Menteri ESDM Akui Stok PLTU Kritis, Evaluasi Menyeluruh Dilakukan Pascapadam Listrik Jawa
Lurusin.com melaporkan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan fakta mengejutkan terkait ketahanan energi nasional. Dalam evaluasi kinerja PT PLN (Persero) pasca
Lurusin.com melaporkan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan fakta mengejutkan terkait ketahanan energi nasional. Dalam evaluasi kinerja PT PLN (Persero) pasca kejadian pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa, Bahlil mengaku terkejut saat mengetahui stok batu bara untuk pembangkit listrik hampir mencapai titik kritis pada bulan Juni 2025 mendatang.
Menurut paparan Menteri Bahlil, kebutuhan total batu bara untuk seluruh pembangkit listrik milik PLN dalam kurun waktu satu tahun mencapai kurang lebih 154 juta metrik ton. Kebutuhan ini sebenarnya telah diantisipasi melalui kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang mewajibkan para eksportir batu bara untuk memasok kebutuhan dalam negeri. Berdasarkan kebijakan tersebut, PLN seharusnya mendapatkan pasokan batu bara dalam jumlah yang sangat mencukupi, yakni berkisar antara 180 hingga 190 juta metrik ton per tahun.
Namun demikian, realisasi di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan. Data yang diterima kementerian menunjukkan bahwa dari total pasokan yang telah ditetapkan dalam skema DMO, saat ini jumlah batu bara yang benar-benar telah diterima oleh PLN baru mencapai 141 juta metrik ton. Meskipun secara nominal angka tersebut terlihat besar, jika dikalkulasikan dengan tingkat konsumsi harian pembangkit, stok tersebut dinilai sangat mengkhawatirkan dan hanya mampu menopang operasional hingga sekitar pertengahan tahun.
Realokasi Pasokan dan Ancaman Defisit
Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa adanya selisih pasokan yang belum diterima tersebut memicu potensi defisit yang nyata. Sisa pasokan yang belum diterima PLN itu, menurut rencana, baru akan direalisasikan seiring dengan berjalannya aktivitas ekspor para pemasok. Pola distribusi supply-follows-export ini dinilai menjadi salah satu penyebab utama ketidakstabilan stok di tingkat pengguna akhir, khususnya PLN yang harus menjaga keandalan listrik nasional.
"Ini yang membuat saya kaget. Kok stok kita di lapangan ternyata bisa hampir habis di bulan Juni. Padahal secara perhitungan kewajiban DMO, jumlahnya sangat cukup. Artinya, ada persoalan dalam mekanisme penyaluran dan ketepatan waktu pengiriman yang harus segera kita benahi. Kami tidak ingin kejadian pemadaman seperti di Jawa terulang lagi," ujar Bahlil dalam keterangannya yang dikutip Lurusin.com.
Kejutan tersebut muncul setelah tim ESDM melakukan pengecekan langsung terhadap tingkat ketahanan stok di masing-masing pembangkit. Evaluasi ini merupakan buntut dari pemadaman listrik bergilir yang meresahkan masyarakat, terutama di wilayah Jawa yang merupakan pusat beban listrik nasional. Menteri Bahlil menegaskan bahwa kementeriannya tidak akan tinggal diam dan tengah merumuskan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat rantai pasok, termasuk kemungkinan penerapan sanksi tegas bagi pemegang izin ekspor yang lalai dalam memenuhi kewajiban DMO tepat waktu.
Pemerintah saat ini tengah menghitung ulang neraca sumber daya dan cadangan batu bara nasional serta melakukan audit terhadap kontrak-kontrak pengadaan PLN untuk memastikan agar krisis energi serupa tidak kembali terjadi dalam waktu dekat. Komitmen untuk menjaga keekonomian tarif listrik sembari memastikan kecukupan primer pembangkit menjadi tantangan besar yang harus segera dituntaskan.
Comments (0)