Lonjakan Harga Daging Ayam di Medan Dipicu Kenaikan Biaya Produksi

Pasar tradisional di Kota Medan dan sekitarnya sejak awal pekan ini diwarnai dengan kenaikan harga daging ayam segar yang cukup tajam. Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa komoditas unggas ini meles...

Jul 14, 2026 - 18:45
0 0

Pasar tradisional di Kota Medan dan sekitarnya sejak awal pekan ini diwarnai dengan kenaikan harga daging ayam segar yang cukup tajam. Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa komoditas unggas ini melesat hingga menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, memicu keresahan di kalangan pedagang dan konsumen.

Fakta Lonjakan di Lapangan

Di Pasar Tradisional Petisah, salah satu pusat perbelanjaan bahan pangan terbesar di Medan, harga ayam broiler segar mencatat kenaikan hingga 42.000 rupiah per kilogram pada Selasa pagi. Padahal, sepekan sebelumnya harga masih bertahan di kisaran 34.000 hingga 35.000 rupiah. Artinya, terjadi peningkatan sekitar 20 persen dalam waktu singkat. Kondisi serupa teramati di Pasar Ramai, Pasar Simpang Limun, hingga Pasar Pagi Deli Tua. Bahkan di Pasar Induk Lau Cih, para pedagang besar mengaku harga dari pemasok sudah naik sejak akhir pekan lalu dan terus bertahan di level tinggi.

Seorang pedagang di Pasar Petisah, ketika dimintai keterangan, mengatakan bahwa ia terpaksa menaikkan harga jual karena stok dari agen semakin tipis dan biaya pembelian dari kandang sudah meroket. Pelanggan tetapnya, terutama para pemilik warung makan dan katering, mulai mengurangi volume pembelian dan mengeluhkan lonjakan yang dinilai terlalu mendadak.

Rantai Pasok dan Tekanan Biaya Produksi

Lonjakan harga daging ayam di Medan tidak dapat dilepaskan dari gangguan pada rantai pasok pakan ternak. Sejak awal tahun, harga jagung dan bungkil kedelai impor mengalami kenaikan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Peternak mandiri di daerah sentra seperti Lubuk Pakam, Deli Serdang, mengaku biaya operasional kandang membengkak hingga 30 persen. Banyak dari mereka yang mengurangi jumlah bibit yang ditebar karena margin keuntungan yang terus tergerus.

Selain pakan, lonjakan juga dipicu oleh penurunan pasokan dari luar daerah. Beberapa pemasok dari Sumatera Utara bagian selatan dan Riau melaporkan gangguan distribusi akibat cuaca buruk dan perbaikan infrastruktur jalan di jalur utama. Keterlambatan pengiriman ini membuat stok di gudang-gudang penyuplai menipis, sehingga menciptakan tekanan artifisial pada harga. Di sisi lain, permintaan dari sektor hotel, restoran, dan kafe di kawasan wisata Brastagi dan Danau Toba yang mulai meningkat menjelang musim liburan juga turut memperketat ketersediaan pasokan di Medan.

Dampak terhadap Konsumen dan UMKM

Kenaikan harga ini langsung dirasakan oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengandalkan daging ayam sebagai bahan baku utama. Seorang pemilik usaha ayam geprek di kawasan Medan Johor mengaku harus mengurangi porsi atau menaikkan harga jual per porsi yang berisiko mengusir pelanggan setia. Pedagang bakso dan mie ayam juga menghadapi dilema serupa, sementara ibu rumah tangga terpaksa mengalihkan pilihan protein ke tahu, tempe, atau telur yang harganya relatif lebih stabil.

Data dari Sistem Informasi Harga Pangan Provinsi Sumatera Utara menunjukkan bahwa konsumsi daging ayam di Kota Medan rata-rata mencapai 250 ton per hari. Dengan kenaikan harga seperti saat ini, daya beli masyarakat menjadi tertekan, terutama bagi kalangan berpenghasilan rendah yang mengandalkan ayam sebagai sumber protein hewani termurah.

Respons dan Prospek

Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara melalui tim pantau harganya menyatakan telah melakukan koordinasi dengan distributor dan asosiasi peternak untuk memastikan stok dalam kondisi aman. Sebuah pertemuan antara pemerintah daerah dan perwakilan peternak dijadwalkan dalam waktu dekat untuk membahas intervensi pasar, termasuk kemungkinan subsidi transportasi pakan bagi peternak rakyat. Namun, belum ada keputusan konkret yang diumumkan.

Beberapa analis komoditas menilai bahwa lonjakan ini bersifat musiman dan diperkirakan akan mereda dalam dua hingga tiga pekan ke depan, seiring panen jagung lokal yang mulai memasuki masa panen raya dan normalisasi jalur distribusi. Meski demikian, jika ketidakpastian nilai tukar dan cuaca terus berlanjut, konsumen di Medan mungkin harus bersiap menghadapi harga daging ayam di atas 40.000 rupiah setidaknya hingga akhir bulan ini.

Pasar tradisional tetap menjadi barometer utama dinamika harga pangan di Medan, dan para pedagang berharap ada terobosan cepat dari pemerintah agar situasi tidak memperburuk inflasi di level rumah tangga.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User