Hoaks Video Sandiaga Uno Bagikan Bantuan Tunai dan Sembako
Sebuah video yang beredar luas di media sosial menampilkan mantan calon wakil presiden Sandiaga Uno tengah menawarkan bantuan langsung tunai, modal usaha, dan paket sembako. Tim pemeriksa fakta kami m...
Sebuah video yang beredar luas di media sosial menampilkan mantan calon wakil presiden Sandiaga Uno tengah menawarkan bantuan langsung tunai, modal usaha, dan paket sembako. Tim pemeriksa fakta kami melakukan verifikasi forensik terhadap konten tersebut dan menemukan bahwa klaim itu sepenuhnya palsu.
Klaim yang Beredar
Klaim beredar melalui sebuah unggahan Facebook yang membagikan video berdurasi singkat. Dalam rekaman itu, Sandiaga Uno tampak berbicara langsung ke kamera dan menjanjikan pencairan dana hingga Rp5 juta per orang, bantuan modal untuk pelaku UMKM, serta paket bahan pokok bagi masyarakat yang menekan tombol suka, membagikan unggahan, dan mengklik tautan pendaftaran. Narasi tersebut dibumbui logo Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta foto kegiatan sosial seolah-olah memberi legitimasi resmi.
Penelusuran Fakta
Berdasarkan verifikasi, tim kami mengunduh video dan memecahnya menjadi bingkai-bingkai kunci. Penelusuran gambar terbalik menggunakan mesin pencari Google dan Yandex mengungkap bahwa bingkai-bingkai tersebut identik dengan rekaman video lama yang diunggah kanal YouTube Kompas TV pada 15 Maret 2022. Video asli menampilkan Sandiaga Uno tengah memaparkan program pengembangan desa wisata dalam sebuah forum dialog, bukan membagikan uang. Tidak ditemukan satu pun pernyataan mengenai bantuan langsung tunai dalam materi asli.
Selanjutnya, kami menganalisis komponen audio. Dengan memanfaatkan alat deteksi suara sintetis dari InVID-WeVerify dan spektogram suara, kami menemukan anomali frekuensi yang konsisten dengan hasil rekayasa deepfake audio. Pola jeda dan intonasi identik dengan model pengklonan suara berbasis kecerdasan buatan, sementara gerakan bibir dalam video telah dimanipulasi agar sinkron dengan audio palsu. Ini adalah ciri khas manipulasi digital yang umum digunakan dalam skema penipuan daring.
Tautan yang disertakan dalam unggahan juga kami periksa. Alih-alih mengarah ke laman resmi pemerintah, tautan tersebut menuju domain mencurigakan yang baru didaftarkan dua pekan lalu melalui registrar anonim. Situs itu meminta pengunjung mengisi nama lengkap, alamat, nomor telepon, nomor induk kependudukan, hingga data rekening bank. Setelah data dikirimkan, sistem mengarahkan pengguna untuk mengunduh berkas APK mencurigakan yang, menurut analisis file di VirusTotal, terdeteksi sebagai trojan perbankan oleh 17 mesin antivirus. Skema ini jelas merupakan modus phishing untuk mencuri data pribadi dan membobol akun keuangan korban.
Kami juga menghubungi tim komunikasi Sandiaga Uno. Melalui surat elektronik, pihak humas menegaskan bahwa tidak ada program pembagian bantuan langsung tunai atau modal usaha yang dijalankan melalui media sosial. Mereka menyatakan bahwa seluruh bantuan resmi pemerintah disalurkan lewat kanal terverifikasi, seperti situs kementerian dan aplikasi resmi. "Masyarakat diminta waspada terhadap setiap tawaran menggiurkan yang mengatasnamakan Pak Sandiaga. Jika ada informasi yang mencurigakan, segera laporkan ke pihak berwenang," demikian pernyataan resmi yang kami terima.
Penelusuran lebih lanjut terhadap akun penyebar awal menunjukkan pola jaringan akun palsu. Profil-profil tersebut menggunakan foto curian dan hanya aktif mengunggah konten serupa dengan narasi bantuan fiktif. Aktivitas mereka terkoordinasi dan bertujuan mengeksploitasi nama tokoh publik demi keuntungan finansial.
Kesimpulan
Klaim bahwa video Sandiaga Uno membagikan bantuan langsung tunai, modal usaha, dan sembako adalah hoaks. Faktanya, video itu hasil manipulasi deepfake atas rekaman lawas, dan tautan pendaftaran merupakan perangkap phishing berbahaya. Tidak ada program bantuan serupa yang diluncurkan oleh Sandiaga Uno atau kementerian terkait. Masyarakat diharapkan selalu memverifikasi informasi melalui sumber resmi dan tidak mudah tergoda iming-iming hadiah tanpa dasar yang jelas.
Baca juga:
Comments (0)