Warga Cikampek Itikaf Masjid Asy-Syuhada demi Malam Lailatul Qadar

Malam ke-27 Ramadan 1443 Hijriah menjadi salah satu titik paling sakral bagi umat Islam di seantero penjuru Tanah Air. Di Masjid Asy-Syuhada, Cikampek, Kab

Jul 14, 2026 - 13:42
0 0
Warga Cikampek Itikaf Masjid Asy-Syuhada demi Malam Lailatul Qadar

Malam ke-27 Ramadan 1443 Hijriah menjadi salah satu titik paling sakral bagi umat Islam di seantero penjuru Tanah Air. Di Masjid Asy-Syuhada, Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, suasana religius begitu terasa ketika ratusan warga memadati area masjid untuk menjalani itikaf—sebuah tradisi spiritual yang dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan suci.

Sejak maghrib hingga menjelang subuh, jamaah silih berganti datang dengan membawa Alquran, sajadah, dan tekad bulat untuk meraih Lailatul Qadar, malam yang dipercaya setara dengan seribu bulan ibadah. Dokumentasi fotografer merdeka.com, Imam Buhori, Jumat (29/4/2022), merekam bagaimana kekhusyukan warga begitu kentara ketika mereka duduk bersila di atas karpet masjid, melantunkan ayat-ayat suci dengan suara pelan yang saling menyahut.

Makna Itikaf dalam Tradisi Umat Islam

Itikaf bukan sekadar bermalam di masjid. Secara bahasa, kata ini berasal dari bahasa Arab akifa yang berarti menetapkan diri untuk tinggal di sebuah tempat. Dalam konteks ibadah Ramadan, itikaf bermakna menyendiri di dalam masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT, menjauhi hiruk-pikuk duniawi, dan memfokuskan diri pada dzikir, doa, serta tilawah.

Menurut para ulama, itikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah SAW sendiri melakukan kebiasaan ini setiap tahun, menunggu turunnya Lailatul Qadar—malam yang注定 menjadi penentu takdir manusia selama setahun ke depan.

"Kami datang bukan sekadar menunggu malam yang diberkahi, tetapi untuk melatih kesabaran, ketenangan, dan kepekaan hati. Rasanya berbeda ketika kita benar-benar menyendiri di rumah Allah," ujar Ahmad Fauzi, salah seorang jamaah yang telah menjalani itikaf sejak malam ke-21 Ramadan.

Suasana Malam di Masjid Asy-Syuhada

Masjid Asy-Syuhada Cikampek memilih membuka seluruh ruangan utama untuk menampung jamaah itikaf. Panitia menyedikan air minum, makanan ringan untuk sahur bersama, serta jadwal imam yang memimpin qiyamul lail secara bergantian. Lampu-lampu remang berwarna kuning keemasan menambah kesan mistis namun tetap hangat, menciptakan atmosfer yang sulit ditemukan di tempat lain.

Tidak hanya laki-laki dewasa, beberapa remaja dan anak-anak juga turut serta dengan pendampingan orang tua mereka. Ada yang asyik membaca Alquran dengan tajwid yang fasih, ada pula yang sekadar merenungkan ayat-ayat dengan mata terpejam. Beberapa warga tampak menangis diam-diam saat berdoa, pertanda betapa dalamnya permohonan mereka kepada Sang Pencipta.

Harapan di Balik Malam Penuh Berkah

Bagi warga Cikampek, itikaf bukan hanya ritual个人, tetapi juga momentum memperkuat tali silaturahmi antarwarga. Mereka yang datang dari latar belakang berbeda—petani, pedagang, pegawai, hingga pelajar—berbaur dalam satu ruangan dengan satu tujuan: meraih ridha Allah.

Berikut beberapa aktivitas yang dilakukan jamaah selama itikaf:

  • Tilawah Alquran secara individu maupun berjamaah
  • Dzikir dan selawat untuk memohon keberkahan
  • Qiyamul lail atau shalat malam dengan khusyuk
  • Doa bersama untuk keselamatan diri, keluarga, dan bangsa
  • Tafakur atau perenungan diri atas kesalahan dan dosa

Menurut data yang dihimpun panitia masjid, jumlah jamaah itikaf pada malam ke-27 tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran spiritual masyarakat Cikampek terhadap sepuluh hari terakhir Ramadan terus tumbuh. Banyak jamaah yang mengaku初めて merasakan kedamaian luar biasa setelah beberapa tahun tidak sempat mengikuti itikaf karena kesibukan bekerja.

Tantangan dan Komitmen Jamaah

Tidak mudah menjalani itikaf di tengah padatnya aktivitas harian. Beberapa jamaah harus mengambil cuti kerja atau mengatur waktu sedemikian rupa agar bisa hadir. Ada yang rela menempuh perjalanan puluhan kilometer dari rumah mereka di pelosok Karawang demi merasakan atmosfer masjid pada malam-malam istimewa.

"Saya bekerja sebagai supir truk. Setiap Ramadan, saya selalu menyisihkan waktu untuk itikaf. Rezeki boleh dicari setiap hari, tapi Lailatul Qadar hanya datang setahun sekali," tutur H. Mansyur, jamaah berusia 52 tahun dengan mata berkaca-kaca.

Penutup: Spiritualitas yang Tak Terbeli

Malam itu, Masjid Asy-Syuhada menjelma menjadi oasis spiritual di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Jamaah pulang menjelang subuh dengan hati yang lebih ringan, tekad yang lebih kuat, dan harapan baru bahwa doa-doa mereka akan dijawab di malam yang penuh keberkahan. Itikaf bukan hanya tradisi, melainkan perjalanan batin yang mempertemukan manusia dengan Tuhannya—dan dengan dirinya sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User