Rupiah Kembali Tembus Level Psikologis Rp18.000 per Dolar AS

Pasar valuta asing domestik kembali mencatatkan pergerakan yang mengonfirmasi tekanan berat terhadap nilai tukar rupiah. Pada sesi perdagangan hari ini, ru

Jul 08, 2026 - 22:19
0 0
Rupiah Kembali Tembus Level Psikologis Rp18.000 per Dolar AS

Pasar valuta asing domestik kembali mencatatkan pergerakan yang mengonfirmasi tekanan berat terhadap nilai tukar rupiah. Pada sesi perdagangan hari ini, rupiah di pasar spot gagal mempertahankan level di bawah ambang psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data real-time dari platform perdagangan, rupiah sempat menyentuh posisi Rp18.002 per dolar AS pada pukul 10:15 WIB sebelum sempat menguat tipis, namun kembali terperosok ke Rp18.015 per dolar AS pada penutupan sesi siang.

Penembusan level ini bukan merupakan peristiwa pertama. Sepanjang bulan berjalan, rupiah sudah tiga kali menguji dan menembus batas psikologis tersebut, menandakan bahwa tekanan depresiasi bukan bersifat sementara, melainkan struktural dengan katalis yang terus membara dari sisi eksternal.

Kronologi Pergerakan Nilai Tukar

Rekam jejak pergerakan rupiah dalam 24 jam terakhir menunjukkan volatilitas tinggi yang dipicu oleh rilis data ekonomi global dan posisi pasar terhadap aset berdenominasi rupiah.

  1. Pembukaan Pasar (09:00 WIB): Rupiah dibuka pada level Rp17.980 per dolar AS, relatif stabil dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.975.
  2. Tekanan Awal (09:45 WIB): Dalam 45 menit pertama, rupiah terdepresiasi 10 poin menjadi Rp17.990 seiring meningkatnya permintaan valas dari importir migas dan non-migas.
  3. Penembusan Batas (10:15 WIB): Level Rp18.002 tercapai, dipicu oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) yang menembus 106,5 pasca data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan, dengan klaim pengangguran turun ke 215.000 dari sebelumnya 221.000.
  4. Koreksi Sesi (11:30 WIB): Rupiah kembali ke Rp17.995 setelah Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi pasar melalui mekanisme Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
  5. Pelemahan Lanjutan (14:00 WIB): Tekanan besar kembali terjadi, mendorong rupiah ke Rp18.015 per dolar AS, level terendah harian, setelah yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,45%, memicu aliran modal keluar dari pasar emerging.

Faktor Eksternal Dominan: Dolar Perkasa dan Reli Imbal Hasil

Penguatan dolar AS yang persisten menjadi musuh utama rupiah. Indeks DXY hari ini bertahan di zona 106,5–106,7, level tertinggi dalam dua bulan. Penggerak utamanya adalah rilis notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan sikap hawkish bank sentral AS, dengan beberapa anggota menekankan perlunya mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk memerangi inflasi inti yang masih berada di atas target 2%.

Data pendukung memperkuat tren ini: tingkat inflasi PCE inti AS bulan lalu tercatat 4,6% year-on-year, di atas ekspektasi pasar 4,5%. Proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed kini bergeser dari April menjadi September 2025. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebagai tolok ukur global naik tajam 18 basis poin dalam dua hari terakhir, mempersempit selisih imbal hasil antara SBN Indonesia dan US Treasury, sehingga mengurangi daya tarik aset rupiah.

Tekanan Internal dan Data Neraca Perdagangan

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah diperparah oleh permintaan valas korporasi yang tinggi untuk pembayaran dividen kuartal pertama dan impor bahan baku industri. Data Bank Indonesia menunjukkan transaksi valas neto pada pekan ini mencapai defisit $320 juta, terbesar dalam empat pekan. Laporan neraca perdagangan terbaru juga mencatat surplus menyempit ke $1,3 miliar dari sebelumnya $1,9 miliar, akibat penurunan harga komoditas andalan seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).

Respons dan Strategi Otoritas Moneter

Merespons gejolak ini, Bank Indonesia kembali melakukan intervensi ganda (dual intervention) di pasar spot dan pasar non-deliverable forward. Volume intervensi harian diperkirakan mencapai Rp8,5 triliun. Gubernur BI, dalam pernyataan tertulis pukul 13:00 WIB, menegaskan bahwa bank sentral akan terus menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamental dan memastikan pasokan valas di pasar terpenuhi. Cadangan devisa Indonesia per akhir Maret tercatat $143,2 miliar, setara 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, yang secara historis masih cukup sebagai tameng eksternal.

Namun, analis pasar keuangan mencatat bahwa kunci stabilisasi rupiah saat ini terletak pada faktor eksternal. Selama ekspektasi suku bunga AS tetap tinggi dan indeks DXY bertahan di atas 106, ruang apresiasi rupiah terbatas meskipun fundamental domestik relatif solid dengan pertumbuhan ekonomi pada angka 5,1%.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User