Mantan Ketua MK Apresiasi Peluncuran Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Jakarta

JAKARTA — Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H., memberikan apresiasi mendalam terhadap peluncuran kitab Ithafu Um

Jul 14, 2026 - 18:51
0 0
Mantan Ketua MK Apresiasi Peluncuran Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Jakarta

JAKARTA — Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H., memberikan apresiasi mendalam terhadap peluncuran kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa yang berlangsung khidmat di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, akhir pekan lalu. Kehadiran tokoh hukum sekaligus cendekiawan Muslim ini menambah bobot acara yang digagas oleh para ulama dan pecinta ilmu.

Kitab Rujukan Lintas Mazhab

Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa merupakan sebuah karya fikih perbandingan mazhab yang disusun oleh Almarhum Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Muthalib al-Indunisi al-Mandailingi, seorang ulama Nusantara yang lama menetap di Makkah. Kitab ini mengupas tuntas perbedaan pendapat di kalangan imam mazhab dalam berbagai persoalan ibadah dan muamalah, disertai dalil dan argumentasi yang mendalam. Peluncuran edisi terjemahan dan syarah (penjelasan) versi bahasa Indonesia yang digarap tim peneliti dari Jakarta Islamic Centre menjadi jembatan pengetahuan bagi umat Islam tanah air yang ingin memahami khazanah fikih klasik.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sambutan dari Ketua Yayasan Masjid Sunda Kelapa, Dr. H. Ahmad Fauzi, yang menyebut bahwa masjid bersejarah ini sengaja dipilih karena menjadi saksi bisu perkembangan dakwah dan intelektual Islam di ibu kota sejak era kolonial. “Kami ingin menegaskan bahwa masjid bukan sekadar tempat ibadah ritual, melainkan juga pusat peradaban dan pendidikan,” ujarnya.

Apresiasi dari Mantan Ketua MK

Dalam sambutannya, Jimly Asshiddiqie yang akrab disapa Prof. Jimly itu menekankan pentingnya khazanah kitab kuning sebagai akar hukum Islam yang mampu menjawab tantangan zaman. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap kedalaman ilmu penulis kitab yang tetap relevan hingga kini.

“Saya hadir bukan sebagai mantan hakim konstitusi, melainkan sebagai pembelajar. Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa ini luar biasa. Ia membuka kembali cakrawala pemikiran kita terhadap warisan intelektual ulama Nusantara yang diakui dunia. Inilah bukti bahwa Islam Indonesia memiliki akar keilmuan yang kokoh, egaliter, dan toleran. Saya berharap karya ini menjadi bacaan wajib bagi mereka yang ingin memahami Islam secara komprehensif tanpa terjebak pada klaim kebenaran tunggal,”

Pernyataan Jimly itu disambut tepuk tangan sekitar 300 hadirin yang memadati ruang utama masjid. Sejumlah akademisi, aktivis keislaman, dan mahasiswa terlihat antusias mengikuti sesi dialog yang dipandu Ustaz Dr. Muhammad Syafi’i Antonio.

Jembatan Pengetahuan di Era Digital

Tim penerjemah kitab, yang diwakili Ustazah Nur Hayati, menjelaskan bahwa proyek penerjemahan memakan waktu tiga tahun dan melibatkan ahli bahasa Arab klasik serta pakar fikih dari berbagai perguruan tinggi Islam. “Kami berusaha menjaga orisinalitas makna tanpa menghilangkan keindahan bahasa aslinya. Bahkan, disertasi segar tentang metodologi kitab ini kini telah tersedia di perpustakaan digital,” jelasnya.

Selain edisi cetak, panitia juga meluncurkan versi digital interaktif yang dilengkapi fitur pencarian tema dan catatan kaki dinamis. Langkah ini diambil untuk menjangkau generasi milenial dan Gen Z agar tidak asing dengan literatur induk keislaman. Acara diakhiri dengan doa bersama dan penyerahan kitab secara simbolis kepada perwakilan pesantren, kampus, dan komunitas diaspora.

Harapan untuk Peradaban Islam Indonesia

Peluncuran kitab di Masjid Sunda Kelapa ini dinilai para pengamat sebagai upaya strategis merevitalisasi tradisi intelektual Islam Nusantara yang mulai tergerus budaya instan. Dengan dikembangkannya kajian kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa, para ulama berharap lahir generasi pembelajar yang mampu mendialogkan teks klasik dengan realitas kekinian.

Prof. Jimly dalam penutup kembali mengingatkan bahwa kebangkitan Islam Indonesia harus ditopang oleh keseimbangan antara semangat nasionalisme dan keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. “Kita butuh lebih banyak karya seperti ini untuk memperkuat moderasi beragama. Tanpa ilmu, agama hanya jadi amarah,” tegasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User