Pertamina NRE Percepat Ekspansi PLTS 2,4 GW di Filipina
Jakarta, Lurusin.com — PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) terus menggenjot ekspansi bisnis surya di Asia Tenggara. Kali ini, perseroan men
Jakarta, Lurusin.com — PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) terus menggenjot ekspansi bisnis surya di Asia Tenggara. Kali ini, perseroan menancapkan kukunya di Filipina melalui kemitraan strategis dengan Citicore Renewable Energy Corporation (CREC), pengembang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terkemuka di negeri itu. Kapasitas proyek PLTS yang dikembangkan diprediksi bisa mencapai 2,4 GW pada akhir tahun ini.
Perjalanan Kemitraan Pertamina NRE dan CREC
Langkah awal kolaborasi ini sudah dirintis sejak awal 2026 melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pertamina NRE dan CREC. Berdasarkan dokumen itu, kedua pihak sepakat untuk mengembangkan portofolio PLTS di beberapa lokasi strategis di Filipina, terutama di Luzon dan Visayas. Proyek perdana berkapasitas 500 MW ditargetkan mencapai financial close pada kuartal ketiga 2026.
Pertamina NRE tidak hanya bertindak sebagai investor, tetapi juga mengawal aspek teknis dan komersial proyek. Dengan pengalaman panjang mengembangkan PLTS di Indonesia serta teknologi mutakhir, perseroan optimistis mampu menawarkan harga listrik kompetitif kepada offtaker setempat, yaitu National Power Corporation (NPC) dan koperasi listrik pedesaan di Filipina.
“Kerja sama dengan CREC merupakan tonggak penting bagi Pertamina NRE untuk mendiversifikasi portofolio energi bersih di luar negeri. Filipina memiliki potensi tenaga surya yang besar dan kebijakan yang mendukung investasi asing. Kami yakin proyek ini tidak hanya akan memberikan imbal hasil yang menarik, tetapi juga memperkuat komitmen Indonesia dan Filipina dalam transisi energi,” ujar Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, dalam keterangan tertulis.
Mengapa Filipina?
Filipina menjadi target ekspansi yang masuk akal. Negara itu memiliki tarif listrik termahal di Asia Tenggara dan ketergantungan tinggi pada impor batu bara serta minyak bumi. Pemerintah Filipina menargetkan peningkatan porsi energi terbarukan dari 22% pada 2025 menjadi 35% pada 2030 dan 50% pada 2050. Untuk merealisasikan target itu, Manila memberikan insentif seperti pembebasan pajak impor peralatan surya, skema feed-in tariff, dan kemudahan perizinan. CREC sendiri telah membuktikan diri sebagai pemain nasional dengan pipeline proyek PLTS mencapai 8 GW dan 20 pembangkit surya yang sudah beroperasi.
“Kami melihat adanya sinergi yang luar biasa antara kompetensi teknis Pertamina NRE dan pemahaman lokal CREC. Kolaborasi ini akan menjadi model kemitraan energi bersih Selatan-Selatan yang patut dicontoh,” ungkap Menteri Energi Filipina dalam pidato pembukaan ASEAN Energy Business Forum 2026 di Manila.
Dari 500 MW ke 2,4 GW: Target Ambisius
Meskipun proyek tahap pertama masih 500 MW, CREC memprediksi akumulasi kapasitas terpasang, termasuk proyek yang digarap bersama Pertamina NRE, bisa mencapai 2,4 GW pada akhir 2026. Angka ini mencakup pengembangan mandiri CREC yang juga menarik minat investor asing lain. “Kami tidak berhenti di satu proyek. Melalui kemitraan dengan Pertamina NRE, kami akan mempercepat pembangunan PLTS di berbagai pulau. Target kami, pada 2028 total kapasitas surya CREC bisa melampaui 5 GW,” tegas Oliver Tan, Presiden Direktur CREC, saat menyambut tim teknis Pertamina NRE di Pasay City.
Untuk mendukung ambisi itu, Pertamina NRE menyiapkan skema pendanaan kreatif yang melibatkan perbankan nasional dan multilateral. Asian Development Bank (ADB) dan World Bank sudah menyatakan minat untuk mendanai proyek energi bersih di kawasan. Selain itu, perseroan juga membuka peluang melalui obligasi hijau (green bond) yang akan diterbitkan pada semester pertama 2027.
Dampak pada Pertamina NRE dan Bauran Energi Nasional
Ekspansi ke Filipina diproyeksikan memberikan kontribusi signifikan terhadap target Pertamina NRE untuk memiliki portofolio energi baru terbarukan sebesar 10 GW pada 2030. Saat ini, perseroan mengelola aset EBT sekitar 2 GW di dalam negeri, meliputi PLTS, PLTB, dan proyek bioenergi. Langkah ini juga sejalan dengan visi pemerintah yang mendorong BUMN untuk go global dan menjadi pemain energi kelas dunia. Sebelumnya, Pertamina NRE sudah merambah pasar Afrika Timur lewat proyek panas bumi di Kenya.
- Poin Penting Proyek PLTS Pertamina NRE di Filipina:
- Mitra lokal: Citicore Renewable Energy Corp. (CREC)
- Lokasi: Luzon, Visayas (Filipina)
- Kapasitas target 2026: 2,4 GW
- Status: MoU diteken awal 2026, konstruksi dimulai kuartal III 2026
- Pendanaan: Skema campuran, termasuk potensi green bond dan dukungan ADB
- Dampak strategis: Dorong bauran EBT Filipina 35% pada 2030 dan diversifikasi portofolio Pertamina NRE
Tantangan dan Prospek ke Depan
Meskipun prospeknya cerah, sejumlah tantangan harus diantisipasi. Regulasi di Filipina yang bisa berubah-ubah, risiko bencana alam seperti taifun yang berpotensi merusak infrastruktur PLTS, serta persaingan ketat dengan pengembang dari Tiongkok, Jepang, dan Eropa menjadi catatan penting. Namun, dengan dukungan penuh pemerintah Indonesia melalui Kementerian BUMN dan pengalaman bisnis yang matang, Pertamina NRE dinilai mampu menghadapi hambatan tersebut.
Dengan menancapkan bendera di Filipina, Pertamina NRE tak sekadar berburu keuntungan bisnis. Perseroan juga ikut mengamankan ketahanan energi kawasan, mengurangi emisi karbon, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama transisi energi di tingkat Asia-Pasifik. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa BUMN energi Indonesia siap bersaing dalam peta energi surya global.
[SOCIAL_TWEET]: Pertamina NRE resmi tancap gas di Filipina! Lewat kolaborasi dengan CREC, perusahaan plat merah ini bidik kapasitas PLTS 2,4 GW akhir tahun ini. Langkah strategis untuk energi bersih dan ekspansi global. #PertaminaNRE #EnergiSurya #Filipina[SOCIAL_TG]: ☀️ Surya Pertamina NRE melesat ke Filipina! Target 2,4 GW pada akhir 2026 melalui kemitraan dengan CREC. Ekspansi energi bersih yang menjanjikan.
Comments (0)