Jumlah Uang Beredar Naik 10,8% Jadi Rp 10.415 Triliun!
Lurusin.com, Jakarta – Likuiditas perekonomian Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada Mei 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.415,9 triliun,
Lurusin.com, Jakarta – Likuiditas perekonomian Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada Mei 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.415,9 triliun, tumbuh 10,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat 9,2% (yoy), menunjukkan akselerasi likuiditas di sistem keuangan.
Data yang dihimpun media kami menunjukkan, pertumbuhan M2 tersebut ditopang oleh kenaikan uang beredar sempit (M1) yang melesat 15,3% (yoy) dan uang kuasi yang tumbuh 6% (yoy). M1 mencakup uang kartal dan giro rupiah yang siap digunakan untuk transaksi, sementara uang kuasi meliputi tabungan dan deposito berjangka. Kenaikan M1 yang lebih tinggi mengindikasikan meningkatnya permintaan uang tunai dan giro oleh masyarakat dan dunia usaha.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan dua pendorong utama di balik pengembangan ini.
“Perkembangan M2 pada Mei 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan aktiva luar negeri bersih,”kata Denny dalam keterangan tertulis yang diterima Lurusin.com, Selasa (23/6/2026).
Dua Motor Pertumbuhan: Kredit dan Aktiva Luar Negeri
Komponen penyaluran kredit menjadi kontributor signifikan. Kredit yang disalurkan oleh perbankan meningkat sejalan dengan pulihnya permintaan dari sektor korporasi maupun rumah tangga. Pertumbuhan kredit yang sehat ini sejalan dengan upaya BI dan pemerintah dalam menjaga intermediasi perbankan. Sementara itu, aktiva luar negeri bersih yang turut mendorong M2 menunjukkan bahwa posisi cadangan devisa dan aliran modal asing masih berada dalam kondisi surplus. Hal ini mengindikasikan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik tetap kuat.
Peningkatan M2 tidak hanya mencerminkan banyaknya uang yang beredar, tetapi juga menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi, konsumsi, dan investasi sedang bergerak lebih cepat. Meski demikian, likuiditas yang tinggi perlu diiringi pengelolaan yang hati-hati agar tidak menimbulkan tekanan inflasi berlebihan. BI secara konsisten menjaga stabilitas melalui operasi moneter dan kebijakan suku bunga yang akomodatif namun terukur.
Respons Bank Sentral dan Prospek Ekonomi
Menanggapi perkembangan ini, bank sentral dipastikan akan terus memantau dinamika moneter dan makroekonomi. Pertumbuhan M2 yang berada di atas 10% secara tahunan ini masih berada dalam koridor yang terkendali, sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Stance kebijakan BI yang saat ini pro-stabilitas diyakini mampu menjaga keseimbangan antara pendorongan ekonomi dan pengendalian harga.
Bagi pelaku pasar dan pengambil kebijakan, data M2 menjadi indikator penting untuk mengukur potensi tekanan harga dan arah suku bunga ke depan. Lurusin.com akan terus memantau perkembangan likuiditas ini dan dampaknya pada perekonomian nasional. Dengan fundamental yang terjaga, pertumbuhan uang beredar diharapkan dapat menopang ekspansi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Comments (0)