Gunung Anak Krakatau Naik Status Siaga Pascaterdeteksi Satelit
Lampung Selatan — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali menggeliat. Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)
Lampung Selatan — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali menggeliat. Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status gunung api yang berada di Selat Sunda itu dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada Rabu (18/3/2026) pukul 15.00 WIB. Kenaikan status ini terjadi setelah serangkaian letusan terekam jelas oleh sensor seismograf dan dikonfirmasi oleh citra satelit resolusi tinggi milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) serta satelit Sentinel-2 milik European Space Agency (ESA).
Deteksi Satelit Ungkap Peningkatan Intens
LAPAN melaporkan bahwa sensor thermal pada satelit Landsat dan Sentinel mendeteksi anomali suhu permukaan di sekitar kawah Anak Krakatau sejak sepekan terakhir. Suhu yang terukur melonjak dari semula rata-rata 45 derajat Celsius menjadi 98 derajat Celsius pada 16 Maret lalu. Citra visual juga memperlihatkan kolom abu vulkanik setinggi 2.300 meter dari permukaan laut yang tertiup angin ke arah barat laut. Kepala PVMBG, Hendra Gunawan, menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas ini dipicu oleh pergerakan fluida magmatik yang terdeteksi melalui tremor menerus dengan amplitudo dominan 12–35 mm. "Dari citra satelit kita bisa lihat ekstrusi magma terus naik ke permukaan. Ini berbeda dengan erupsi 2018 yang bersifat freatomagmatik karena interaksi air laut. Kali ini, sumber magmatiknya lebih dalam dan pasokan magmanya stabil," terangnya dalam keterangan resmi.
Kronologi Kenaikan Status
Rangkaian kejadian dimulai pada 13 Maret, ketika seismogram merekam peningkatan gempa hembusan dari rata-rata 6 kali per hari menjadi 40 kali per hari. Pada malam harinya, letusan abu disertai lontaran lava pijar membara teramati secara visual dari pos pemantau di Pulau Sertung. Warga di pesisir Lampung dan Banten mengaku mendengar dentuman keras pada 15 Maret pukul 01.12 WIB yang sempat memicu kepanikan. Setelah melakukan evaluasi menyeluruh, PVMBG akhirnya menaikkan status pada 18 Maret, disertai rekomendasi agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah utama dan memperpanjang larangan bagi kapal nelayan menjadi 8 kilometer.
Tanggap darurat telah disiapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD setempat. Peringatan juga diberikan kepada maskapai penerbangan untuk mewaspadai abu vulkanik yang dapat memengaruhi rute penerbangan di sekitar Selat Sunda, meskipun saat ini bandara Radin Inten II dan Soekarno-Hatta belum memberlakukan NOTAM pembatasan penerbangan. "Kami terus memonitor setiap jam. Jika status naik ke Awas (Level IV), maka evakuasi di pulau-pulau kosong sekitar Krakatau akan langsung diperintahkan, meski tidak ada permukiman tetap," tambah juru bicara BNPB, Abdul Muhari.
Pembelajaran dari Tsunami 2018
Peningkatan status Anak Krakatau ini sontak membangkitkan ingatan publik akan bencana tsunami Selat Sunda pada Desember 2018 yang dipicu oleh longsoran flank gunung saat erupsi. Meski saat ini karakter erupsinya berbeda, PVMBG belum bisa memastikan apakah potensi longsoran lereng yang bisa memicu tsunami benar-benar rendah. Ahli geologi dari ITB, Dr. Mirzam Abdurrachman, mengatakan bahwa morfologi Anak Krakatau yang terus tumbuh secara tidak stabil tetap menyimpan risiko. "Meski dinding kawah saat ini relatif landai dibanding sebelum 2018, proses ekstrusi yang cepat bisa memperlemah struktur lereng. Kita tidak boleh lengah," ujarnya. Saat ini, tim gabungan juga memasang buoy pendeteksi tsunami tambahan dan GPS di sisi selatan gunung untuk memantau deformasi lereng secara real-time.
Sementara itu, masyarakat di pesisir Anyer-Carita dan Kalianda diminta tetap tenang namun siaga. Beberapa sekolah di Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, sudah mulai menggelar simulasi evakuasi mandiri. Pemerintah Provinsi Banten juga menyiagakan tempat evakuasi akhir di ketinggian 20 meter dpl. Hingga malam ini, embusan abu tipis masih terus terjadi dan sinar api diam terpantau di puncak. Anak Krakatau sekali lagi menegaskan bahwa Selat Sunda tetap menjadi laboratorium geologi paling aktif di Indonesia.
[SOCIAL_TWEET]: Gunung Anak Krakatau naik status jadi Siaga (Level III) setelah satelit deteksi lonjakan suhu kawah. Radius bahaya ditetapkan 5 km. Belajar dari tsunami 2018, BNPB siagakan buoy dan evakuasi. #AnakKrakatau #Siaga #TsunamiAware[SOCIAL_TG]: ⚠️ UPDATE: Gunung Anak Krakatau naik status SIAGA (Level III). Abu vulkanik capai 2,3 km. Warga pesisir Lampung dan Banten diminta siaga. Jauhi radius 5 km! 🔴 #AnakKrakatau #Erupsi
Comments (0)