PM Australia: Uji Coba Rudal Nuklir Tiongkok Ancam Stabilitas Pasifik

Pada Rabu malam, pukul 23.45 waktu Sydney, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengeluarkan pernyataan tegas melalui konferensi pers darurat di Canb

Jul 08, 2026 - 11:36
0 0

Pada Rabu malam, pukul 23.45 waktu Sydney, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengeluarkan pernyataan tegas melalui konferensi pers darurat di Canberra. Ia menyebut uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) yang diluncurkan Tiongkok dari wilayah pedalamannya ke area samudra Pasifik selatan sebagai “sebuah eskalasi yang mengancam kestabilan kawasan dan bersifat provokatif secara terang-terangan”. Suaranya terdengar dingin, sementara layar di belakangnya menunjukkan peta zona eksklusif maritim Australia yang terpaut sekitar 1.800 kilometer dari zona target. Kata-kata itu menjadi headline global.

Hanya beberapa jam sebelumnya, pemimpin negara pulau kecil di Pasifik, Perdana Menteri Kepulauan Solomon Jeremiah Manele, menggemakan nada serupa. Dalam wawancara dengan Radio New Zealand International, ia menyatakan bahwa tindakan Beijing “bukanlah tindakan seorang teman” bagi negara-negara kepulauan yang tengah berjuang menghadapi krisis iklim, bukan ancaman nuklir. “Kami tidak pernah diajak berkonsultasi, tidak pernah diberi peringatan,” tambahnya, mengonfirmasi bahwa tidak ada Notice to Airmen (NOTAM) atau peringatan maritim resmi yang dikirimkan ke otoritas penerbangan sipil regional, kecuali yang dirilis di situs berbahasa Mandarin kurang dari 24 jam sebelumnya.

Detail Uji Coba: Jejak Rudal di Langit Pasifik

Data dari Pusat Analisis Pertahanan Strategis Australia (ASDAC) menunjukkan bahwa rudal tersebut diluncurkan dari fasilitas peluncuran bawah tanah di Provinsi Qinghai pada pukul 18.02 Waktu Standar Tiongkok. Berdasarkan pemodelan lintasan yang ditinjau oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Indonesia, rudal diperkirakan melesat dengan kecepatan puncak Mach 23, menempuh jarak lebih dari 12.000 kilometer sebelum hulu ledak latihannya memasuki atmosphere di atas koordinat 15°LS 160°BB, sekitar 600 kilometer di timur laut Kepulauan Cook.

Titik dampak berada di perairan internasional, tetapi jaraknya yang kurang dari 600 mil laut dari Zona Ekonomi Eksklusif Fiji telah memicu reaksi berantai. Sistem radar over-the-horizon Jindalee milik Australia mendeteksi manuver kendaraan masuk kembali (re-entry vehicle) yang melepaskan tiga umpan pengecoh (decoys)—sebuah fitur yang hanya ditemukan pada sistem senjata dengan kemampuan nuklir aktif untuk menembus pertahanan rudal balistik.

Dinamika Geopolitik: Poros Pasifik yang Terbelah

Kecaman terbuka dari Kepulauan Solomon menjadi sorotan khusus. Negara tersebut, yang pada 2022 menandatangani pakta keamanan kontroversial dengan Beijing, selama ini dianggap sebagai bagian dari “poros pro-Tiongkok” di Pasifik. Manele, yang menjabat setelah pemilu damai 2024, kini berada di antara tekanan domestik dan janji investasi infrastruktur Tiongkok.

“Ketika Tiongkok membangun jalan dan rumah sakit di sini, kami berterima kasih. Tapi ketika rudal mereka melintas di atas rumah leluhur kami tanpa izin, itu melukai martabat kami. Ini bukan diplomasi sahabat.” — Jeremiah Manele, wawancara RNZI, 3 April 2025.

Wartawan investigasi Lurusin mengonfirmasi dari dua sumber di Kementerian Luar Negeri Selandia Baru bahwa Wellington telah “mempertimbangkan untuk memanggil Kuasa Usaha Tiongkok” pada Jumat pagi, namun belum memutuskan langkah diplomatik formal. Sementara itu, Perancis—yang memiliki teritori Polinesia Prancis tak jauh dari area uji coba—mengirimkan sinyal keras melalui Kementerian Pertahanannya di Paris: sebuah pernyataan resmi menyebut uji coba itu “tidak bertanggung jawab dan tidak proporsional” di tengah ketegangan Selat Taiwan yang belum mereda.

Data Historis dan Risiko Eskalasi

Ini adalah uji coba ICBM Tiongkok pertama ke wilayah Pasifik selatan sejak 1980, ketika Dongfeng-5 mencapai area Fiji. Para analis dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mencatat, Tiongkok kini memiliki sekitar 500 hulu ledak nuklir dan diproyeksikan mencapai 1.000 pada 2030. Uji coba ini menggunakan rudal DF-41 yang mampu membawa hingga 10 hulu ledak termonuklir dan memiliki jangkauan 14.000 kilometer.

Namun, para pejabat pertahanan Australia yang dihubungi secara anonim mengungkapkan kekhawatiran lebih dalam: pola peluncuran yang hampir identik dengan skenario serangan pertama (first strike) terhadap pangkalan angkatan laut Pearl Harbor atau fasilitas di Guam. “Parameter lintasan, waktu penerbangan, dan pelepasan umpan cocok dengan doktrin counter-intervention yang dikembangkan PLA Rocket Force untuk menghalangi armada ketiga AS,” kata seorang analis dari ASDAC.

Reaksi Domestik dan Langkah Selanjutnya

Sementara itu, Kedutaan Besar Tiongkok di Canberra merilis pernyataan singkat bahwa uji coba tersebut “rutin, legal, dan sesuai dengan hukum internasional,” namun menolak menyebutkan apakah hulu ledak tersebut membawa muatan nuklir aktif. Australia sendiri sedang mempercepat program akuisisi kapal selam nuklir AUKUS yang pertama, sementara para pemimpin pulau Pasifik bersiap menggelar KTT darurat di Nadi, Fiji, pekan depan.

Di sinilah pertanyaan fundamental muncul: Apakah poros pulau kecil dunia akan menjadi panggung baru perang dingin versi abad ke-21? Atau masih ada celah bagi diplomasi preventif yang otentik? Heningnya malam di Honiara dan Canberra pagi ini mungkin menyimpan jawaban yang belum ingin diucapkan para pemimpin.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User