Waka MPR: Tingginya Jumlah Perokok Anak Jadi Alarm Krisis, Langkah Nyata Harus Segera Diambil
Jakarta – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat yang akrab disapa Rerie, menyoroti tingginya angka perokok anak di Indonesia. Dalam keterangan tertulis yang diterima Lurusin.com pada Jumat (3/7/202
Jakarta – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat yang akrab disapa Rerie, menyoroti tingginya angka perokok anak di Indonesia. Dalam keterangan tertulis yang diterima Lurusin.com pada Jumat (3/7/2026), ia menekankan bahwa perlu langkah nyata dan terukur yang melibatkan semua pihak untuk menekan jumlah anak yang merokok. Permasalahan ini, menurut Rerie, harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.
Lingkungan Keluarga Jadi Garda Terdepan
Rerie menegaskan bahwa pemahaman masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat harus terus ditingkatkan sejak dari rumah. Ia meyakini bahwa dengan fondasi yang kuat dari keluarga, kesadaran untuk membangun generasi yang sehat dan tangguh akan tumbuh dengan sendirinya.
"Pemahaman masyarakat terkait pentingnya pola hidup sehat harus terus ditingkatkan mulai dari lingkungan keluarga, sehingga kesadaran untuk mewujudkan generasi yang kuat dan tangguh terus tumbuh," ujar Rerie.
Menurutnya, orang tua memiliki peran vital dalam memberikan contoh dan edukasi mengenai bahaya merokok. Tanpa keterlibatan langsung dari keluarga, upaya pemerintah dan berbagai kampanye kesehatan akan sulit mencapai hasil maksimal.
Data yang Mengkhawatirkan
Laporan dari Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI) Foundation menunjukkan betapa seriusnya masalah ini. Sepanjang tahun 2025, terdapat 2,03 juta anak remaja di Indonesia yang menjadi perokok aktif. Mereka menghabiskan dana hingga Rp4,5 triliun per tahun hanya untuk membeli rokok, dengan total konsumsi mencapai 4,17 miliar batang.
Angka-angka tersebut, kata Rerie, tidak boleh dipandang sekadar sebagai statistik biasa, melainkan sebagai tanda bahaya yang mengancam masa depan bangsa. "Ini adalah alarm krisis," tegasnya.
Ancaman bagi Indonesia Emas 2045
Politisi Partai NasDem itu mengaitkan tingginya jumlah perokok anak dengan visi besar Indonesia Emas 2045. Jika tidak segera diatasi, generasi muda yang seharusnya menjadi tulang punggung negara di masa depan justru akan tumbuh dengan berbagai masalah kesehatan serius akibat konsumsi nikotin sejak dini.
"Angka itu bukan sekadar statistik, tetapi alarm krisis yang mengancam masa depan generasi Indonesia Emas 2045," imbuhnya.
Rerie mendorong seluruh elemen masyarakat untuk bergerak bersama, mulai dari pengawasan orang tua, peran sekolah, hingga regulasi yang lebih ketat terkait penjualan rokok kepada anak di bawah umur. Ia optimistis, dengan langkah nyata yang terintegrasi, Indonesia masih bisa menyelamatkan generasi penerus dari jeratan rokok.
Lurusin.com akan terus memantau perkembangan isu kesehatan anak ini dan mendorong berbagai pihak untuk mengambil aksi konkret demi masa depan generasi bangsa.
Comments (0)