PEKANBARU — Suasana haru menyelimuti Masjid Ubudiyah, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, saat 15 santri Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) mengikuti wisuda Iqra dan khatam Al-Qur'an angkatan XVII. Acara yang digelar khidmat di lingkungan masjid itu dihadiri orang tua santri, pengurus takmir, serta warga sekitar. Momen tersebut sekaligus menegaskan komitmen lembaga: pendidikan Al-Qur'an di sini benar-benar gratis, tanpa memungut biaya apa pun dari keluarga santri.
Wisuda angkatan XVII menjadi puncak dari perjalanan panjang para santri. Mereka belajar bertahap, dimulai dari mengenal huruf hijaiyah melalui jilid Iqra, hingga akhirnya mampu menuntaskan bacaan Al-Qur'an secara utuh. Bagi sebagian santri, perjalanan itu tidak mudah. Sejumlah di antara mereka memulai tanpa kemampuan membaca huruf Arab sama sekali, lalu bertahap memperoleh ijazah keagamaan pertama dalam hidupnya di depan masjid tempat mereka belajar.
Biaya Nol Rupiah Jadi Daya Tarik Utama
Yang membuat MDTA Masjid Ubudiyah terus diminati warga adalah kebijakan pendidikan gratis 100 persen. Tidak ada iuran pendaftaran, tidak ada biaya bulanan, dan perlengkapan belajar pun dibantu penyediaan oleh pengelola. Kebijakan ini menjadi napas segar bagi keluarga kurang mampu yang kerap terbentur biaya ketika ingin menyekolahkan anaknya ke lembaga mengaji formal.
Program pendidikan gratis itu disebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Setiap tahun, minat pendaftaran santri baru terus berjalan, terutama dari warga di sekitar kawasan Tenayan Raya. Bagi orang tua, keberadaan MDTA seperti ini memberi jalan tengah: anak tetap bisa belajar ilmu agama secara terstruktur tanpa harus menambah beban pengeluaran rumah tangga.
"Anak-anak ini belajar dari nol. Ada yang datang belum bisa huruf hijaiyah sama sekali, kini mereka sudah khatam Al-Qur'an. Itu kebanggaan bersama, baik bagi santri, orang tua, maupun pengajar," ungkap pengurus MDTA Masjid Ubudiyah seusai acara.
Kronologi Wisuda Angkatan XVII
Rangkaian wisuda berlangsung sederhana namun bermakna. Urutan acara yang berjalan dapat dirangkum sebagai berikut:
- Pembukaan acara oleh pembawa acara disertai sambutan singkat pengurus masjid dan pengasuh MDTA.
- Pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan tahlil bersama sebagai pembuka yang khidmat.
- Ujian khatam dan pembacaan Iqra oleh para santri di hadapan pengajar sebagai bentuk pertanggungjawaban capaian belajar.
- Pemberian syahadah atau piagam kepada 15 santri wisudawan angkatan XVII secara bergiliran.
- Doa bersama dan selamatan yang dipimpin oleh pengasuh, ditutup tepuk tangan meriah dari orang tua santri.
Data Singkat Wisuda MDTA Masjid Ubudiyah
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Jumlah santri wisuda | 15 santri |
| Angkatan | XVII (ke-17) |
| Jenis wisuda | Iqra dan khatam Al-Qur'an |
| Lokasi | Masjid Ubudiyah, Tenayan Raya, Pekanbaru |
| Biaya pendidikan | Gratis untuk seluruh santri |
Analisis: MDTA Tetap Relevan di Tengah Keterbatasan Ekonomi
Fenomena di Masjid Ubudiyah memperlihatkan peran strategis lembaga pendidikan berbasis masjid di Indonesia. Ketika biaya pendidikan formal terus meningkat, MDTA hadir sebagai penyangga akses belajar bagi keluarga berpenghasilan rendah. Pengamat pendidikan masyarakat menilai, lembaga semacam ini efektif menjangkau anak-anak yang belum tentu terlayani lembaga formal, sekaligus memperkuat tatanan sosial kampung karena proses belajar berlangsung di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri.
Model pendanaan yang mengandalkan infak jamaah dan keikutsertaan warga juga layak dicermati. Ketergantungan pada donasi membuat keberlanjutan program gratis tidak sederhana, namun praktik yang telah berjalan hingga angkatan ke-17 menunjukkan sistem ini mampu bertahan panjang. Kepercayaan warga, pada akhirnya, menjadi modal terbesar: selama masyarakat merasa terbantu, dukungan berupa infak maupun keikutsertaan anak-anak untuk mendaftar akan terus mengalir.
Tantangan ke depan bukan pada minat, melainkan kualitas. MDTA dituntut terus membenahi kurikulum, melatih pengajar, dan memastikan standar kelulusan terjaga agar ijazah khatam yang diterima santri benar-benar mencerminkan kemampuan baca Al-Qur'an, bukan sekadar seremoni.
Harapan ke Depan
Pengelola MDTA Masjid Ubudiyah berharap wisuda angkatan XVII tidak berhenti sebagai acara seremonial. Para santri diharapkan melanjutkan ke jenjang tahfizh atau setidaknya tetap konsisten membaca Al-Qur'an di kehidupan sehari-hari. Sementara bagi warga yang anaknya belum mendaftar, pintu MDTA tetap terbuka — dengan syarat yang sama seperti sejak awal: tidak ada biaya, hanya niat belajar dan kedisiplinan mengikuti jadwal mengaji.
Comments (0)