Pameran Tunggal Perdana Mandy CJ: Mencari Jalan Kembali ke Keberagaman
Di tengah senyapnya putih dinding galeri, tercermin warna-warni keyakinan yang saling berpelukan. Itulah suasana yang dibangun oleh seniman Mandy CJ dalam pameran tunggal perdananya, The Way Back, di ...
Di tengah senyapnya putih dinding galeri, tercermin warna-warni keyakinan yang saling berpelukan. Itulah suasana yang dibangun oleh seniman Mandy CJ dalam pameran tunggal perdananya, The Way Back, di Jakarta. Pameran ini menghadirkan 16 karya seni yang secara berani mengeksplorasi tema spiritualitas dan toleransi agama, mengajak para pengunjung untuk menelusuri kembali makna keberagaman dalam harmoni.
Berbeda dari pameran seni pada umumnya, The Way Back bukan sekadar ajang pamer estetika. Setiap goresan, tekstur, dan komposisi menjadi semacam doa visual yang menyuarakan pesan universal tentang persatuan di tengah perbedaan. Mandy CJ tidak menempatkan dirinya sebagai hakim atas kebenaran, melainkan sebagai pencari jalan yang terus bertanya dan merangkul.
Menafsir Ulang Spiritualitas
Dalam 16 karya yang dipamerkan, Mandy CJ menggunakan beragam medium, mulai dari lukisan akrilik di atas kanvas hingga instalasi media campuran. Salah satu sorotan adalah karya berjudul “Lingkar Rasa”, yang menggambarkan lingkaran-lingkaran konsentris dengan warna-warna yang merepresentasikan agama-agama besar di Indonesia. Lingkaran-lingkaran itu saling tumpang tindih, menciptakan area percampuran warna yang unik, seolah menegaskan bahwa batas-batas antariman sejatinya lentur.
Karya lain, “Gema Hening”, menampilkan deretan panel kayu yang dipenuhi kaligrafi abstrak dari berbagai tradisi, diletakkan berdampingan tanpa hirarki. Seorang pengunjung yang kami temui, Rina, mengaku tertegun. “Saya melihat bahwa di balik semua simbol itu, ada getaran yang sama: kerinduan akan Yang Maha Esa,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Toleransi
Pameran ini tidak berhenti pada konsep toleransi yang sekadar “membiarkan”. Mandy CJ mendorong pemaknaan yang lebih dalam: saling memahami dan merayakan perbedaan. Salah satu seri fotografinya yang berjudul “Titik Temu” menampilkan potret-potret individu dari latar belakang agama yang beragam, masing-masing memegang benda yang mereka anggap sakral. Namun, yang menarik, wajah mereka ditampilkan dalam ekspresi damai yang nyaris serupa. Mandy seolah ingin mengatakan bahwa di titik paling dalam dari keyakinan, manusia menemukan kedamaian yang sama.
Melalui pameran ini, Mandy juga menyentil keprihatinan akan menguatnya sekat-sekat identitas yang seringkali menimbulkan konflik. “Seni punya kekuatan untuk mencairkan kebekuan prasangka,” demikian pesan yang tertulis di dinding pintu masuk galeri.
Proses Kreatif yang Panjang
Di balik 16 karya tersebut, terdapat riset dan perenungan yang tidak singkat. Mandy CJ menghabiskan waktu berbulan-bulan mempelajari simbol-simbol keagamaan dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh lintas iman. Ia mengaku bahwa pameran ini adalah refleksi dari perjalanan pribadinya yang tumbuh di lingkungan multikultural. “Saya ingin menghadirkan ruang di mana orang bisa merasakan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah tembok, melainkan mozaik yang indah,” katanya dalam sesi pembukaan.
Teknik yang digunakan pun cukup eklektik. Ia menggabungkan lukisan manual dengan elemen digital printing, menciptakan lapisan-lapisan yang merefleksikan kompleksitas spiritualitas manusia. Karya instalasi “Jembatan Cahaya” menggunakan serat optik yang dianyam membentuk jaring, yang jika disinari akan menampilkan proyeksi kata-kata damai dalam beberapa bahasa kitab suci.
Selain aspek spiritual, Mandy juga menyelipkan kepedulian lingkungan dengan memanfaatkan material daur ulang pada beberapa karyanya. Ini sejalan dengan pandangan bahwa tanggung jawab spiritual juga mencakup hubungan manusia dengan alam semesta.
Panggilan untuk Berdialog
Salah satu tujuan utama The Way Back adalah membuka ruang dialog. Di sudut galeri, disediakan meja bundar dengan kursi-kursi yang mengelilingi sebuah buku besar berisi pertanyaan reflektif. Pengunjung diajak untuk menuliskan jawaban atau tanggapan mereka. Inisiatif ini, menurut Mandy, bertujuan agar pameran tidak berhenti sebagai monolog seniman, tetapi menjadi percakapan kolektif. “Toleransi sejati dimulai ketika kita mau mendengarkan,” imbuhnya.
Relevansi di Tengah Zaman
Di tengah kencangnya arus informasi yang sering memecah belah, pameran ini hadir sebagai oase. Kehadirannya mengingatkan kembali pada fondasi bangsa yang dibangun di atas keberagaman. Seorang pengamat seni, yang hadir pada pembukaan, menilai bahwa karya-karya Mandy CJ berhasil mentransformasikan isu sensitif menjadi pengalaman estetik yang menyentuh. “Ini bukan hanya pameran seni, tetapi sebuah gerakan kebudayaan yang mengajak kita pulang ke akar kemanusiaan,” komentarnya.
Dengan 16 karya yang intim namun universal, The Way Back telah menorehkan jejak penting di kancah seni rupa Indonesia. Mandy CJ membuktikan bahwa kanvas dan instalasi mampu menjadi altar dialog yang lebih jujur dan terbuka. Pameran ini adalah undangan untuk berjalan kembali, menapaki jalan sunyi menuju pemahaman bahwa di balik semua perbedaan, kita semua sedang mencari jalan yang sama: jalan kembali kepada kemanusiaan yang utuh.
Baca juga:
Comments (0)