Aug 28, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Legarda: 20,3 Persen Keluarga Filipina Masih Alami Kelaparan

MANILA — Senator Filipina Loren Legarda menyambut positif penurunan angka kelaparan dalam survei terbaru Social Weather Stations (SWS). Namun, ia langsung

Legarda: 20,3 Persen Keluarga Filipina Masih Alami Kelaparan

MANILA — Senator Filipina Loren Legarda menyambut positif penurunan angka kelaparan dalam survei terbaru Social Weather Stations (SWS). Namun, ia langsung mengingatkan bahwa satu dari lima keluarga Filipina yang masih mengalami kelaparan tidak bisa dianggap sebagai tanda bahwa persoalan pangan nasional sudah terkendali.

Survei SWS yang digelar pada periode 20 hingga 29 Juni mencatat 20,3 persen keluarga Filipina masih mengalami kelaparan. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan hasil survei sebelumnya, tetapi tetap menjadi alarm bagi pemerintah untuk bergerak lebih cepat dalam mengatasi krisis pangan di tengah tingginya harga kebutuhan pokok yang menekan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

"Penurunan angka ini patut kita syukuri, tetapi kita tidak boleh lengah. Satu dari lima keluarga masih tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan mereka sehari-hari. Itu bukan pertanda bahwa masalah telah selesai," kata Legarda dalam pernyataan resminya yang dikutip media lokal Filipina.

Angka Kelaparan yang Masih Tinggi di Tengah Tren Perbaikan

SWS secara rutin mengukur proporsi keluarga yang mengalami kelaparan involunter, yakni kondisi ketika keluarga tidak mampu membeli makanan dalam tiga bulan terakhir. Meski tren terbaru menunjukkan perbaikan, angka 20,3 persen tetap tergolong tinggi dan menempatkan Filipina di antara negara-negara dengan tingkat kelaparan terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling merasakan dampak kenaikan harga beras, sayuran, dan bahan pokok lainnya. Para ekonom memperingatkan bahwa inflasi pangan yang berkepanjangan dapat memperlebar jurang kemiskinan serta memperlambat upaya pemulihan ekonomi nasional.

Beberapa faktor yang dinilai mendorong tingginya angka kelaparan antara lain:

  • Kenaikan harga pangan yang tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan masyarakat
  • Lapangan kerja yang belum pulih sepenuhnya, terutama di sektor informal
  • Gangguan rantai pasok serta cuaca ekstrem yang menekan produksi pertanian
  • Kesenjangan distribusi bantuan pangan, terutama di daerah terpencil

Dua Kunci Utama: Harga Pangan Terjangkau dan Mata Pencaharian Berkelanjutan

Dalam pernyataannya, Legarda menegaskan bahwa pemerintah harus berfokus pada dua hal utama, yakni keterjangkauan harga pangan dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat. Menurutnya, bantuan sosial jangka pendek tidak akan pernah menyelesaikan akar persoalan kelaparan selama masyarakat tidak memiliki daya beli yang memadai.

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan bantuan darurat. Masyarakat membutuhkan pekerjaan yang stabil dan pendapatan yang layak agar mereka mampu membeli makanan setiap hari," ujar Legarda.

Senator yang dikenal vokal dalam isu-isu sosial dan lingkungan ini mendesak pemerintah untuk memperkuat sektor pertanian, menstabilkan harga beras dan bahan pokok, serta memperluas jaring pengaman sosial bagi keluarga miskin dan rentan. Ia juga meminta agar program bantuan pangan disesuaikan dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan, bukan sekadar berdasarkan data administratif.

Desakan Percepatan Bantuan dan Koordinasi Pemerintah

Legarda juga meminta pemerintah mempercepat distribusi bantuan pangan dan memastikan program pengentasan kemiskinan berjalan tepat sasaran. Ia menyoroti perlunya koordinasi yang lebih baik antara pemerintah pusat dan daerah agar bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang paling membutuhkan.

"Setiap keluarga yang kelaparan adalah satu kegagalan bagi kita semua. Kita harus bekerja lebih keras lagi," tegasnya.

Ia berharap angka kelaparan dapat terus menurun secara signifikan pada survei-survei berikutnya. Dengan demikian, target pengurangan kemiskinan dan kelaparan sesuai agenda pembangunan nasional Filipina dapat tercapai dalam beberapa tahun ke depan.

Momentum Memperkuat Ketahanan Pangan Jangka Panjang

Penurunan angka kelaparan pada kuartal ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat kebijakan ketahanan pangan jangka panjang. Tanpa intervensi struktural, para pengamat menilai penurunan angka kelaparan hanya akan bersifat sementara dan dapat kembali melonjak ketika harga pangan dunia bergejolak.

Legarda sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu pengusung utama kebijakan adaptasi perubahan iklim dan ketahanan pangan di Senat Filipina. Ia kerap mengaitkan ancaman kelaparan dengan dampak perubahan iklim terhadap produksi pertanian di berbagai wilayah.

Legarda menutup pernyataannya dengan optimisme sekaligus kewaspadaan. Menurutnya, perjuangan melawan kelaparan harus menjadi prioritas bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat, termasuk sektor swasta dan organisasi sosial.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User