Atlanta — Suporter Mesir Protes Kepemimpinan Wasit Usai Kalah dari Argentina
Hening sejenak menyelimuti tribune selatan Stadion Atlanta ketika peluit panjang Francois Letexier menutup laga. Rasa percaya diri yang sempat meluap di an
Hening sejenak menyelimuti tribune selatan Stadion Atlanta ketika peluit panjang Francois Letexier menutup laga. Rasa percaya diri yang sempat meluap di antara ribuan suporter Mesir mendadak luruh, berganti dengan ekspresi kecewa berat dan frustrasi yang terpancar jelas. Kekalahan 2–3 dari Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026, Selasa (7/7/2026) malam waktu setempat, bukan sekadar akhir perjalanan turnamen—itu adalah luka yang dibalut kemarahan. Bagi pendukung setia The Pharaohs, kepemimpinan wasit asal Prancis tersebut menjadi titik pusat kemarahan kolektif. Mereka merasa hasil akhir bukan semata karena permainan, melainkan dipengaruhi oleh serangkaian keputusan kontroversial yang memiringkan lapangan.
Jalannya laga dan momen krusial
Mesir sejatinya tampil disiplin sejak menit pertama. Mereka menahan agresivitas Argentina dan membalas melalui serangan balik langsung. Mohamed Salah membuka keunggulan di menit ke-23, memanfaatkan kelengahan lini belakang Argentina dan melepaskan penyelesaian dingin ke sudut jauh. Stadion meledak dalam sorak-sorai, bendera merah-hitam-putih berkibar di seluruh sudut. Namun euforia itu hanya bertahan enam menit, ketika Argentina menyamakan kedudukan lewat titik putih. Letexier menunjuk titik penalti setelah insiden jatuhnya Lautaro Martínez di kotak terlarang, meskipun tayangan ulang menunjukkan kontak minimal dengan bek Mohamed Abdelmonem. Keputusan itu langsung diperdebatkan oleh para pemain Mesir, tetapi tidak ada peninjauan VAR lebih lanjut.
Babak kedua berjalan lebih panas. Mesir kembali unggul melalui sundulan Mostafa Mohamed, tetapi Argentina lagi-lagi menyamakan dan kemudian membalikkan skor menjadi 3–2. Puncak kontroversi terjadi pada menit ke-83, ketika Salah dijatuhkan di kotak penalti Argentina, namun Letexier malah memberikan kartu kuning kepada sang kapten karena dianggap melakukan simulasi. Keputusan itu sontak menyulut kemarahan pemain dan suporter. Hingga akhir laga, Mesir gagal menyamakan kedudukan.
Kritik tajam terhadap sang pengadil
Letexier, yang memimpin pertandingan dengan pengalaman internasionalnya, menjadi sorotan utama pasca-laga. Beberapa keputusannya dinilai tidak konsisten dan mengabaikan insiden-insiden kunci yang merugikan Mesir, termasuk potensi kartu merah untuk tekel keras Rodrigo De Paul yang luput dari tinjauan serius. “Kami bukan kalah oleh tim yang lebih baik malam ini, kami kalah oleh kepemimpinan yang bias,” ujar Ibrahim Hassan, manajer tim nasional Mesir, dalam konferensi pers seusai pertandingan.
“Setiap kali kami membangun momentum, ada keputusan yang mengguncang kami. Saya tidak ingin berbicara soal niat, tetapi faktanya standar penilaian terasa berbeda bagi kedua tim. Ini menyakitkan karena pemain sudah memberikan segalanya.”
Kemarahan di tribune dan media sosial
Di tribune, dua suporter Mesir yang hadir, Eiad dan Mahmoud, tak kuasa menyembunyikan kekecewaan mereka. Air mata mengalir di pipi Eiad yang mengenakan syal Mesir, sementara Mahmoud meneriakkan protes keras ke arah lapangan. “Rasanya seperti ditusuk dari belakang. Kami sudah jauh-jauh datang, membayar mahal, dan disambut ketidakadilan seperti ini,” ungkap Eiad dengan suara bergetar.
Kemarahan juga mengalir deras di dunia maya. Tagar #FIFA_Wasit_Kontroversial dan #JusticeForEgypt menjadi trending di berbagai platform. Banyak warganet membagikan potongan video insiden dan menuntut evaluasi transparan terhadap kinerja Letexier.
Jalan panjang menuntut keadilan
Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) dikabarkan tengah menyusun pengaduan resmi kepada FIFA, termasuk rekaman video insiden-insiden yang dianggap tidak adil. Meskipun hasil pertandingan tidak akan berubah, tekanan publik dan dokumentasi insiden diharapkan dapat mendorong evaluasi standar perwasitan di turnamen-turnamen besar mendatang. Bagi suporter Mesir, kekalahan ini bukan hanya patah hati olahraga semata—ini adalah panggilan untuk keadilan yang terus didengungkan jauh setelah peluit akhir berbunyi.
Comments (0)