Hari Pertama Sekolah, Orang Tua Lebih Cemas Ketimbang Anak

Suasana pagi di seantero negeri pada Senin, 13 Juli 2026, terasa berbeda. Ratusan ribu anak melangkahkan kaki ke gerbang sekolah, menandai babak baru dalam

Jul 13, 2026 - 08:03
0 0

Suasana pagi di seantero negeri pada Senin, 13 Juli 2026, terasa berbeda. Ratusan ribu anak melangkahkan kaki ke gerbang sekolah, menandai babak baru dalam kalender pendidikan Indonesia. Hari pertama masuk sekolah selalu menyimpan sejuta cerita. Ada anak yang sudah berdiri dengan seragam rapi sejak subuh, tak sabar bertemu teman-teman baru. Namun, ada pula yang mendadak “demam panggung”, merengek minta ditunda sehari lagi.

Di balik tawa dan tangis anak-anak itu, terselip fenomena yang jarang diulas: orang tua justru lebih gelisah daripada sang buah hati. Sebuah ironi yang diamini oleh banyak keluarga di Indonesia. Hari pertama sekolah bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan panggung kecemasan bagi para ibu dan ayah yang merasa sedang “melepas” anaknya ke dunia baru.

Antara Bekal Bintang Lima dan Kaus Kaki yang Hilang

Di banyak rumah, pemandangan jelang hari pertama sekolah laksana persiapan operasi militer. Tas yang sudah dicek tiga kali—buku tulis, pensil, kotak makan, botol minum—seolah belum cukup. Bekal dibuat dengan standar restoran: nasi karakter, buah potong, dan camilan organik. Sementara itu, sang anak masih santai menonton televisi sambil bertanya, “Mana kaus kakiku?”—sebuah benda yang entah bagaimana menghilang ke dimensi lain.

Rianti (34), seorang ibu dua anak di Tangerang, mengaku sudah “deg-degan” sejak seminggu sebelumnya. “Saya sampai susah tidur. Takut nanti anak saya nggak betah, nangis, atau malah nggak mau ditinggal,” tuturnya sambil tersenyum malu. Pengalaman serupa disampaikan oleh Dodi (38), ayah tunggal di Bandung, yang mengaku menyetrika seragam anaknya berulang kali dan menyiapkan daftar “doa-doa” kecil di saku tas si kecil.

“Saya lebih nervous dari anak saya. Dia happy-happy aja, malah saya yang kayak mau ujian nasional,” celetuk Dodi.

Realita ini menunjukkan bahwa kecemasan perpisahan (separation anxiety) tak hanya dialami anak, tetapi juga orang tua. Psikolog anak dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Andini Kusumawardhani, menjelaskan bahwa fenomena “parental first-day anxiety” semakin umum di era pengasuhan modern. “Orang tua masa kini lebih terlibat secara emosional dan cenderung memproyeksikan ketakutan mereka sendiri ke anak. Mereka khawatir anak di-bully, ditolak teman, atau kesulitan belajar,” jelasnya.

Mengapa Orang Tua Justru Lebih Cemas?

Ada beberapa faktor yang memperkuat kecemasan orang tua pada hari pertama sekolah:

  • Transisi Fase Perkembangan: Hari pertama sekolah menandai anak memasuki lingkungan sosial yang lebih luas. Ini adalah “pintu keluar” dari zona nyaman keluarga, yang memicu kecemasan naluriah pada orang tua.
  • Tekanan Sosial dan Kompetisi: Norma tidak tertulis bahwa “anak harus pintar, populer, dan berprestasi” membuat orang tua terbebani. Mereka membandingkan dengan anak tetangga atau unggahan di media sosial yang menampilkan momen hari pertama yang sempurna.
  • Keterbatasan Kontrol: Di rumah, orang tua bisa mengendalikan hampir semua aspek. Ketika anak masuk sekolah, kendali itu berkurang drastis, menimbulkan rasa takut kehilangan.

Menurut survei kecil yang dilakukan oleh komunitas parenting “Rumah Tangga Hebat” pada tahun 2026, 65% responden ibu mengaku lebih stres dibanding anaknya saat hari pertama masuk SD. Hanya 12% yang mengatakan anaknya yang lebih gugup. Sisanya menyatakan keduanya sama-sama cemas.

Momen Emas Bagi Guru

Di sisi lain, hari pertama sekolah adalah momentum kritis untuk membangun kesan pertama yang positif. Guru bukan hanya pembuka gerbang, melainkan arsitek suasana psikologis kelas. Penelitian pendidikan menunjukkan bahwa interaksi hangat di hari pertama dapat meningkatkan kepercayaan diri anak dan menurunkan tingkat kecemasan—baik pada siswa maupun orang tua.

“Kami sengaja menyambut siswa dengan senyum, menyebut nama mereka satu per satu, dan mengajak tur kecil keliling kelas. Ini membuat anak merasa diakui dan aman,” papar Nurhayati, guru SD Negeri 1 Pandeglang, yang telah 15 tahun mengajar kelas 1. Metode MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) yang mengedepankan pendekatan ramah anak kini menjadi standar di banyak sekolah, menggantikan perploncoan zaman dulu yang menakutkan.

Namun, guru juga mengakui tantangan: menenangkan orang tua yang enggan pulang dan terus mengintip dari balik jendela. “Biasanya hari pertama, banyak ibu yang nangis di depan kelas. Kami harus meyakinkan mereka bahwa anak baik-baik saja,” tambah Nurhayati.

Merayakan Hari Pertama dengan Sehat

Hari pertama sekolah idealnya menjadi perayaan tumbuh kembang, bukan arena kecemasan. Para ahli menyarankan beberapa langkah praktis untuk meredakan ketegangan: ajak anak berbicara tentang ekspektasi dengan nada ringan, ciptakan ritual khusus seperti sarapan bersama atau foto pagi, dan yang terpenting, orang tua harus tenang karena anak adalah “spons emosi” yang menyerap gelombang perasaan di sekitarnya.

“Orang tua yang tenang cenderung menghasilkan anak yang tenang. Jadi, sebelum menenangkan anak, tenangkan dulu diri sendiri,” tegas Dr. Andini.

Pada akhirnya, setiap tetes air mata di hari pertama—entah dari anak atau orang tua—adalah bagian dari perjalanan panjang pendidikan. Justru dalam momen-momen genting itu, ikatan keluarga sesungguhnya diuji dan diperkuat. Maka, di pagi yang cerah pada 13 Juli kemarin itu, jutaan doa terpanjat dari hati orang tua untuk anak-anak yang melangkah kecil menuju masa depan. Sementara bekal tadi pagi mungkin sudah habis sebelum bel istirahat berbunyi.

[SOCIAL_TWEET]: Hari pertama sekolah, siapa yang lebih deg-degan? Ternyata, mayoritas orang tua lebih cemas daripada anaknya! Simak cerita pagi pertama masuk sekolah dan tips agar tetap tenang. #HariPertamaSekolah #Parenting #TahunAjaranBaru[SOCIAL_TG]: 🎒💦 Hari pertama sekolah tahun ini unik: orang tua lebih nervous daripada anaknya sendiri! Dari bekal bintang lima sampai kaus kaki yang hilang, semua jadi cerita. Apakah kamu juga begitu? #Parenting #Pendidikan

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User