Sep 01, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Ratusan Rumah Warga Miskin Dibuldoser dekat Makam Sufi Islamabad

ISLAMABAD — Di kaki Bukit Margalla, Pakistan, sebuah kawasan padat penduduk telah menjadi lokasi ziarah bagi jutaan umat Muslim selama berabad-abad. Makam

Ratusan Rumah Warga Miskin Dibuldoser dekat Makam Sufi Islamabad

ISLAMABAD — Di kaki Bukit Margalla, Pakistan, sebuah kawasan padat penduduk telah menjadi lokasi ziarah bagi jutaan umat Muslim selama berabad-abad. Makam Bari Imam, seorang sufi yang diyakini memiliki kekuatan spiritual, menjadi pusat keagamaan yang ramai dikunjungi. Namun di balik kemegahan tradisi keagamaan tersebut, tersimpan kisah pilu ratusan keluarga miskin yang kehilangan tempat tinggal akibat pembongkaran massal yang dilakukan pemerintah.

Selama satu tahun terakhir, ratusan rumah warga berpenghasilan rendah di kawasan tersebut dirobohkan menggunakan buldoser. Warga setempat kini hidup dalam ketakutan, karena mereka khawatir gelombang pembongkaran akan berlanjut dan menghanguskan sisa-sisa hunian mereka yang masih berdiri.

Kronologi Pembongkaran

Pembongkaran pertama kali dilakukan pada awal tahun ini ketika pemerintah setempat mengklaim bahwa bangunan-bangunan tersebut dibangun secara ilegal di atas tanah negara. Namun warga membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa mereka telah tinggal di kawasan itu selama beberapa generasi dan memiliki hak atas tempat tinggal mereka.

  1. Gelombang pertama pembongkaran terjadi pada bulan Februari, ketika puluhan rumah diratakan dalam hitungan jam. Warga tidak diberi waktu yang memadai untuk menyelamatkan barang-barang berharga mereka.
  2. Pada musim semi, operasi pembongkaran diperluas ke area yang lebih luas. Lebih dari 300 rumah hancur dalam waktu singkat.
  3. Tragedi terjadi saat musim dingin, ketika seorang remaja bernama Azeem Ahmed, 16 tahun, meninggal dunia saat berusaha menghalangi buldoser yang hendak meratakan toko kelontong keluarganya di pinggir jalan.
  4. Saat ini, ratusan keluarga tinggal di tenda darurat atau menumpang di rumah kerabat, sementara ancaman pembongkaran masih mengintai.

Kehilangan yang Tak Tergantikan

Saida Tanvir, ibu dari Azeem Ahmed, masih terlihat trauma saat menceritakan kejadian yang merenggut nyawa anaknya. Ia berdiri di antara puing-puing rumahnya yang setengah hancur, memandang sisa-sisa kehidupan yang pernah ia bangun bersama suami dan anak-anaknya.

"Anak saya hanya ingin melindungi toko kami. Itu satu-satunya sumber penghasilan kami. Sekarang saya kehilangan segalanya — rumah, toko, dan anak saya," ungkap Saida dengan suara bergetar.

Kisah Saida bukanlah satu-satunya. Ratusan keluarga lain mengalami nasib serupa. Banyak dari mereka yang sehari-hari bekerja sebagai buruh harian, pedagang kaki lima, dan pekerja informal lainnya. Bagi mereka, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga modal kehidupan yang tak ternilai harganya.

Protes Warga dan Tanggapan Pemerintah

Warga telah menggelar aksi protes di berbagai titik di sekitar makam Bari Imam untuk menuntut penghentian pembongkaran. Mereka membawa spanduk bertuliskan "Jangan Singkirkan Kami" dan "Kami Juga Manusia." Aksi damai ini sempat menarik perhatian media internasional.

Pemerintah setempat membela keputusan mereka dengan menyatakan bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan suci yang harus dilestarikan. Mereka berargumen bahwa keberadaan pemukiman informal mengancam kelestarian situs keagamaan tersebut dan mengganggu jalur ziarah jamaah.

"Kami sangat prihatin dengan situasi ini. Pembongkaran dilakukan tanpa prosedur yang adil. Warga seharusnya diberi kompensasi yang layak dan tempat tinggal alternatif sebelum rumah mereka dirobohkan," kata seorang aktivis hak asasi manusia yang tidak mau disebutkan namanya.

Dampak terhadap Komunitas

Pembongkaran ini berdampak pada lebih dari 2.000 jiwa, termasuk anak-anak dan lansia. Banyak anak-anak yang terpaksa putus sekolah karena harus membantu orang tua mencari penghasilan. Kondisi kesehatan juga memburuk, mengingat sanitasi di area pengungsian sangat minim.

  • Lebih dari 500 anak tercatat putus sekolah akibat pembongkaran ini.
  • Angka penyakit seperti diare dan infeksi pernapasan meningkat di area pengungsian.
  • Pengangguran meningkat karena banyak tempat kerja informal yang ikut terdampak.
  • Tingkat kekerasan dalam rumah tangga dilaporkan naik akibat tekanan ekonomi yang berat.

Harapan dan Ketidakpastian

Meskipun situasi tampak suram, warga masih memiliki harapan. Beberapa organisasi non-pemerintah telah turun tangan memberikan bantuan kemanusiaan berupa makanan, selimut, dan obat-obatan. Namun bantuan ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seluruh korban.

Pemerintah federal diminta untuk campur tangan guna menyelesaikan konflik ini secara adil. Para aktivis mendesak agar dilakukan dialog antara warga dan pemerintah untuk mencari solusi yang tidak merugikan pihak mana pun.

Sementara itu, warga seperti Saida Tanvir hanya bisa menunggu. Ia berharap suatu hari nanti bisa kembali membangun rumah di tanah yang telah menjadi saksi bisu kehidupan keluarganya selama puluhan tahun. Namun kenyataannya, masa depan mereka masih penuh ketidakpastian.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa di balik pembangunan dan pelestarian situs bersejarah, sering kali ada harga kemanusiaan yang harus dibayar oleh mereka yang paling rentan dalam masyarakat.