Sumbawa Barat — Pembangunan Smelter Amman Mineral Capai 76,1%, Pemurnian Logam Mulia 72,7%

Pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga milik PT Amman Mineral Internasional Tbk di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat,

Jul 08, 2026 - 21:05
0 0
Sumbawa Barat — Pembangunan Smelter Amman Mineral Capai 76,1%, Pemurnian Logam Mulia 72,7%

Pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga milik PT Amman Mineral Internasional Tbk di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, mencatatkan kemajuan fisik sebesar 76,1%. Secara paralel, konstruksi unit pemurnian logam mulia — yang akan memproses lumpur anoda dari smelter tembaga menjadi emas dan perak batangan — mencapai 72,7%. Angka ini merupakan data terbaru yang dirilis oleh manajemen AMMAN pada laporan progres triwulan pertama 2025, memperlihatkan percepatan signifikan dari periode sebelumnya.

Proyek yang menelan investasi lebih dari US$1,5 miliar ini merupakan bagian dari mandat hilirisasi mineral sesuai Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba. Smelter tembaga Amman dirancang untuk mengolah 1,2 juta ton konsentrat tembaga per tahun, menghasilkan katoda tembaga sebagai produk utama, serta asam sulfat sebagai produk sampingan. Adapun pemurnian logam mulia akan menghasilkan 30 ton emas dan 100 ton perak per tahun dalam kondisi operasi penuh.

Meski kedua komponen utama konstruksi belum sepenuhnya sinkron, selisih progres sekitar 3,4 poin persentase antara smelter tembaga dan pemurnian logam mulia lazim terjadi karena kompleksitas teknis yang berbeda. Manajemen proyek memastikan bahwa pekerjaan sipil, instalasi peralatan utama, dan pengelasan jaringan pipa bertekanan tinggi telah rampung. Saat ini, fokus beralih pada pre-commissioning dan pengujian sistem kelistrikan serta instrumentasi.

Analisis Progres dan Target Operasi

Berdasarkan jadwal yang disampaikan dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR-RI pada Februari 2025, mechanical completion smelter tembaga Amman ditargetkan pada September 2025, diikuti tahap commissioning selama tiga bulan hingga akhir 2025. Jika progres konstruksi saat ini mencapai 76,1%, maka diperlukan penyelesaian sekitar 23,9% dalam waktu enam bulan, atau rata-rata 3,98% per bulan. Kinerja ini realistis mengingat pada kuartal keempat 2024 progres hanya menyentuh 65%, yang berarti ada lonjakan pencapaian 11,1% dalam tiga bulan terakhir. Dengan laju serupa, target completion dapat terkejar.

Namun, patut dicermati bahwa penyelesaian konstruksi tidak identik dengan produksi komersial. Masih terdapat tahap uji coba, ramp-up produksi, dan sertifikasi yang memengaruhi perolehan pendapatan. Direktur Utama PT Amman Mineral Internasional Tbk, dalam public expose Januari 2026, memperkirakan produksi perdana katoda tembaga akan dimulai pada kuartal pertama 2026.

Perbandingan Progres Smelter Nasional

Untuk konteks yang lebih luas, berikut perbandingan kemajuan smelter tembaga utama di Indonesia (data per 31 Maret 2025, dihimpun dari Kementerian ESDM dan laporan perusahaan):

Perusahaan Lokasi Progres Konstruksi Smelter Tembaga Target Operasi Komersial
PT Amman Mineral Industri Sumbawa Barat, NTB 76,1% Q1 2026
PT Freeport Indonesia (Smelter Manyar) Gresik, Jawa Timur 99% Juni 2025
PT Smelting (Eksisting, ekspansi) Gresik, Jawa Timur N/A (operasi) Kapasitas 1,3 juta ton/tahun

Smelter Manyar milik Freeport Indonesia yang lebih dulu konstruksinya nyaris rampung akan menyerap seluruh produksi konsentrat dari tambang Grasberg. Sementara smelter Amman menjadi tumpuan pengolahan konsentrat dari tambang Batu Hijau, yang pada 2025 memiliki produksi rata-rata 650-700 ribu ton konsentrat per tahun. Kehadiran dua smelter besar ini akan menghentikan ekspor konsentrat tembaga mentah paling lambat Juli 2025 sesuai ketentuan relaksasi pemerintah, sekaligus membuka hilirisasi logam renik seperti selenium, tellurium, dan platinum group metals (PGM) yang selama ini ikut terbawa dalam ekspor konsentrat.

Dampak Ekonomi dan Kedaulatan Industri

Smelter Amman bukan sekadar infrastruktur fisik. Ia merepresentasikan transformasi rantai pasok pertambangan nasional dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen logam olahan. Dengan produksi katoda tembaga, Indonesia dapat memperkuat posisi dalam rantai pasok global yang didorong oleh permintaan untuk kendaraan listrik dan energi terbarukan. Katoda tembaga Amman akan mencapai kemurnian 99,99%, setara standar London Metal Exchange (LME), sehingga langsung dapat diperdagangkan di pasar internasional. Sementara itu, emas dan perak hasil pemurnian akan disalurkan ke industri perhiasan dan komponen elektronik dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor logam mulia.

Secara fiskal, operasional smelter ini diproyeksikan menyumbang Rp 7,5 triliun per tahun dalam bentuk pajak dan royalti kepada negara, serta menyerap 3.000 tenaga kerja langsung pada tahap operasi. Namun, catatan kritis perlu diberikan pada konversi gas alam menjadi asam sulfat dan flue gas treatment yang akan diadopsi. Kepatuhan terhadap baku mutu emisi lingkungan sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 harus menjadi prasyarat mutlak sebelum izin operasi diberikan, mengingat pengalaman smelter lain yang tersandung masalah pencemaran di fase awal komisioning.

Melihat progres terkini, proyek smelter tembaga dan pemurnian logam mulia PT Amman Mineral Internasional Tbk berada di jalur yang tepat untuk mendekati mechanical completion pada paruh kedua 2025. Kendati demikian, kemampuan manajemen dalam mengelola kompleksitas integrasi antarsistem dan memenuhi seluruh aspek kepatuhan akan menentukan apakah target produksi komersial pada triwulan pertama 2026 dapat terealisasi sesuai rencana. Regulator dan pemangku kepentingan harus tetap melakukan pengawasan ketat, sementara investor perlu mencermati indikator-operasional pada laporan kemajuan berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User