Australia dan Indonesia Perkuat Kemitraan Lewat Jakarta Treaty
Pemerintah Australia melalui Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan, Matt Thistlethwaite MP, menegaskan komitmen negaranya untuk memperdalam hubungan
Pemerintah Australia melalui Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan, Matt Thistlethwaite MP, menegaskan komitmen negaranya untuk memperdalam hubungan bilateral dengan Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah acara bertajuk "Jakarta Treaty: Babak Baru dalam Kemitraan Australia-Indonesia" yang digelar di Jakarta pada Selasa (14/7/2026).
Kehadiran Diplomatis di Tengah Dinamika Kawasan
Kehadiran Thistlethwaite di Jakarta bukan sekadar kunjungan seremonial. Acara ini menandai momentum penting pasca implementasi berbagai kesepakatan strategis antara kedua negara yang telah dirintis dalam beberapa tahun terakhir. Dalam forum tersebut, Thistlethwaite menyoroti tiga pilar utama: kerja sama ekonomi, keamanan maritim, dan transisi energi berkelanjutan.
"Hubungan Australia dan Indonesia bukan sekadar tetangga dekat, melainkan mitra strategis yang saling melengkapi. Jakarta Treaty menjadi fondasi untuk memperkuat rantai pasok regional dan stabilitas Indo-Pasifik," ujar Thistlethwaite.
Latar Belakang Jakarta Treaty
Sebutan Jakarta Treaty merujuk pada serangkaian perjanjian bilateral yang dinegosiasikan dan ditandatangani di Jakarta, mencakup sektor perdagangan, investasi, pendidikan, serta pertahanan. Perjanjian ini menjadi payung hukum yang memayungi lebih dari 15 nota kesepahaman (MoU) antara kementerian dan lembaga kedua negara.
Beberapa capaian penting yang dibahas dalam acara tersebut meliputi:
- Peningkatan volume perdagangan bilateral yang ditargetkan menembus 18 miliar dolar Australia pada tahun 2028
- Pembukaan akses pasar baru bagi produk pertanian Indonesia ke Australia
- Skema mobilitas tenaga kerja profesional antara kedua negara
- Kolaborasi riset dan pengembangan teknologi energi terbarukan
Fokus Transisi Energi Bersama
Salah satu sorotan utama adalah komitmen bersama dalam transisi energi. Australia, dengan sumber daya litium dan mineral kritisnya, berencana meningkatkan investasi di sektor baterai kendaraan listrik di Indonesia. "Kita berada dalam posisi yang saling menguntungkan. Indonesia membutuhkan teknologi dan modal, sementara Australia memerlukan akses ke rantai produksi baterai yang terintegrasi," kata Thistlethwaite.
"Indonesia dan Australia tidak hanya berbagi kawasan geografis, tapi juga tantangan dan peluang. Jakarta Treaty memastikan bahwa kita bergerak bersama, bukan sendiri-sendiri, dalam menghadapi masa depan energi bersih." — Matt Thistlethwaite MP
Respon Positif dari Kalangan Diplomatik
Para analis hubungan internasional menyambut baik langkah ini. Profesor Damien Kingsbury dari Deakin University menilai Jakarta Treaty sebagai "lompatan kualitatif" dalam diplomasi kedua negara. "Selama ini hubungan Australia-Indonesia sering digambarkan naik-turun. Treaty ini memberikan struktur dan kepastian yang sebelumnya absen," ujarnya dalam sesi panel virtual.
Langkah Konkret ke Depan
Setelah acara ini, kedua negara dijadwalkan mengadakan pertemuan tingkat menteri (2+2) pada September 2026 di Canberra untuk membahas implementasi lebih lanjut. Fokus utama akan diarahkan pada harmonisasi regulasi dan percepatan realisasi investasi yang telah disepakati.
Comments (0)