Krisis Mental Siswa India di Tengah Persaingan Ujian Ekstrem

Lurusin.com, Jakarta - Ketika Nelima Patel yang berusia 18 tahun duduk untuk mengikuti kembali ujian masuk kedokteran di National Eligibility cum Entrance Test (NEET) di kota Ahmedabad, India bagia

Jul 08, 2026 - 05:41
0 0
Krisis Mental Siswa India di Tengah Persaingan Ujian Ekstrem

Lurusin.com, Jakarta - Ketika Nelima Patel yang berusia 18 tahun duduk untuk mengikuti kembali ujian masuk kedokteran di National Eligibility cum Entrance Test (NEET) di kota Ahmedabad, India bagian barat, ia sudah merasa sangat lelah bahkan sebelum ujian dimulai. Ujian yang semula digelar pada awal Mei 2026 itu dibatalkan setelah muncul dugaan kebocoran soal. Patel pun harus kembali mempersiapkan diri dari awal, di tengah ketidakpastian, kelelahan, dan kecemasan yang terus membebani.

"Secara mental itu sangat melelahkan, tetapi saya harus tetap fokus saat mengerjakan ujian," kata Patel kepada media kami. "Terlalu banyak persiapan yang harus saya lalui."

Kasus yang dialami Patel bukanlah hal yang langka di India. Negara dengan populasi terbesar di dunia itu memiliki sistem pendidikan yang sangat kompetitif, terutama dalam ujian masuk perguruan tinggi bergengsi seperti kedokteran dan teknik. NEET, yang merupakan pintu gerbang menuju karir medis, diikuti oleh lebih dari 2 juta siswa setiap tahunnya, memperebutkan hanya sekitar 100 ribu kursi. Tekanan untuk meraih nilai tinggi tak jarang berdampak buruk pada kesehatan mental para pelajar.

Laporan dari media kami mencatat, insiden kebocoran soal atau pembatalan ujian seperti yang terjadi pada NEET 2026 semakin menambah beban psikologis siswa. Mereka tidak hanya harus menghadapi ketatnya persaingan, tetapi juga ketidakpastian administratif yang memaksa mereka untuk terus-menerus bersiap tanpa kepastian jadwal yang jelas. Para psikolog di India melaporkan peningkatan kasus kecemasan, depresi, dan bahkan keinginan bunuh diri di kalangan siswa yang gagal atau terhambat ujian.

Menurut data dari National Crime Records Bureau (NCRB) India, bunuh diri di kalangan pelajar meningkat lebih dari 20% dalam lima tahun terakhir. Tekanan akademik dituding sebagai salah satu penyebab utamanya. Para orang tua pun sering kali tanpa sadar menambah beban dengan ekspektasi tinggi agar anak mereka menjadi dokter atau insinyur, profesi yang dianggap paling bergengsi di masyarakat India.

Fenomena "Kota Pendidikan" dan Risiko Mental

Kota-kota seperti Kota di Rajasthan, yang dijuluki "pabrik ujian", menjadi saksi bagaimana ribuan siswa rela meninggalkan kampung halaman untuk belajar hingga 16 jam sehari demi mempersiapkan ujian. Mereka tinggal di asrama-asrama sederhana, jauh dari keluarga, dengan rutinitas yang monoton dan tekanan yang luar biasa. Bagi sebagian orang, kegagalan dalam ujian bukan hanya kehilangan peluang, melainkan juga aib bagi keluarga.

Seorang psikolog klinis di New Delhi yang diwawancarai media kami, Dr. Ananya Sharma, menjelaskan bahwa otak remaja belum sepenuhnya matang dalam hal regulasi emosi, sehingga beban stres kronis dapat memicu gangguan mental serius. "Mereka menginternalisasi kegagalan sebagai cacat pribadi, bukan sebagai bagian dari sistem yang tidak sempurna," ujarnya.

Sementara itu, pemerintah India telah berupaya mengatasi masalah kesehatan mental siswa dengan menyediakan layanan konseling dan hotline. Namun, stigma seputar kesehatan mental masih menjadi penghalang utama. Banyak siswa enggan mencari bantuan karena takut dianggap lemah atau tidak mampu.

Nelima Patel sendiri mengaku beruntung masih bisa bertahan. Ia berharap perjalanannya dapat menjadi pelajaran bagi sistem pendidikan agar lebih memperhatikan kesejahteraan siswa. "Kami bukan mesin. Kami butuh istirahat dan dukungan," tandasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Investigasi. Reporter menelusuri klaim publik secara mendalam.

Comments (0)

User