumpang yang hendak berlibur ke kawasan Cisarua.
Tantangan Kenyamanan dan Keamanan
Namun, melonjaknya volume penumpang tak lepas dari dampak negatif. Sejumlah penumpang mengeluhkan kondisi kereta yang pengap dan sesak. Di beberapa gerbong, suhu dalam kabin terasa lebih panas karena AC kewalahan dengan kapasitas yang melebihi desain optimal. “Tadi pas di kereta arah Bogor, saya hampir tidak bisa bernapas. Banyak yang batuk-batuk,” tutur Andi, pekerja swasta yang terpaksa menggunakan KRL untuk menuju rumah kerabatnya.
Pihak KCI mengakui adanya pengaduan tersebut dan memastikan bahwa seluruh armada yang beroperasi dalam kondisi prima. “Kami rutin melakukan perawatan AC, namun pada kondisi overload ekstrem seperti ini, kenyamanan memang sedikit terganggu. Kami mohon maaf dan terus berupaya menambah armada secara bertahap,” kata Eva. Selain kenyamanan termal, risiko keamanan juga meningkat. Kepolisian Daerah Metro Jaya dan petugas Satpol PP diterjunkan untuk mencegah pencopetan dan menjaga ketertiban di area stasiun.
Pembangunan Infrastruktur dan Harapan ke Depan
Lonjakan penumpang saat libur keagamaan menjadi “tes stres” bagi sistem KRL Jabodetabek. Di tengah proyek pembangunan Stasiun Manggarai tahap akhir dan pengembangan jalur dwiganda, insiden kepadatan ini menegaskan urgensi percepatan modernisasi. Rencana penambahan 16 rangkaian kereta baru pada akhir tahun diharapkan bisa menambah kapasitas angkut hingga 15%. Di sisi lain, wacana penerapan tarif progresif saat jam sibuk dan hari libur juga mencuat kembali untuk mengelola permintaan.
Terlepas dari segala keterbatasan, antusiasme publik terhadap moda transportasi ini tak perlu diragukan. KRL telah menjadi urat nadi mobilitas warga Jabodetabek, dan peristiwa Nyepi 2023 kembali menjadi buktinya. Kini, pekerjaan rumah bagi semua pemangku kepentingan adalah memastikan bahwa lonjakan musiman semacam ini bisa dilayani dengan aman, nyaman, dan berkelanjutan—bukan sekadar menjadi rutinitas darurat yang berulang.
Comments (0)