Pegadaian — Gelar Edukasi Literasi Keuangan untuk Mahasiswa

PT Pegadaian (Persero) menginisiasi program edukasi literasi keuangan yang menyasar lingkungan perguruan tinggi. Langkah ini merupakan bagian dari tanggung

Jul 08, 2026 - 10:39
0 1
Pegadaian — Gelar Edukasi Literasi Keuangan untuk Mahasiswa

PT Pegadaian (Persero) menginisiasi program edukasi literasi keuangan yang menyasar lingkungan perguruan tinggi. Langkah ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sekaligus strategi memperluas pemahaman generasi muda terhadap produk dan layanan jasa keuangan formal. Program tersebut diselenggarakan di sejumlah kampus dengan melibatkan mahasiswa sebagai peserta utama. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan produk keuangan dasar, manajemen utang yang sehat, perencanaan anggaran pribadi, serta pemanfaatan layanan gadai dan investasi emas yang menjadi core business Pegadaian. Inisiatif ini menanggapi masih rendahnya tingkat literasi keuangan di kalangan anak muda Indonesia, yang berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2024, indeks literasi keuangan nasional baru menyentuh angka 49,68%.

Analisis: Kesenjangan Literasi Keuangan dan Peran BUMN

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 oleh OJK menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan kelompok usia 18–25 tahun—yang mencakup mahasiswa—berada di bawah rata-rata nasional, yakni hanya 44,1%. Ini berarti lebih dari separuh populasi mahasiswa Indonesia belum memiliki pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memadai terhadap produk dan layanan keuangan. Padahal, kelompok ini berada pada fase transisi kritis menuju kemandirian finansial. “Mahasiswa yang melek finansial sejak dini cenderung memiliki rasio utang terhadap pendapatan (debt-to-income ratio) yang lebih rendah di masa depan,” ujar ekonom INDEF, Eisha M. Rachbini, dalam sebuah forum diskusi publik. Program yang digelar Pegadaian berpotensi mempersempit kesenjangan tersebut, meskipun efektivitasnya sangat bergantung pada keberlanjutan materi dan metode penyampaian yang adaptif terhadap preferensi belajar generasi digital.

Perbandingan Cakupan Program Literasi BUMN di Sektor Keuangan

BUMN Program Unggulan Literasi Sasaran Utama Media
PT Pegadaian Edukasi Literasi di Kampus Mahasiswa Tatap muka, seminar, praktik gadai emas
PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) BRILiaN Literacy UMKM dan petani Aplikasi, pelatihan lokal
PT Bank Mandiri Mandiri Literasi Digital Pelajar SMA/sederajat Platform digital, modul interaktif
PT Bank Negara Indonesia (BNI) BNI Berbagi Ilmu Komunitas prasejahtera Tatap muka, workshop komunitas

Dari perbandingan di atas, tampak bahwa Pegadaian mengambil segmen yang spesifik—mahasiswa—dengan pendekatan langsung tatap muka dan praktik. Ini membedakan dari program BUMN keuangan lain yang lebih menyasar segmen UMKM, pelajar sekolah, atau komunitas prasejahtera. Pendekatan praktik gadai emas—yang khas dari Pegadaian—memberi nilai tambah berupa pengalaman langsung instrumen investasi fisik yang kredibel bagi pemula. Namun, belum terlihat integrasi dengan platform digital yang lebih scalable, seperti yang dilakukan BRI dan Mandiri, yang berpotensi menjangkau peserta dalam jumlah jauh lebih besar.

Potensi Dampak dan Keberlanjutan

Edukasi literasi keuangan yang dihelat di lingkungan kampus memiliki keunggulan dalam hal kredibilitas sumber dan efektivitas absorpsi materi. Mahasiswa cenderung lebih reseptif terhadap informasi yang disampaikan di ruang akademik. Namun, evaluasi jangka panjang menjadi krusial: apakah program ini mampu mengubah perilaku keuangan peserta secara terukur? Indikator seperti peningkatan skor literasi pre-test vs post-test, jumlah mahasiswa yang membuka rekening gadai emas pertama, atau penurunan keterlibatan pada pinjaman online ilegal bisa menjadi metrik kunci. Tanpa itu, program semacam ini hanya akan menjadi seremonial statistik CSR. “Transformasi literasi harus diikuti inklusi yang terukur. BUMN tidak boleh berhenti di seminar, tetapi harus membangun mekanisme follow-up yang membuat peserta benar-benar masuk ke sistem keuangan formal,” kata pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Teguh Dartanto. Dengan basis data nasabah mahasiswa yang rendah, program ini sesungguhnya juga menjadi kanal akuisisi pasar yang potensial bagi Pegadaian—sehingga keselarasan antara misi sosial dan bisnis bisa tercapai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User