Raymond Tjandrawinata: Kemandirian Obat Nasional Masih Butuh Terobosan
Meskipun Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam produksi farmasi, praktisi senior sekaligus akademisi dari Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya, Raymond R. Tjandrawinata, menilai bahwa kemandiria...
Meskipun Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam produksi farmasi, praktisi senior sekaligus akademisi dari Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya, Raymond R. Tjandrawinata, menilai bahwa kemandirian obat nasional masih menghadapi ruang kerja yang sangat luas. Ia mengungkapkan bahwa ketergantungan pada bahan baku impor, terbatasnya ekosistem penelitian, dan lambatnya penyerapan inovasi menjadi penghalang utama yang memerlukan perhatian lebih serius dari seluruh pemangku kepentingan.
Potensi Industri Farmasi Lokal yang Belum Maksimal
Indonesia memiliki kapasitas manufaktur yang mumpuni; lebih dari 200 perusahaan farmasi beroperasi di dalam negeri dengan standar yang diakui secara internasional. Namun, lebih dari 90 persen bahan baku obat masih diimpor, terutama dari Tiongkok dan India. Kondisi ini membuat rantai pasok farmasi nasional rentan terhadap gejolak global. Bagi Raymond, situasi tersebut menunjukkan bahwa alih-alih berkembang menjadi produsen bahan aktif, sebagian besar pabrik justru hanya menjadi pengemas akhir produk setengah jadi. Ia menekankan bahwa jika potensi riset—yang melibatkan peneliti lokal dan sumber daya alam hayati—tidak segera dikapitalisasi, maka visi kemandirian farmasi akan tetap menjauh.
Tantangan Regulasi dan Minimnya Sinergi Riset
Di sisi regulasi, pakar bioteknologi farmasi ini menyoroti bahwa jalur pengembangan obat baru kerap terhambat oleh proses perizinan yang panjang dan anggaran riset yang terbatas. Ia mencontohkan bahwa pengembangan obat herbal terstandar—yang seharusnya menjadi keunggulan komparatif Indonesia—seringkali mandek di fase uji klinis karena beban biaya dan kurangnya insentif. "Kita belum punya cetak biru yang menyatukan kepentingan akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha secara berkelanjutan," ujar pria yang malang melintang di industri farmasi nasional itu dalam keterangannya. Menurutnya, riset di perguruan tinggi masih didorong oleh indikator publikasi, bukan oleh kebutuhan industri, sehingga hasilnya jarang mencapai skala komersial.
Pentingnya Kolaborasi Triple Helix dan Investasi Infrastruktur
Raymond menawarkan solusi konkret berupa penguatan kolaborasi model triple helix, di mana kampus menjadi pusat inovasi, pemerintah menyediakan insentif fiskal dan jaminan pasar, serta industri menanggung biaya hilirisasi. Ia optimistis jika insentif seperti tax deduction untuk pusat riset swasta dan perbaikan skema pembiayaan riset bisa diterapkan, maka lahirnya molekul obat asli Indonesia bukanlah utopia. Ia juga menyebut perlunya investasi pada fasilitas produksi starting material seperti fasilitas kimia dasar hulu yang selama ini belum disentuh secara serius.
Lebih lanjut, akademisi senior ini mengkritisi lambannya adopsi kebijakan yang mendorong penggunaan produk farmasi lokal dalam program pemerintah. Menurutnya, mandat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) harus menjadi lokomotif yang menarik gerbong produk hasil riset dalam negeri, bukan hanya menekan harga tanpa memperhitungkan dampak panjang terhadap industri sains lokal. "Jika setiap tahun kita hanya berburu harga murah untuk impor, kita membunuh daya cipta di rumah sendiri," tegasnya. Namun ia mengapresiasi langkah awal pemerintah yang mulai membuka keran insentif untuk penelitian bahan baku obat berbasis bioteknologi, meskipun ia mengingatkan agar eksekusinya dijaga agar tidak berhenti di menara gading peraturan.
Membangun Ekosistem dari Pendidikan
Raymond juga menekankan bahwa ekosistem kemandirian farmasi harus dimulai dari bangku pendidikan. Ia menyayangkan minimnya sumber daya manusia yang terlatih di bidang kimia medisinal, farmakologi molekuler, dan bioproses—spesialisasi yang justru menjadi tulang punggung penemuan obat. Kampusnya sendiri, Atma Jaya, telah mencoba membangun jembatan dengan menyelenggarakan program studi yang mengintegrasikan ilmu farmasi dengan manajemen bisnis agar lulusan mampu berdialog dengan investor dan regulator. Hanya dengan pasokan talenta yang mumpuni, kata dia, riset tidak berhenti sebagai proyek doktoral, tetapi berlanjut menjadi produk yang mendarat di apotek.
Secara keseluruhan, opini tajam ini menegaskan bahwa kemandirian obat adalah marathon yang memerlukan keberanian investasi jangka panjang, bukan solusi instan. Dengan kekayaan hayati yang melimpah, Indonesia sejatinya memiliki modal tak terhingga, tetapi tanpa strategi yang koheren—yang menyambungkan riset, pasar, dan pembiayaan—modal itu hanya akan menjadi potensi yang terabaikan di lemari perpustakaan laboratorium. Profesor Raymond mengajak semua pihak untuk segera menutup kesenjangan antara ambisi dan aksi di panggung farmasi nasional.
Baca juga:
Comments (0)