Satu Dekade Brexit, Jerman-Inggris Mesra Lagi

Tekanan politik yang menggunung dari internal Partai Buruh akhirnya memaksa Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan mundur dari jabatannya. Kabar ini tak hanya mengejutkan London, tetapi jug

Jul 08, 2026 - 19:30
0 0
Satu Dekade Brexit, Jerman-Inggris Mesra Lagi

Tekanan politik yang menggunung dari internal Partai Buruh akhirnya memaksa Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan mundur dari jabatannya. Kabar ini tak hanya mengejutkan London, tetapi juga terasa hingga ke Berlin. Di ibu kota Jerman, pengunduran diri Starmer disesalkan oleh sejumlah kalangan yang menilai sang perdana menteri telah berjasa merajut kembali hubungan lintas Selat Inggris pasca-Brexit.

Kemitraan Andal dalam Krisis

Dalam keterangan resmi yang disampaikan pada Senin (22/6), juru bicara pemerintah Jerman Stefan Kornelius menegaskan posisi Starmer sebagai figur penting bagi Berlin.

"Bagi pemerintah Jerman, Keir Starmer selalu menjadi mitra yang dapat diandalkan dan dekat dalam isu-isu kebijakan luar negeri, terutama yang berkaitan dengan Ukraina,"
ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa di tengah krisis keamanan Eropa akibat perang di Ukraina, Starmer dipandang sebagai sekutu yang teguh, sejalan dengan poros Berlin dalam mendukung Kyiv.

Lebih dari itu, para politikus di Jerman sangat menyadari bahwa di bawah kepemimpinan Starmer, London secara proaktif berusaha membangun kembali jembatan dengan Uni Eropa, khususnya Jerman. Upaya ini merupakan langkah sulit yang membutuhkan kelihaian politik tinggi, mengingat trauma dan keretakan yang ditinggalkan oleh proses perceraian Inggris dari UE pada 2016 silam.

Kilas Balik Satu Dekade Referendum

Kini, genap sepuluh tahun berlalu sejak referendum bersejarah yang mengguncang Eropa. Pada 23 Juni 2016, rakyat Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa melalui selisih tipis: 52% mendukung Leave, sementara 48% memilih Remain. Hasil yang diumumkan keesokan paginya, 24 Juni 2016, mengirimkan gelombang kejut dahsyat ke seluruh benua. Jerman, sebagai mesin ekonomi dan politik UE, merasakan dampaknya secara mendalam.

Reaksi para pemimpin Jerman kala itu mencerminkan betapa besar keterkejutan dan kekecewaan yang mereka rasakan. Menteri Luar Negeri Jerman saat itu, Frank-Walter Steinmeier, yang kini menjabat sebagai Presiden Federal, melontarkan kata yang tak tanggung-tanggung. Dalam komentarnya, ia menyebut referendum sebagai

"sebuah bencana"
bagi proyek integrasi Eropa. Sementara itu, Kanselir Angela Merkel, yang selama 16 tahun memimpin Jerman, menggambarkan momen tersebut sebagai titik balik yang sangat mendalam bagi Eropa.

Dari "Bencana" Menuju "Kemesraan" Baru

Ironisnya, satu dekade setelah peristiwa yang dianggap "bencana" itu, hubungan Jerman dan Inggris justru menunjukkan perkembangan yang lebih hangat di bawah kepemimpinan Starmer. Kemesraan ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dibangun di atas kepentingan bersama: keamanan Eropa, stabilitas ekonomi, dan kerja sama strategis yang saling menguntungkan. Starmer, yang berasal dari partai yang secara historis lebih pro-Eropa dibandingkan Partai Konservatif, memang menjadikan pemulihan hubungan dengan tetangga benua sebagai salah satu prioritas kebijakan luar negerinya.

Kini, dengan mundurnya Starmer, masa depan hubungan istimewa yang sedang bersemi itu kembali dipertanyakan. Akankah penerusnya melanjutkan jalur diplomatik yang telah dirintis, atau justru hubungan Berlin-London akan kembali mendingin? Satu dekade Brexit telah membuktikan bahwa politik bisa berubah dengan cepat, namun kepentingan strategis antara dua raksasa Eropa ini tetap menjadi benang merah yang sulit diputuskan.

Laporan dari Lurusin.com menghimpun berbagai respons dan kilas balik perjalanan hubungan Jerman-Inggris sejak referendum bersejarah tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hafiz-rahman

Verifikator. Memverifikasi klaim viral via sumber terbuka.

Comments (0)

User