Jakarta — Di ruang latihan sebuah rumah produksi di kawasan Jakarta Selatan, Lukman Sardi duduk sendirian dengan headset tertancap di telinga. Dari pengeras suara terdengar rangkaian kata asing yang berulang-ulang, pelan dan penuh tekanan. Ia menirukannya dengan suara berat, lalu mengulang lagi dari awal. Malam itu, dan puluhan malam setelahnya, aktor berusia 47 tahun itu sedang belajar doa bahasa Latin dari nol — bukan untuk syuting, melainkan untuk mempersiapkan peran yang menurutnya paling menantang dalam kariernya.
Lukman Sardi dipastikan bermain dalam film horor Kuasa Gelap 2, sekuel dari film yang menyita perhatian penonton Indonesia beberapa tahun lalu. Dalam sekuel ini, ia memerankan sosok Romo Rendra, seorang imam muda yang mendapati dirinya terlibat langsung dalam ritual eksorsisme — pengusiran setan — terhadap seorang anak perempuan. Adegan itulah yang menjadi jantung cerita, dan sekaligus menjadi mimpi buruk akting bagi Lukman.
“Saya harus hafal doa Latin untuk adegan eksorsisme. Itu bukan hal yang bisa saya akali dengan mulut kosong,” ujar Lukman saat ditemui di sela-sela sesi latihan. Ia berbicara tanpa dramatisasi, dengan nada tenang seorang aktor yang tahu persis betapa beratnya pekerjaan di depannya.
Tiga Bulan Hafalan di Luar Jam Kerja
Proses persiapan itu ternyata tidak berjalan singkat. Lukman mengaku menghabiskan sekitar tiga bulan belajar doa bahasa Latin secara intensif, dilakukan di luar jadwal syuting dan kesibukan lainnya. Ia bekerja bersama seorang konsultan yang memahami liturgi, sekaligus memastikan pelafalan dan penekanan tiap kata tidak jatuh ke ranah komedi tanpa disengaja.
Menurutnya, doa eksorsisme bukan sekadar rangkaian kata yang dibaca cepat. Ada struktur, ada tempo, ada momen di mana suara harus dinaikkan dan momen di mana ia harus hampir berbisik. Ketepatan pelafalan menjadi krusial karena penonton Indonesia semakin paham bahwa adegan keagamaan yang keliru bisa merusak kredibilitas film secara keseluruhan.
“Kalau salah frasa, orang yang paham akan langsung tahu. Dan film horor yang bagus itu harus dipercaya penontonnya. Sekali tidak percaya, suasana horornya buyar,” katanya.
Lukman menjelaskan bahwa tantangan terbesarnya bukan pada hafalan semata, melainkan pada kombinasi antara keyakinan karakter dan ketegangan situasi. Romo Rendra harus terdengar meyakinkan sekaligus berada di ambang ketakutan. Menyeimbangkan dua emosi itu dalam satu adegan, menurut Lukman, membutuhkan latihan berulang yang melelahkan secara mental.
“Saya tidak mau memerankan Romo Rendra seperti aktor yang sedang membaca naskah. Saya mau penonton merasakan bahwa orang ini benar-benar percaya pada apa yang ia ucapkan, bahkan ketika ia sendiri sedang ketakutan.”
Menghidupkan Kembali Aura Kuasa Gelap
Kuasa Gelap 2 datang dengan beban ekspektasi yang tidak ringan. Film pertamanya berhasil menarik penonton besar dan meninggalkan kesan kuat sebagai salah satu film horor religius Indonesia yang diperbincangkan. Oleh karena itu, sekuel ini tidak hanya dituntut untuk menakut-nakuti, tetapi juga untuk memperdalam cerita serta memperkuat karakter-karakter barunya.
Kehadiran Romo Rendra diharapkan memberi dimensi baru pada semesta cerita. Sosok imam muda dengan latar belakang yang belum sepenuhnya terungkap itu diposisikan sebagai tokoh yang memikul konsekuensi dari peristiwa di film sebelumnya. Peran Lukman Sardi, dalam konteks ini, menjadi jembatan emosional antara masa lalu cerita dan konfrontasi yang sedang dibangun.
Sutradara dan tim produksi memilih Lukman bukan tanpa alasan. Selama kariernya, ia dikenal sebagai aktor yang teliti mempersiapkan peran, mulai dari bahasa tubuh, aksen, hingga detail-detail kecil yang sering terlewat. Rekam jejak itu membuat keputusan menghadirkannya sebagai Romo Rendra terasa cocok.
“Saya selalu percaya bahwa peran itu harus disiapkan, bukan ditunggu. Kalau menunggu inspirasi datang waktu kamera menyala, itu sudah terlambat,” ujarnya.
Tantangan Akting di Tanah yang Salah
Ada satu hal yang membuat persiapan ini terasa lebih rumit: adegan eksorsisme dalam konteks Indonesia memiliki sensitivitas tersendiri. Lukman menyadari bahwa penonton akan menilai bukan hanya kemampuan aktingnya, tetapi juga keseriusan tim produksi dalam menampilkan ritual keagamaan.
Ia menyebutkan bahwa diskusi panjang sempat berlangsung sebelum adegan tersebut disetujui untuk diproduksi. Tim produksi menyiapkan referensi dari berbagai sumber, memastikan bahwa apa yang tampil di layar tidak sekadar sensational, tetapi tetap berpijak pada bentuk yang bisa diterima penonton.
“Kami tidak ingin film ini jadi bahan kontroversi yang justru menutupi kerja keras semua orang,” kata Lukman.
Tiga bulan belajar doa Latin, puluhan sesi latihan, dan berjam-jam diskusi bersama tim — semua itu pada akhirnya berujung pada satu adegan yang akan ditonton penonton dalam hitungan menit. Namun bagi Lukman Sardi, justru jarak antara persiapan panjang dan momen singkat di layar itulah inti dari pekerjaan seorang aktor.
Kuasa Gelap 2 dijadwalkan tayang dalam waktu dekat, dan penonton sudah bisa menantikan apakah persiapan seorang Romo Rendra berhasil membuat mereka benar-benar merinding — atau justru bertanya-tanya apa yang terjadi di balik layar.
Comments (0)