Sikap Tegas Menbud Fadli Zon soal Ramainya Perbincangan Fenomena di Gunung Kawi
Jakarta, Lurusin.com — Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, akhirnya angkat bicara mengenai riuh rendahnya pemberitaan dan perbincangan publik terkait fenomena di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur. Menuru
Jakarta, Lurusin.com — Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, akhirnya angkat bicara mengenai riuh rendahnya pemberitaan dan perbincangan publik terkait fenomena di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur. Menurutnya, kejadian yang tengah viral di masyarakat ini merupakan bagian dari keragaman budaya dan tradisi yang hidup di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan sebagai bentuk respons atas kian meluasnya spekulasi liar di media sosial, khususnya setelah kawasan tersebut didatangi oleh figur publik kontroversial yang dikenal dengan nama Marcel Radhival atau Pesulap Merah.
Pernyataan Resmi Menteri Kebudayaan
Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan tradisi lisan, mitos, dan praktik-praktik kebudayaan yang telah hidup berdampingan selama berabad-abad. "Fenomena yang terjadi di Gunung Kawi ini menunjukkan betapa kuatnya akar budaya masyarakat kita terhadap situs-situs yang dianggap keramat. Ini adalah warisan intangible yang harus kita catat dan pahami sebagai kekayaan kultural, bukan untuk ditabrakkan secara gegabah," ujar Fadli Zon dalam keterangan resmi yang diterima Lurusin.com, Selasa (27/5/2025).
Lebih lanjut, Menbud Fadli Zon menyoroti bahwa perhatian publik yang tiba-tiba meledak ini justru menjadi peluang untuk melakukan kajian budaya yang lebih mendalam dan terukur. Pihaknya meminta agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh konten-konten yang hanya berniat membongkar sisi gelap sebuah tradisi tanpa pendekatan antropologis yang tepat. Ia menekankan pentingnya memisahkan antara realitas sosial masyarakat pelaku tradisi dengan konten hiburan yang sarat akan sensasi.
Pemicu Viral: Kedatangan Pesulap Merah
Sebagaimana diketahui, gelombang viralitas ini bermula ketika Marcel Radhival alias Pesulap Merah mengunggah konten saat dirinya mendatangi lokasi Gunung Kawi. Dalam video yang beredar luas, Pesulap Merah tampak mendatangi kawasan tersebut untuk memenuhi rasa penasarannya terhadap rumor dugaan praktik pesugihan serta isu penggunaan tumbal yang selama ini menjadi mitos urban masyarakat sekitar. Tidak hanya datang dan merekam suasana, Pesulap Merah juga melakukan wawancara langsung dengan juru kunci (kuncen) setempat untuk menggali informasi dari sudut pandang pelaku tradisi.
"Saya hanya ingin mencari fakta dan mengklarifikasi apa yang selama ini menjadi misteri di Gunung Kawi. Saya bertanya langsung kepada juru kunci di sana," demikian kutipan pernyataan Pesulap Merah dalam unggahan media sosialnya yang dikutip media kami.
Langkah investigasi ala Pesulap Merah ini sontak menyulut pro dan kontra. Di satu sisi, warganet merasa penasaran dan terbantu dengan adanya klarifikasi langsung dari sumber primer. Namun di sisi lain, banyak pula yang mengkritik bahwa metode tersebut terlalu simplisitis dan berpotensi mengganggu ketenangan spiritual masyarakat setempat. Hal inilah yang kemudian mendorong perlunya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kebudayaan, untuk memberikan perspektif yang lebih sejuk dan berimbang.
Menanggapi polemik ini, Fadli Zon mengingatkan agar interaksi dengan penjaga situs budaya dilakukan dengan pendekatan yang menghormati nilai-nilai sakral. "Jika tujuannya adalah untuk konten sensasi, saya kira itu tidak etis. Tapi jika memang tujuannya eksplorasi budaya, kami sangat terbuka untuk memfasilitasi penelitian yang lebih akademis," pungkasnya. Kementerian Kebudayaan saat ini tengah mempertimbangkan untuk menyusun panduan interaksi bagi para kreator konten yang ingin meliput situs budaya sensitif agar tidak terjadi benturan peradaban di era digital.
Comments (0)