Tito Karnavian Tinjau Jalan Werlah di Bener Meriah, Siapkan Jalur Alternatif
Pada Selasa, 7 Juli 2026, Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra,
Pada Selasa, 7 Juli 2026, Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, melakukan inspeksi langsung ke ruas Jalan Werlah di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. Langkah ini merupakan bagian dari mandat Satgas PRR untuk memulihkan infrastruktur kritis yang lumpuh akibat bencana alam di koridor Sumatra. Berdasarkan laporan teknis terkini, Jalan Werlah lumpuh total setelah diterjang banjir bandang dan longsor susulan yang dipicu anomali curah hujan pada triwulan pertama 2026. Jalan ini merupakan satu-satunya arteri darat yang menghubungkan empat kecamatan dengan pusat layanan dasar.
Analisis Dampak Putusnya Jalan Werlah dan Kesiapan Rute Alternatif
Peninjauan Kasatgas Tito Karnavian menegaskan urgensi pembukaan akses darurat. Hasil asesmen tim teknis mencatat dari total ruas sepanjang 22 kilometer, 14 kilometer di antaranya rusak berat, dengan lima segmen amblas dan tiga titik longsor aktif yang masih bergerak. Mobilitas warga dan distribusi bahan pokok terhenti. Satgas PRR, berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Aceh, menyusun cetak biru jalur alternatif sepanjang 11,5 kilometer yang diplot melalui lahan eks-HGU perkebunan. Dalam keterangan resmi usai peninjauan, Tito Karnavian menegaskan, “Target kami adalah konektivitas logistik paling lambat 10 hari kerja. Rancangan jalur ini bersifat sementara, memanfaatkan kontur tanah yang lebih stabil, sembari rekonstruksi permanen dimulai.”
| Parameter | Pra-Bencana (2025) | Pasca-Bencana (2026) | Target Intervensi Satgas PRR |
|---|---|---|---|
| Ruas jalan utuh (km) | 22 | 8 | Pemulihan 14 km ruas rusak |
| Titik longsor aktif | 0 | 3 titik | Penanganan dengan bronjong dan turap |
| Waktu tempuh normal (menit) | 30 | Tidak tembus | Jalur alternatif: estimasi 25 menit |
| Desa terisolasi | 0 | 11 desa | Akses normal dalam 30 hari |
| Volume lalu lintas harian rata-rata (kendaraan) | 150 | 0 | Minimal 100 kendaraan lewat jalur darurat |
Sumber dana pemulihan awal Jalan Werlah ditetapkan sebesar Rp 67 miliar, berasal dari Dana Siap Pakai BNPB dan APBA revisi. Skema ini akan mengeksekusi pengerjaan konstruksi jalur tahan gempa dan longsor dengan teknologi soil nailing dan dinding penahan bertulang. Dr. Ir. Ahmad Yani, M.Sc., ahli geoteknik dari Politeknik Negeri Lhokseumawe, mengingatkan bahwa “topografi Bener Meriah yang berbukit dengan sudut lereng di atas 40 derajat menuntut pengujian batuan dasar secara menyeluruh sebelum fondasi permanen dicor. Jika tidak, siklus putusnya jalan akan terulang saat musim hujan ekstrem berikutnya.” Peringatan tersebut telah diakomodasi dengan survei mikrozonasi seismik yang dimulai pekan ini.
Peninjauan di Bener Meriah ini menjadi lokasi ke-5 dari 12 prioritas penanganan Satgas PRR di Sumatra, menyusul Tapaktuan, Kutacane, Pining, dan Singkil. Pola kerja seragam diterapkan: penyiapan koridor logistik darurat, verifikasi lapangan kerentanan geologi, dan pengawalan ketat realokasi anggaran agar tidak terjadi kebocoran. Tim asistensi Kemendagri akan menetap di Bener Meriah selama masa rawan 60 hari untuk memastikan target jalur alternatif tidak meleset.
Comments (0)